Lilie-Ku Sayang Lilie-Ku Malang

27 7 2
                                        

Sampai kapan pun Salindri tak akan pernah lupa bagaimana rasanya ketika mengandung Lilie, putri satu-satunya. Ia juga tak akan pernah lupa bagaimana sakitnya saat melahirkannya ke dunia. Terlebih ketika menyusui dan mengasuhnya sampai tumbuh besar.

Namun, semua rasa sakit itu tidak sebanding dengan pengkhianatan yang dilakukan putrinya. Wajahnya serasa disiram kotoran. Sementara tubuhnya seperti dihantam godam habis-habisan. Malu dan sakit hati yang tidak tergambarkan.

"Ma, ampun, Ma. Lilie minta maaf." Perempuan tujuh belas tahun bersujud di kakinya.

Salindri tergugu. Pundaknya terguncang. "Apa salahku padamu, Lie? Dikemanakan semua nasihat yang kuajarkan? Lihat kuburan papamu yang masih basah itu?! Senang kau membuatnya tersiksa di sana, hah?!"

Tangis Lilie semakin keras kala kaki ibunya menyentak-nyentak.

"Keluar kau dari kamar ini," pinta Salindri lirih. Ia perlu menenangkan diri.

Pelan anak perempuan itu bangkit, lalu keluar dari kamar sang ibu.

Tangis Salindri kembali pecah. Ia meraung-raung sembari menepuk-nepuk dadanya yang amat sesak.

"Anak Ibu tadi datang ke sini dengan keluhan nyeri perut disertai plek-plek di vaginanya. Setelah kami tes dan USG, ternyata anak Ibu ... sedang hamil enam bulan." Ucapan dokter tadi siang terus terngiang-ngiang.

Ya, ini memang salahnya. Sudah terkecoh dengan sikap polos putrinya itu. Ia benar-benar menyesal lengah dalam memantau aktivitas putrinya akhir-akhir ini.

"Pa, kalau Mama tahu bakal gini, lebih baik Mama ikut Papa. Mama gak kuat, Pa," racau Salindri di antara isak. Tidak tahu lagi harus berbuat apa.

.

"Kalau memang bocah itu mau bertanggung jawab, lebih baik nikahkan saja anakmu itu, Salindri," ucap Rahmat, kakak pertama Salindri.

Salindri menarik napas. Keputusan itu sungguh berat.

"Kau dengar gunjingan orang terhadapmu? Sakit hati Abang ni. Bungkam saja semuanya dengan menggelar pernikahan anakmu."

"Tapi tidak semudah itu, Bang. Dalam agama kita, orang yang menikah karena hamil duluan, itu harus mengulang akad setelah melahirkan. Bukan itu saja, mereka pun haram berhubungan badan di semasa itu. Aku tidak mau anakku nanti bertambah-tambah dosanya. Makin sempitlah kuburan suamiku di sana, Bang."

Rahmat menarik napas. Apa yang dikatakan adiknya benar. Namun, ia tidak tega melihat adiknya terus-terusan jadi bahan gunjingan.

"Ya sudah itu semua tergantung padamu. Aku hanya bisa berdoa semoga kau kuat."

Salindri tersenyum. Berusaha tegar.

.

Makin hari perut Lilie makin besar. Meski kecewa dan sakit hati, Salindri melarang putrinya untuk menggugurkan kandungannya. Karena bagaimanapun juga, janin itu tidak bersalah.

Salindri juga bersikap hanya sekenanya. Ia memang sudah memaafkan, walaupun entah siapa yang salah.

Akibat musibah yang menimpanya, Salindri semakin rajin beribadah. Di setiap doanya, ia terus meminta ampunan. Diam-diam juga ia mendoakan putrinya agar ketika melahirkan nanti diberi keselamatan.

"Kau sudah makan, Lie?" tanya Salindri ketus.

Lilie yang sedang menyapu rumah seketika menunduk. "Belum, Ma."

"Ya sudah cepat makan! Jangan ditunda-tunda! Kalau kau sakit siapa juga nanti yang repot!"

"I-iya, Ma." Sambil merunduk perempuan muda itu berlalu ke dapur.

Sang Pemilik Cinta Tanpa TepiStories to obsess over. Discover now