Prologue

230 8 6
                                        

Suara denting sendok yang beradu dengan piring porselen terdengar begitu nyaring di dalam ruang makan yang luas itu. Rumah besar ini selalu terasa terlalu lapang, terlalu sepi, dan terlalu dingin untuk hanya ditinggali oleh dua orang. Di ujung meja, Jayanendra duduk dengan sikap tubuh yang sempurna-tegap, kaku, dan disiplin. Karakteristik yang melekat kuat pada dirinya selama belasan tahun menjadi seorang ayah tunggal. Di seberangnya, Yudhistira menatap piring nasi gorengnya dengan malas, kehilangan selera makan yang semula membubung.

"Mulai besok, jam malammu maju jadi jam sembilan malam. Tidak ada pengecualian, Yudha," suara Jayan memecah keheningan. Nadanya datar, tanpa riak emosi, seperti seorang komandan yang sedang membacakan dekret militer kepada prajuritnya.

Yudha langsung meletakkan sendoknya dengan kasar hingga menimbulkan bunyi klang yang memekakkan telinga. Ia mendongak, menatap pria paruh baya di depannya dengan kilat amarah yang tidak lagi bisa dibendung. "Jam sembilan malam? Yah, Yudha sudah SMA! Soni, Riki, dan anak-anak yang lain bahkan boleh pulang jam sepuluh kalau kami ada tugas kelompok. Kenapa Ayah selalu mengekang Yudha seolah-olah Yudha ini anak TK?"

Jayan tidak lantas membalas dengan bentakan. Ia menyeka sudut bibirnya dengan tisu secara perlahan, menunjukkan ketenangan yang justru membuat darah Yudha semakin mendidih. "Ayah tidak sedang berdiskusi, Yudha. Ayah sedang memberi tahu aturan baru. Ini semua demi kebaikan dan masa depanmu sendiri. Kamu harus belajar disiplin sejak dini."

"Disiplin atau obsesi?!" Yudha berdiri dari kursinya hingga kaki kayu itu berdecit keras di atas lantai marmer. Napasnya memburu. "Ayah itu egois! Ayah selalu mengurung Yudha di dalam aturan-aturan konyol ini. Ayah tidak pernah mau mendengar apa yang Yudha mau. Ayah itu kaku, dingin, dan tidak punya perasaan! Rumah ini rasanya seperti penjara karena sifat Ayah yang menyebalkan!"

Untuk pertama kalinya malam itu, gerakan tangan Jayan sempat terhenti selama satu detik. Tatapan matanya yang tajam sedikit bergetar, namun dengan cepat ia menguasai diri kembali. Wajahnya kembali datar, sedingin es. "Masuk ke kamarmu sekarang kalau kamu hanya ingin berteriak seperti anak kecil yang tidak tahu tata krama."

"Tanpa Ayah suruh pun, Yudha tidak sudi berlama-lama melihat muka Ayah!" bentak Yudha dengan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya karena rasa frustrasi yang memuncak.

Yudha berbalik arah, melangkah lebar-lebar meninggalkan ruang makan menuju lantai dua. Ia sengaja menghentakkan kakinya keras-keras di setiap anak tangga. Sesampainya di depan kamar, ia membanting pintu kayu kamarnya dengan sekuat tenaga hingga gema suaranya memantul ke seluruh penjuru rumah besar yang sepi itu. Yudha langsung mengunci pintu dari dalam, melempar tas sekolahnya asal-asalan, dan menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur.

Di bawah bantal, ia menyembunyikan wajahnya yang mulai basah oleh air mata amarah. Ia merutuki nasibnya yang harus memiliki seorang ayah sekeras batu seperti Jayan. Yudha menutup kedua telinganya rapat-rapat, berharap ia bisa menghilang dari rumah ini, atau setidaknya, berharap ia tidak perlu berbicara lagi dengan ayahnya untuk waktu yang sangat lama.

Yudha tidak pernah tahu bahwa amarah egois yang ia muntahkan malam itu adalah kalimat terakhir yang akan didengar oleh telinga sang ayah. Ia tidak pernah menduga bahwa dalam hitungan jam, sebaris doa buruknya akan menjelma menjadi penyesalan terbesar yang akan mengoyak-ngoyak sisa hidupnya hingga tak bersisa.

The Timeline (The end)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang