PROLOG: Malam yang Tertinggal

9 1 0
                                        

Minyak bercampur darah di atas aspal basah selalu menjadi mimpi buruk yang sama bagi Zaviersen Althair Gautama.

​Tiga tahun lalu, di bawah guyuran hujan deras di jalanan lingkar luar kota, Zave hanya bisa menatap tangannya yang gemetar, bersimbah darah dari tubuh ringkih yang tak lagi bergerak. Arkananta. Sahabatnya. Saudara kembarnya Elvan.

​"G-gue... titip Elvan... Zave..."
​Itu adalah kalimat terakhir Arka sebelum matanya tertutup selamanya.

Malam itu, The Graphite kehilangan satu porosnya. Malam itu pula, Elvan menatap Zave dengan pandangan yang tak pernah sama lagi, pandangan penuh luka, kekecewaan, dan sebuah pertanyaan yang tak pernah terucap.

" Kenapa lo telat dateng malam itu, Zave? "

​Zave menutup matanya rapat-rapat, memutus memori kelam yang menghantuinya di dalam kegelapan kamar basecamp. Dia bangkit, memakai jaket denim hitam dengan lambang tengkorak bergaris abu-abu di punggungnya, identitas The Graphite.

​"Gue gak bakal biarin siapa pun nyentuh apa yang tersisa dari geng ini lagi," bisik Zave pada kesunyian. "Gak akan pernah."

​Dia tidak tahu, bahwa besok pagi, di koridor SMA Taruna Bakti, seorang gadis dengan senyum secerah matahari musim panas akan berjalan masuk, membawa takdir baru yang siap menguji sisa-sisa pertahanan di hatinya.

Dan di sudut koridor yang lain, sepasang mata ramah berwajah malaikat tengah tersenyum licik, siap memulai permainan adu domba yang sesungguhnya.

"THE GRAPHITE: BEHIND THE SHADOWS"

Zaviersen Althair Gautama atau dipanggil Zave. Kalau ada kata yang bisa menggambarkan Zave, itu adalah dingin. Cowok dengan tinggi seratus delapan puluh dua senti ini punya rahang tegas dan mata elang yang selalu sukses bikin nyali orang ciut. Rambut hitamnya selalu acak-acakan, jatuh pas di dahi mendekati bekas luka kecil di alis kanannya. Zave jarang bicara, lebih suka memperhatikan lewat sudut mata, dengan tangan yang selalu memakai jam tangan hitam dan jaket denim berlogo tengkorak abu-abu yang jadi identitasnya sebagai ketua.

Setelah itu ada, Elvano Aditya Wardhana. Berbeda seratus delapan puluh derajat dari Zave, Elvan adalah definisi cowok green flag yang berjalan di koridor sekolah. Seragamnya selalu rapi, lengkap dengan dasi dan rambut yang tertata. Tatapan matanya teduh, warisan dari kembarannya, Arka, yang sudah tiada. Senyum manis dengan lesung pipi di sebelah kiri adalah senjatanya yang bikin siswi sekolah sering salah fokus. Tapi jangan salah, di balik ketenangannya, Elvan punya sisi tegas yang tak terbantahkan.

Gibran Raditya Mahendra, atau sering dipanggil Gibran adalah manusia paling berisik yang ditiupkan Tuhan ke dalam geng ini. Penampilannya selalu berantakan, baju dikeluarkan setengah dan tas sekolah yang cuma dicangklong di satu pundak. Ciri khas Gibran adalah aroma permen karet yang selalu dia kunyah dan tawanya yang jenaka. Gibran adalah nyawa taruna, sang moodmaker yang hobinya memicu keributan kecil tapi paling pertama pasang badan kalau sahabatnya diusik.

Kenzie Alvaro Malik, Si pengamat berdarah blasteran Indo-Inggris. Kulitnya bersih, matanya cokelat terang, dan dia hampir tidak pernah terlihat tanpa earphone putih yang menggantung di lehernya. Kenzie adalah tipe cowok yang irit bicara tapi punya otak paling encer untuk menyusun strategi pertarungan. Tatapannya selalu tampak bosan dengan dunia sekitar, tapi gerakannya selalu paling tak tertebak.

Sagara Reyhan Raditya (Gara),
Si bungsu di dalam geng yang punya dualitas maut. Gara punya wajah baby face dengan potongan rambut comma hair yang membuatnya kelihatan imut, apalagi ditambah kacamata berbingkai kotak tipis yang selalu bertengger di hidungnya karena minus kecil. Di kelas, dia kelihatan kayak anak baik-baik yang penurut. Tapi begitu kacamatanya dilepas, dilipat, dan dititipkan ke saku jaket abang-abangnya, tatapan matanya berubah tajam, siap merobohkan musuh lewat tendangan taekwondonya.

Udah siap masuk ke ceritanya buat kenalan lebih lanjut sama geng The Graphite, dan yang lainnya? SEE YOUU..

ZAVIERSENStories to obsess over. Discover now