We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

LIMA PULUH

576 48 6
                                        

Hallo Geeengs...
Apa kabar? Pada nungguin part ini gak siihh??
Maafkan author yang sudah lama tidak update yaaa😅
Terima kasih untuk gengs yang masih setia menunggu..
Gak usah lama-lamaa.. Yuuk dibacaa..

Cahaya matahari pagi bersinar lembut menembus dinding kaca salah satu kamar hotel mewah di jantung ibu kota.

Suara alat hair stylist sesekali berdesing, beradu dengan riuh rendah suara beberapa orang yang sibuk beraktivitas di dalam kamar tersebut.

"Kak, sambil sarapan dulu, ya?" tawar salah satu staf wedding organizer dengan ramah.

Nayara menggelengkan kepala pelan sambil terpejam. "Nanti saja," gumamnya.

Staf wanita itu akhirnya mundur. Tepat di belakangnya, Rhumaisa memperhatikan interaksi tersebut. Tanpa mengucap sepatah kata pun, Rhumaisa mengambil alih piring berisi makanan dari tangan staf itu.

"Nay, makan dulu, sedikit aja" ucap Rhumaisa yang kini sudah berdiri membawa piring, menginterupsi Nayara yang wajahnya sedang dipolesi berbagai produk riasan.

Nayara yang semula memejamkan mata, perlahan membuka kelopak matanya. Ia menatap Rhumaisa melalui pantulan kaca cermin di hadapannya.

"Rhum, suapin yaa.. Lihat deh, tanganku begini ni," ucap Nayara manja sembari memamerkan jemari lentiknya yang baru saja dihiasi nail art cantik yang belum sepenuhnya kering.

Rhumaisa mengangguk lalu menarik kursi kecil tak jauh dari tempatnya berdiri. "Aku memang berniat menyuapimu," ucapnya seraya menyendokkan makanan ke arah mulut Nayara.

Nayara dengan senang hati menerima suapan dari sahabatnya itu. "Yang lain pada ke mana?" tanya Nayara di sela kunyahannya.

"Shiren di ballroom, sibuk mengurusi wedding cake. Bhaskara dan Sagara sepertinya masih berada di kamar. Kalau Ayya, dia ada di kamar Mas Sendra, tadi diminta tim videografer untuk siap-siap mengambil foto dan video keluarga."

Nayara manggut-manggut menyimak penjelasan sahabatnya. "Rhum... aku mendadak sangat gugup," ucap Nayara jujur.

Rhumaisa mengulas senyum manis.
"Aku belum menikah, jadi tidak tahu cara bagaimana menenangkanmu," tuturnya terkekeh pelan.

"Tenang saja, semuanya pasti akan berjalan lancar," sahut sebuah suara lembut milik Dinara dari arah belakang Nayara.

Nayara mengalihkan pandangannya, menatap sang ibu yang sudah tampil anggun dalam balutan kebaya berwarna hijau army yang membalut tubuhnya dengan pas.

"Ibu cantik banget..." puji Nayara dengan mata berbinar.

"Kamu bahkan lebih cantik, Nay," balas Dinara dengan wajah haru.

"Ibu, Nay kan belum selesai dirias," goda Nayara manja.

Dinara tersenyum lembut khas seorang ibu. Matanya menatap lekat wajah cantik Nayara yang teramat mirip dengan suaminya. Tanpa disadari, bulir-bulir air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Dinara cepat-cepat mendongakkan wajahnya ke atas, takut jika putrinya melihatnya menangis dan justru merusak suasana bahagia pagi itu.

"Buu... Kok Nangis?," gumam Nayara pelan, menatap sendu bayangan ibunya dari balik cermin.

Dinara berusaha tersenyum lebar, meski air mata pada akhirnya tak kuasa membendung dan menetes melewati pipinya. "Ibu... tiba-tiba saja teringat masa kecilmu dulu, Nay," ucap Dinara lirih dengan suara bergetar.

"Ibuuu..." rengek Nayara.

"Ah, Ibu keluar saja. Di dalam sini malah membuat perasaan Ibu melow. Nanti kalau kamu sudah selesai, Ibu masuk lagi, ya," ucap Dinara terburu-buru tanpa menatap Nayara lagi, lalu melangkah keluar kamar.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jul 31 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

In My PlaceStories to obsess over. Discover now