1. Warna dalam Kamera

779 66 3
                                        

-

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

-

-

Jakarta selalu punya cara untuk menyembunyikan kebenaran di balik hiruk-pikuknya. Di antara suara klakson, deru bus kota, papan reklame yang menyala terlalu terang, dan manusia-manusia yang berjalan terlalu cepat, ada banyak hal kecil yang bisa luput dari perhatian. Termasuk hubungan antara Saka dan Laras—perubahan yang begitu pelan, nyaris tak terdengar, sampai mereka sendiri tidak benar-benar menyadarinya.

Pertemuan Saka dan Laras dimulai lima tahun lalu, di sebuah galeri seni tua di Menteng. Bangunan itu memiliki dinding kusam yang mengelupas di beberapa bagian, lantai kayu yang berderit setiap kali diinjak, dan aroma cat lama yang bercampur dengan hujan sore hari. Saka datang ke sana untuk memotret detail arsitektur gedung tua; retakan tembok, lengkung jendela, bayangan pilar, dan tekstur dinding yang menurutnya menyimpan cerita lebih jujur daripada manusia.

Di sanalah ia bertemu Laras.

Perempuan itu berdiri cukup lama di depan sebuah lukisan bernuansa kelabu, dengan tangan terlipat di depan dada dan kepala sedikit miring, seolah sedang mendengarkan sesuatu dari dalam kanvas. Laras memiliki wajah yang tidak mencolok dengan cara yang bising, tetapi menenangkan dengan cara yang sulit diabaikan. Kulitnya kuning langsat dengan rona hangat, wajahnya oval dengan garis rahang yang lembut, dan sepasang mata gelap yang teduh—mata seorang perempuan yang lebih sering mengamati daripada banyak bicara. Hidungnya mancung kecil, bibirnya tidak terlalu tebal, tetapi selalu terlihat seperti menyimpan kalimat yang belum selesai. Rambut hitamnya panjang sebahu, sedikit bergelombang, biasanya diikat asal ketika sedang melukis, dengan beberapa helai jatuh di sisi wajahnya.

Laras adalah pelukis yang selalu mengatakan bahwa ia tidak melukis warna, melainkan kesedihan yang kebetulan memiliki bentuk. Saka, yang awalnya hanya berniat mengambil gambar ruangan, justru terjebak dalam percakapan panjang dengannya tentang cahaya, luka, dan cara dinding tua menyimpan ingatan.

Saat itu, Saka sendiri datang dengan kamera tergantung di leher dan tas hitam besar di bahunya. Ia bukan pria yang tampak berusaha menarik perhatian, tetapi tetap mudah diperhatikan. Tubuhnya tinggi, bahunya tegap karena terbiasa membawa perlengkapan kamera ke berbagai tempat, dan kulit sawo matangnya memberi kesan hangat sekaligus matang. Wajahnya memiliki garis yang tegas; rahang kuat, hidung lurus, dan alis cukup tebal yang membuat tatapannya terlihat serius, bahkan ketika ia sedang diam. Namun, kesan itu selalu luluh setiap kali ia tersenyum. Senyum Saka pelan, tidak berlebihan, tetapi cukup untuk membuat wajahnya yang semula kaku berubah menjadi lebih lembut.

Matanya adalah bagian yang paling Laras ingat dari pertemuan itu. Mata Saka tidak hanya melihat, tetapi memperhatikan. Ada ketelitian seorang fotografer di sana—cara ia menangkap detail kecil yang sering luput dari orang lain. Retakan dinding, bayangan di lantai, warna cat yang memudar, bahkan jeda dalam suara seseorang ketika sedang menahan perasaan.

Belakangan, Saka baru tahu bahwa Laras adalah sahabat masa kecil Bima, teman dekatnya sejak kuliah. Kebetulan itu membuat pertemuan mereka terasa seperti sesuatu yang sejak awal memang diam-diam disusun oleh semesta.

Brush, Click, LoveStories to obsess over. Discover now