Bab 1: Keputusan yang Mengubah Segalanya

38 2 2
                                        





Sore itu, langit di atas kota Bangkok perlahan berubah warna menjadi jingga kemerahan, dihiasi awan tipis yang terlihat seperti kuas cat yang disapukan secara lembut di atas kanvas raksasa. Suasana di luar masih terasa hangat dan lembap, ciri khas iklim ibu kota Thailand sepanjang tahun, namun angin sore yang berhembus perlahan membawa sedikit kesejukan setelah teriknya matahari seharian.

Santa Pongsapak melangkah masuk ke dalam rumah besar keluarganya yang berdiri megah di kawasan perumahan elit pinggiran kota. Rumah itu dibangun dengan perpaduan arsitektur tradisional Thailand dan gaya modern, dengan atap yang melengkung indah, halaman luas yang dipenuhi tanaman hias dan pohon-pohon rindang, serta kolam kecil yang airnya mengalir tenang menciptakan suara gemericik yang menenangkan. Bagi Santa, tempat ini selama ini adalah tempat paling aman dan nyaman, tempat ia bisa melarikan diri dari keramaian dunia luar.

Namun sore itu, kakinya terasa sedikit berat saat melangkah melewati pintu utama. Ia baru saja pulang dari hari pertamanya mengikuti masa orientasi mahasiswa baru di universitas negeri ternama yang menjadi impiannya selama bertahun-tahun.

Di dalam dadanya masih terasa penuh semangat dan harapan yang membara. Selama ini, ia sudah membayangkan bagaimana hidupnya akan berjalan, mengikuti perkuliahan dengan antusias, mengasah bakat melukis yang telah ia tekuni sejak kecil, mengikuti pameran seni, dan menikmati masa muda dengan tenang tanpa tekanan berlebih. Semua rencana itu sudah tersusun rapi di dalam pikirannya, seolah jalan di depannya sudah terbentang lurus dan terang.

Santa meletakkan tas ranselnya yang berisi buku panduan kampus dan alat tulis di atas meja kecil di ruang depan, lalu berjalan menuju ruang tamu. Namun, langkahnya terhenti begitu ia membuka pintu ruangan itu. Suasana yang menyambutnya terasa berbeda dari biasanya.

Ayah dan ibunya sudah duduk berdampingan di atas sofa kulit berwarna cokelat tua. Tidak ada senyum ramah yang biasa mereka tunjukkan saat menyambut kepulangan putra satu-satunya itu. Wajah keduanya terlihat serius, bahkan terlihat sedikit tegang, seolah sedang memikul beban pikiran yang berat. Di meja tengah, terhidang teh melati hangat dan kue tradisional kesukaan Santa, namun tidak ada yang menyentuhnya sama sekali.

"Santa, kemarilah dan duduklah di sini sebentar. Ada hal penting yang harus kami sampaikan kepadamu," panggil ayahnya, Pak Virach, dengan nada bicara yang tetap lembut namun mengandung ketegasan yang sulit diabaikan.

Santa mengernyitkan dahi, rasa senang dan semangat yang tadi masih memenuhi dadanya perlahan memudar, digantikan oleh rasa gelisah yang mulai merayap masuk ke dalam hati. Ia melangkah mendekat, lalu duduk di kursi yang disediakan tepat di hadapan kedua orang tuanya, tangannya secara refleks saling menggenggam di atas lutut.

"Ada apa, Yah, Bu? Apakah ada masalah dengan pendaftaran kuliahku? Atau ada hal yang tidak beres di perusahaan?" tanyanya dengan suara lembut, berusaha menebak apa yang terjadi. Ia berharap hanya masalah sepele yang bisa diselesaikan dengan mudah.

Ibunya, Nyonya Wipada, menggeleng perlahan, lalu mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan putranya dengan lembut, seolah ingin memberikan kekuatan sebelum menyampaikan sesuatu yang berat. "Bukan soal kuliah atau pekerjaan, Nak. Semua urusan itu berjalan lancar. Ini soal masa depanmu, dan juga masa depan keluarga kita."

Pak Virach menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan seolah ingin mengumpulkan keberanian untuk menyampaikan keputusan yang telah diambilnya. Ia menatap lurus ke mata Santa, berusaha bersikap seadil mungkin meski tahu kabar ini akan mengejutkan putranya.

"Santa, kau sudah tahu bahwa keluarga kita telah menjalin hubungan persahabatan dan kerja sama bisnis dengan keluarga Tanapon selama lebih dari dua puluh tahun. Ayah mereka, Pak Tanapon, adalah sahabat dekat sekaligus mitra kerja yang sangat bisa diandalkan. Selama ini, perusahaan properti milik kita dan perusahaan konstruksi milik mereka selalu saling melengkapi dan mendukung satu sama lain, sehingga mampu berkembang menjadi sebesar sekarang."

GIVE ME YOUR LOVEStories to obsess over. Discover now