WARNING!!! 🔞🔞🔞
CERITA GAY SEX/ HOMO /YAOI /BOYS LOVE /LGBT /INCEST
Bercerita tentang petualangan Bian memuaskan para pejantan gagah perkasa dengan K0NT0L GEDE!!?
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pagi itu sinar matahari menyusup lembut melalui tirai kamar tidur utama di rumah mewah Bian. Udara sejuk dari AC bercampur aroma sabun bayi yang samar memenuhi rongga hidung Bian, membangun Bian dari tidurnya yang nyenyak, Bian merasakan sesuatu yang lembut dan hangat bergerak di atas tubuhnya.
Matanya terbuka pelan, dan senyum langsung merekah di wajah tampannya yang masih agak mengantuk.
Di atas dada bidangnya Zayn, anak laki-lakinya yang kini berusia satu tahun tengah tersenyum cerah. Mata kecilnya yang bulat dan cerah menatap Bian dengan penuh kebahagiaan, tangan mungilnya yang gemuk menyentuh pipi Bian seolah sedang membangunkannya dengan lembut. Rambut hitam halus Zayn agak acak-acakan, pipinya chubby dan merah muda, membuatnya terlihat seperti malaikat kecil yang baru turun dari langit.
"Pagi malaikat kecil Popa... Kamu bangun pagi banget sayang..." bisik Bian dengan suara lembut penuh kasih sayang. Tangannya yang besar dan hangat mengelus punggung anaknya yang kecil, merasakan kehangatan tubuh mungil itu di dada montoknya.
Zayn tertawa kecil, suaranya renyah seperti lonceng perak. Tangan kecilnya terus menyentuh wajah Bian, seolah sedang memastikan ayahnya ity benar-benar ada di sana.
Bian merasa hatinya meleleh, setahun berlalu begitu cepat sejak Zayn lahir. Bayi kecil yang dulu meringkuk di pelukannya kini sudah bisa merangkak, berdiri sebentar, dan tersenyum dengan cara yang membuat seluruh rumah menjadi lebih hidup.
Dengan gerakan mandiri yang lucu, Zayn menarik kaos longgar Bian ke atas, memperlihatkan perut sixpack ayahnya yang masih terlihat tegas meski ada bekas luka caesar samar di bagian bawah. Dada Bian yang montok dengan puting pink terpapar jelas, Zayn langsung mendekatkan mulut kecilnya ke salah satu puting Bian dan menyusu dengan lahap.
Susu manis hangat langsung mengalir keluar, memenuhi mulut Zayn. Bian mendesah pelan, sensasi menyusui selalu membuatnya merasa penuh dan damai. "Pelan-pelan, Nak. Susu Popa masih banyak kok, gak usah buru-buru..." kata Bian sambil mengelus rambut Zayn dengan lembut.
Zayn menyusu dengan penuh semangat, tangan kecilnya memegang dada Bian seolah tak ingin lepas. Bian bangun perlahan, duduk di tepi ranjang sambil menggendong anaknya. Dia merasa bahagia melihat Zayn yang sehat dan aktif.
Setahun ini penuh tantangan, merawat bayi nyatanya tidak semudah yang di bayangkan, apalagi Zayn yang terlalu aktif dan terkadang sangat rewel, membuat jam tidur Bian berantakan, tapi semua itu terbayar dengan senyum Zayn setiap pagi yang selalu berhasil membuat hati Bian menghangat dengan cara yang luar biasa.
Setelah menyusui selama hampir setengah jam, Zayn masih belum kenyang. Bian tersenyum, menggendongnya dengan hati-hati. "Ayo, kita ke bawah nak. Ayah, kakek, dan pamam pasti udah nungguin di ruang makan...."
Bian melangkah keluar kamar, mengenakan kaos longgar dan celana pendek rumah yang nyaman. Zayn masih menempel di dadanya, menyusu sesekali sambil tangan kecilnya bermain dengan puting satunya.