Bab 1 - Pertemuan yang Tak Pernah Terlupakan
Langit sore itu diselimuti awan kelabu.
Rintik hujan mulai turun perlahan, membasahi jalanan kota yang masih dipenuhi kendaraan. Orang-orang berlarian mencari tempat berteduh, sementara suara klakson saling bersahutan di tengah kemacetan.
Di depan sebuah toko buku tua yang berdiri di sudut jalan, seorang laki-laki berdiri diam sambil memandangi hujan.
Namanya Yuga Agung Purnama.
Usianya dua puluh enam tahun.
Ia menggenggam segelas kopi hangat, tetapi pikirannya jauh melayang ke masa lalu.
Delapan tahun.
Sudah delapan tahun sejak seseorang pergi meninggalkan hidupnya tanpa sepatah kata.
Bukan karena ia membencinya.
Bukan pula karena ia telah melupakannya.
Melainkan karena hingga hari ini, Yuga masih belum menemukan jawaban atas satu pertanyaan yang terus menghantuinya.
"Kenapa kamu pergi tanpa pamit?"
Yuga menghela napas pelan.
Matanya menatap hujan yang semakin deras.
Dulu, saat masih duduk di bangku SMA, ada seorang gadis yang selalu menemaninya pulang sekolah.
Namanya Nayara Adelia.
Gadis sederhana dengan senyum yang mampu membuat hari seburuk apa pun terasa indah.
Mereka bukan pasangan.
Namun semua orang mengira mereka saling mencintai.
Dan memang benar.
Hanya saja, tak satu pun dari mereka cukup berani mengungkapkan perasaan itu.
Sampai akhirnya...
Pada hari kelulusan.
Nayara menghilang.
Tidak ada pesan.
Tidak ada telepon.
Tidak ada kabar.
Seolah gadis itu benar-benar lenyap dari dunia.
Yuga sudah mencari ke mana-mana.
Ke rumah lamanya.
Ke teman-temannya.
Bahkan ke guru-guru yang mengenalnya.
Namun hasilnya tetap sama.
Tidak ada seorang pun yang tahu ke mana Nayara pergi.
Delapan tahun berlalu.
Yuga mencoba menjalani hidup seperti biasa.
Ia bekerja, tersenyum, dan terlihat baik-baik saja.
Tetapi di dalam hatinya, masih ada ruang yang belum pernah berhasil diisi oleh siapa pun.
Hari itu sebenarnya sama seperti hari-hari lainnya.
Sepulang kerja, Yuga mampir ke toko buku favoritnya.
Tempat yang dulu sering ia datangi bersama Nayara.
Begitu membuka pintu, aroma khas buku langsung menyambutnya.
Rak-rak kayu yang dipenuhi novel masih tertata rapi.
Tidak banyak yang berubah.
Yuga berjalan perlahan menyusuri lorong demi lorong.
Tangannya berhenti pada sebuah novel yang sampulnya berwarna biru tua.
Saat hendak mengambilnya...
Bruk.
Seseorang tidak sengaja menabraknya.
"Maaf..."
Suara itu.
Yuga membeku.
Perlahan ia mengangkat wajah.
Di hadapannya berdiri seorang perempuan berambut panjang yang sedikit basah karena hujan.
Matanya bening.
Tatapannya lembut.
Wajah itu...
Tidak mungkin.
"Nayara...?"
Perempuan itu ikut terdiam.
Beberapa detik mereka hanya saling memandang.
Waktu seolah berhenti.
Namun kemudian perempuan itu tersenyum tipis.
"Maaf, Mas."
"Sepertinya Anda salah orang."
Kalimat itu terdengar sederhana.
Tetapi berhasil membuat hati Yuga terasa sesak.
Perempuan itu melangkah pergi.
Yuga spontan mengejarnya hingga keluar toko.
"Nayara!"
Namun perempuan itu sudah masuk ke sebuah taksi.
Mobil itu perlahan melaju, meninggalkan Yuga yang berdiri seorang diri di bawah hujan.
Ia tidak mengejar lagi.
Hanya memandangi taksi itu hingga benar-benar menghilang dari pandangannya.
"Kalau itu bukan Nayara..."
"Kenapa matanya sama persis?"
Di dalam taksi, perempuan itu menoleh ke arah jendela.
Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.
Ia membuka tas kecil yang selalu dibawanya.
Di dalamnya tersimpan sebuah surat yang sudah mulai menguning dimakan waktu.
Surat itu ditujukan kepada satu orang.
Yuga Agung Purnama.
Tangannya bergetar saat membaca kembali nama itu.
"Aku tidak pernah melupakanmu, Yuga..."
"Tapi aku belum punya keberanian untuk kembali."
Taksi terus melaju menembus derasnya hujan.
Sementara Yuga masih berdiri memandangi jalan yang kini mulai sepi.
Tanpa ia sadari, pertemuan singkat hari itu menjadi awal dari sebuah kisah yang akan mengubah hidup mereka berdua.
Ia belum tahu bahwa di balik kepergian Nayara selama delapan tahun, ada sebuah rahasia yang selama ini disembunyikan rapat-rapat.
Rahasia yang bisa mengubah cara Yuga memandang masa lalu, cinta, dan takdir
أنت تقرأ
SEBELUM KAMU MELUPAKANKU
عاطفيّةJika suatu hari nanti kita bertemu lagi... jangan pernah berpura-pura tidak mengenalku." Kalimat itu menjadi janji terakhir yang diucapkan Nayara sebelum menghilang tanpa kabar. Delapan tahun berlalu. Aksara mencoba melanjutkan hidup, meski bayangan...
