Aroma kaldu gurih dan bumbu khas makanan Korea selalu sukses memenuhi seisi restoran pusat milik Kim Seokjin di jantung kota Seoul.
Siang itu, suasana restoran JJIN cukup ramai, namun masih dalam kendali yang teratur dan hangat一persis seperti kepribadian pemiliknya sendiri.
Kemudian di salah satu meja sudut yang agak tenang, duduk seorang pemuda jangkung berwajah manis dengan kacamata berbingkai bulat.
Nakamura Aichi, atau yang lebih nyaman disapa Kim Namjoon, sedang menikmati waktu santainya. Anak tunggal dari menteri perdagangan Jepang dan merupakan seorang produser musik jenius itu sengaja kabur sejenak ke Seoul untuk liburan. Tanpa jas formal, tanpa pengawalan ketat, dan hanya ada Namjoon, buku catatannya, berserta semangkuk besar galbitang yang terus mengepulkan uap hangat bersama dengan hidangan kecil lainnya.
Lalu di dekat meja kasir, Kim Seokjung一kakak laki-laki Seokjin一sedang memeriksa daftar pesanan. Matanya kemudian tidak sengaja bergulir ke arah meja sudut. Seokjung sontak mengernyit, memicingkan mata, lalu terbelalak sedetik berikutnya. Sebagai orang yang sering mengurusi manajemen dan media sosial restoran, ia tentu mengenali wajah yang sering wara-wiri di majalah musik internasional itu.
"Astaga, itu kan ..." Seokjung bergumam, lalu langsung berbalik dan setengah berlari menuju dapur privat tempat adiknya berada.
Di dalam ruangan, Seokjin sedang sibuk menata piring dengan apron yang terikat rapi di pinggangnya yang tegap.
"Jin! Seokjin! Keluar sebentar, cepat!" panggil Seokjung setengah berbisik tapi penuh penekanan.
Seokjin menoleh seraya mengerutkan dahi dengan heran. "Ada apa, Hyung? Ada komplain pelanggan?"
"Bukan! Itu ... produser musik favoritmu. Pianis yang albumnya selalu kau putar sampai kasetnya hampir aus itu. Dia ada di meja nomor tujuh!"
Mata Seokjin langsung membulat sempurna. Bahunya yang lebar menegang sesaat sebelum matanya beralih menjadi binar-binar penuh kebahagiaan. "Namjoon?! Kim Namjoon di sini?!"
Tanpa babibu lagi, Seokjin langsung melepas apronnya secepat kilat, tak lupa merapikan kaus putih dan rambutnya yang sedikit berantakan di depan cermin kecil dapur selama sejenak. Jantungnya pun mendadak berdegup dua kali lebih cepat, mengalahkan ritme lagu uptempo yang paling cepat sekalipun.
Dengan langkah yang diusahakan tetap tenang dan elegan一meski aslinya ia ingin melompat一Seokjin berjalan menghampiri meja nomor tujuh, didampingi sang kakak.
"Permisi, selamat siang," sapa Seokjung dengan sopan, membuat Namjoon yang baru saja meletakkan sendoknya mendongak.
"Ah, selamat siang," balas Namjoon dalam bahasa Korea yang sangat fasih, lengkap dengan senyuman canggung namun sopan yang memamerkan sepasang lesung pipi dalamnya.
"Maaf mengganggu waktu makannya, Tuan Nakamura ... atau Tuan Kim?" Seokjung tersenyum ramah. "Saya Seokjung, manajer di sini. Lalu ini adik saya, Seokjin. Dia pemilik sekaligus kepala koki restoran ini, dan ... dia adalah penggemar berat karya-karyamu."
Seokjin mengambil langkah maju. Senyumnya yang tampan dan ramah merekah sempurna, meski telinganya mulai memerah karena gugup. "Halo, Namjoon-ssi. Sebuah kehormatan besar Anda mau mampir ke restoran kecil kami. Saya benar-benar mengagumi semua musik yang Anda buat, terutama permainan piano Anda di album terakhir."
Mendengar pujian yang tulus itu, semburat merah tipis muncul di pipi Namjoon. Sang produser muda yang biasanya menghadapi pebisnis dan musisi papan atas dengan tenang, mendadak merasa salah tingkah di depan pemilik restoran yang luar biasa tampan ini.
"Ah, ariga一maksudku, terima kasih banyak," jawab Namjoon sedikit terbata, membuat Seokjin diam-diam menahan gemas karena lidah sang produser sempat terpeleset. "Makanannya sangat enak. Saya sengaja datang ke sini karena banyak yang merekomendasikannya saat saya di Tokyo."
"Benarkah? Syukurlah kalau cocok dengan selera Anda," ujar Seokjin, suaranya melembut dan perlahan rasa gugupnya berganti menjadi rasa ingin melindungi lelaki berlesung pipi di depannya ini. "Apakah semua pelayanannya baik? Jika Anda butuh sesuatu yang lain, katakan saja pada saya."
"Tidak, ini sudah lebih dari cukup," Namjoon tersenyum lebar, merasa kehangatan dari pemilik restoran ini benar-benar tulus. Ia lalu melirik buku catatan kecil dan pulpen yang tergeletak di atas meja. "Um ... jika Anda tidak keberatan, apa Anda mau tanda tangan? Sebagai ucapan terima kasih atas makanan yang luar biasa ini."
Mata Seokjin kembali berbinar-binar. "Tentu saja! Saya akan sangat menyukainya."
Namjoon mengambil selembar kertas bersih dari buku catatannya, lalu dengan jemari tangannya yang panjang dan lentik khas seorang pianis, ia menorehkan tanda tangannya yang rapi. Di bawahnya, tak lupa ia menuliskan; Untuk Seokjin-ssi, terima kasih atas hidangan terbaiknya.
Saat menyerahkan kertas itu, jemari mereka sempat bersentuhan tak sengaja. Kulit hangat Seokjin menyentuh tangan Namjoon, mengirimkan sengatan halus yang membuat keduanya saling pandang selama beberapa detik ekstra.
"Mohon diterima," ucap Namjoon pelan sambil mendongak menatap Seokjin dengan binar mata yang polos.
Seokjin menerima kertas itu seolah itu adalah barang paling berharga di dunia. Ia tersenyum sangat manis, menatap lurus ke netra Namjoon. "Terima kasih banyak, Namjoon-ssi. Karena Anda sudah memberikan ini ... bagaimana kalau hidangan penutupnya saya yang traktir? Saya punya menu tteok manis khusus yang baru saya buat hari ini."
Namjoon tidak bisa menolak sodoran perhatian yang begitu manis itu. Ia mengangguk pelan dan lesung pipinya kembali mengintip. "Dengan senang hati, Seokjin-ssi."
Seokjung yang memperhatikan dari balik punggung adiknya hanya bisa tersenyum penuh arti. Ia tahu, Seokjin jelas tidak akan melewatkan kesempatan ini begitu saja.
...
Cerita baru!!!
Dukung banyak-banyak, yaa. Moga-moga pada suka✨
![Caregiver [JinNam]](https://img.wattpad.com/cover/413245664-64-k953334.jpg)