Prolog

110 12 3
                                        

"Saya terima nikah dan kawinnya Nara Kalluna dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

"Saya terima nikah dan kawinnya Nara Kalluna dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"

"Bagaimana para saksi?"

"Sah!"

Satu kata itu akhirnya terdengar.

Pendek.

Sederhana.

Namun cukup untuk mengubah seluruh hidup seseorang.

Ruangan itu tidak besar. Tidak ada dekorasi bunga yang memenuhi sudut-sudut dinding, tidak ada pelaminan yang dihias dengan warna-warna mewah, tidak ada deretan kursi tamu yang dipenuhi keluarga dan kerabat yang datang untuk memberikan doa. Semuanya berlangsung begitu sederhana hingga nyaris terlihat seperti pertemuan biasa. Sebuah meja, beberapa kursi, dua orang saksi, seorang penghulu, dan dua manusia yang duduk berdampingan tanpa pernah membayangkan bahwa hari ini akan datang dalam bentuk seperti ini.

Di luar bangunan, langit tampak mendung. Cahaya matahari sore yang seharusnya hangat tertutup awan kelabu, meninggalkan suasana yang terasa muram dan dingin. Entah mengapa, Nara merasa cuaca hari itu sangat mirip dengan isi kepalanya.

Kosong.

Sunyi.

Dan tidak benar-benar tahu harus merasakan apa.

Tangannya terlipat rapi di atas pangkuan. Jari-jarinya saling menggenggam begitu erat hingga buku-buku jarinya memucat. Sesekali ia mendengar suara orang berbicara di sekelilingnya, mendengar ucapan selamat yang ditujukan kepada dirinya dan laki-laki yang kini duduk di sampingnya, tetapi semuanya terdengar jauh, seperti suara yang datang dari ruangan lain.

Ia mencoba memahami apa yang baru saja terjadi.

Mencoba menerima kenyataan bahwa dalam hitungan menit, namanya telah terikat secara sah dengan nama seseorang yang kini menjadi suaminya.

Suami.

Kata itu terasa begitu asing.

Begitu asing hingga membuat dadanya sesak.

Bukankah seorang perempuan seharusnya merasa bahagia pada hari pernikahannya?

Bukankah ini hari yang selama bertahun-tahun digambarkan sebagai hari paling indah dalam kehidupan seseorang?

Hari ketika dua orang saling memilih.

Hari ketika cinta dirayakan.

Hari ketika masa depan dibangun di atas keyakinan dan harapan.

Namun Nara tidak merasakan semua itu.

Tidak ada kupu-kupu yang beterbangan di dalam perutnya. Tidak ada senyum yang sulit disembunyikan. Tidak ada rasa berdebar yang lahir karena melihat laki-laki yang dicintainya duduk beberapa langkah dari dirinya.

Yang ada hanyalah kelelahan.

Kelelahan yang menumpuk selama bertahun-tahun hingga membuat hatinya terlalu letih untuk merasakan kebahagiaan.

Muara TerakhirStories to obsess over. Discover now