Prolog

22 1 0
                                        

Udara yang terasa hangat dalam setiap tarikan napasku.

Kelopak sakura berguguran di sepanjang jalan tepi sungai menuju sekolah.

Lalu kerumunan para siswa dan siswi SMA yang berada di fasenya yang paling bersinar di bawah cahaya matahari.

"Akhirnya!" seruku dengan semangat begitu melangkah masuk ke dalam area sekolah.

Beberapa orang melirikku tapi langsung pergi saja mengabaikanku. Aku sangat senang dengan perlakuan yang menganggapku tidak lebih dari kerikil di tepi jalan. Artinya resolusi perubahanku di awal SMA ini telah sukses besar. Selamat tinggal masa kelamku di kala SMP, selamat datang diriku yang baru di tempat ini.

Tanpa buang waktu lagi aku langsung mendatangi kelasku di lantai pertama dengan papan nama bertuliskan 1-1. Aku masih tidak percaya usahaku begadang hingga absen dari membaca koleksi-koleksi terbaruku berhasil terbayar dengan baik. Lihatlah cucumu ini Nenek, seperti yang kukatakan kalau sudah bertekad gunung Fuji pun bisa kutaklukkan.

Aku lalu memasuki ruang kelas yang telah cukup ramai. Mataku langsung menangkap posisi kosong dua dari depan hampir sejajar dengan poros tengah ruangan ini. Posisi yang sebelumnya tidak pernah aku pikirkan tapi demi perubahan diriku yang baru aku harus memilih langkah sebesar ini. Sebenarnya demi tekadku posisi depan yang masih kosong harus kupilih sayangnya telah ada satu tas tergantung di tepi meja, tapi orangnya tidak terlihat.

'Lalu sekarang apa?'

Orang-orang di sekitarku telah mulai memperkenalkan dirinya. Walau aku telah melakukan riset penampilan tapi aku membuat kesalahan besar pada hal yang paling dasar, bagaimana cara untuk saling berkenalan? Bukan berarti aku benar-benar tidak punya kemampuan sosial, tapi aku sangat benci untuk kembali ke kondisi sebelummya. Aku lebih memilih menjadi penyendiri daripada harus membuka lagi sisi kelamku.

Pengeras suara lalu mengumumkan untuk para murid segera berkumpul di ruang auditorium utama. Karena posisi dan kondisiku akhirnya aku yang pertama keluar, aku mulai menyesali rasa bahagiaku di awal tadi. Tidak terlihat seperti ini benar-benar terasa canggung, tapi air yang tumpah tidak akan kembali ke nampan.

Ayolah ini masih hari pertama tidak ada terlambat untuk memulai.

'Semangat Satou Harumi!'

"Ah?" aku segera menurunkan tanganku. Syukur saja tidak ada yang melihatnya. Aku kembali fokus melihat ke arah panggung depan auditorium. Sekarang adalah waktunya perwakilan siswa terbaik angkatan tahun pertama akan menyampaikan pidatonya. Rasanya lucu karena aku begitu bersyukur hanya berakhir menjadi nomor 2 kali ini. Membayangkan berdiri di depan panggung ini masih terlalu berlebihan bagi diriku.

"Dipersilahkan untuk siswa Ichinose Rei untuk naik ke atas panggung."

'Ichinose Rei?'

Entah kenapa aku merasa familiar dengan nama itu. Wajar saja sih itu bukan seperti nama yang istimewa, ada banyak Ichinose-kun lainnya di luar sana. Lebih baik aku tetap menjaga punggungku untuk tetap tegak bertahan. Tapi ada hal lain yang mengganjal bagiku, anak laki-laki yang lumayan tinggi di sebelahku memiliku rambut merah yang cukup mencolok. Bukan karena aku menganggapnya aneh tapi rasanya aku pernah melihatnya di suatu tempat. Lupakan saja mungkin hanya pertemuan random.

Akhirnya aku bisa melihat siswa yang mengalahku pada ujian masuk lalu. Aku sangat penasaran anak seperti apa dia? Kemungkinan tinggi juga kami memang sekelas jadi aku menanti apa dia salah satu teman sekelas lain yang telah kulihat sebelumnya.

"Apa?"

Aku tidak salah lihat bukan?

Model kacamata yang sepertinya mirip denganku, kerah baju dan lengan yang terpasang dengan sempurna, atau caranya menaikkan kacamatanya dengan dua jari yang terlihat aneh. Aku tidak memperdulikan segala hal itu. Ada sesuatu yang lebih dasar yang seharusnya aku ketahui. Rasanya sudah berada di ujung lidahku saat ini. Tinggal sedikit lagi bisa kuucapkan.

Figuran Dunia HaremStories to obsess over. Discover now