BAB 1

185 2 0
                                        

Di tempatku bekerja, setiap hari selalu saja ada beberapa klien yang datang berkunjung. Hampir semuanya sudah membuat janji temu terlebih dahulu, jadi dalam urusan menyambut mereka, tidak pernah ada hal yang benar-benar membuatku kewalahan. begitu mereka tiba, aku akan langsung mengantar mereka ke ruangan Pak Winoto atau Pak Yusuf, lalu menyajikan kopi untuk mereka.
"Lho, kamu kerja lagi?"
"Iya, Tante. Tolong bantuannya ya, sama seperti dulu."
"Pak Yusuf beruntung ya punya kamu, rasanya kantor jadi kelihatan lebih segar dan hidup."

Orang-orang yang sudah mengenalku sejak lama selalu menyapaku dengan wajah gembira, tetapi sebagian besar pria di kantor itu sering kali menatap bagian dada dan lekuk tubuhku dengan pandangan yang seolah-olah sedang menelanjangi seluruh badanku.

"Wah, aku benar-benar tidak tahu kalau kamu itu istrinya Aris."
"Pak Oji sudah kenal sama suamiku?"
"Iya, lumayan, kami sudah kenal sejak lama."
Itu adalah pertama kalinya Pak Oji datang ke kantor, dan Pak Yusuf langsung memperkenalkanku kepadanya. Begitu mendengar penjelasan itu, Pak Oji kembali menatapku dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan yang berbeda.

Pak Oji memiliki postur tubuh yang tinggi dan proporsional. Bagiku yang baru pertama kali bertemu dengannya, tatapan intens itu membuatku merasa agak malu, hingga aku terburu-buru menundukkan kepala untuk menghindari tatapannya.

Mungkin karena ada urusan pekerjaan yang harus diselesaikan bersama Pak Yusuf, setelah hari itu, Pak Oji jadi sering datang ke kantor beberapa kali dalam sebulan. Karena merasa tidak enak jika dia harus terus-menerus datang jauh-jauh dari Bandung, Pak Yusuf akhirnya selalu mengajak Pak Oji makan malam bersama setelah kerjaan selesai, terkadang sambil mengajak Pak Winoto juga. Bahkan, tampaknya ada momen di mana Pak Oji sampai ikut menginap di Jakarta.

"Pa, Papa kenal yang namanya Pak Oji?"
"Oji konsultan pajak itu?"
"Iya, yang dari Bandung."
"Ah, kenal. Aku sudah beberapa kali kerja bareng dia."
"Hari ini dia datang ke kantor, lho. Mau ketemu Pak Yusuf."
"Oh ya? Tumben."
"Kelihatannya dia orang yang sangat mapan dan berwibawa, ya."
"Iya, dia memang hebat. Kantor konsultan pajaknya di sana juga sukses besar."
"Oh, begitu ya."
"Cuma..."
"Kenapa, Pa?"
"Sudah agak lama , tapi aku dengar dia sudah cerai sama istrinya."
"Ya ampun, masa?"
"Aku kurang tahu apa alasannya, padahal dulu kupikir mereka pasangan yang serasi."
"Kalau anak?"
"Seingatku mereka tidak punya anak."

Tentu saja, bagi kantorku, dia adalah seorang klien yang sangat penting. Namun bagiku, saat itu dia hanyalah sebatas rekan bisnis suamiku dan klien kantorku saja.

Sebulan sekali, aku selalu pergi ke Bandung untuk menjenguk tanteku yang sedang sakit. Kamar yang dulu sering aku tempati saat masih zaman kuliah dulu sampai sekarang masih dirawat dengan baik, dan aku selalu menginap di sana. Dari kamar itulah, aku menelepon suamiku.

"Pa, tadi di dekat Jalan Braga, aku tidak sengaja berpapasan sama Pak Oji."
"Oh ya? Ah, kantor dia memang di sekitaran daerah situ."
"Terus..."
"Terus kenapa?"
"Ehm, jadinya aku diajak makan malam sama dia."
"Eh?"
"Waktu itu langsung aku tolak kok, aku bilang kalau aku harus tanya ke suami dulu."
"Masalahnya dia itu..."
"Papa tidak suka, ya? Ya sudah, Pa."
"Bukan begitu."
"Nggak apa-apa kok, Pa. Biar aku tolak saja nanti."
"Eh, jangan, Pergi saja tidak apa-apa, aku sama sekali tidak keberatan ."

Seperti biasa, ketika aku sedang berkunjung ke rumah tanteku di Bandung, di tengah-tengah waktu belanja sore hari, tiba-tiba saja ada yang memanggil namaku di perempatan Jalan Braga yang ramai.

"Dina, kan?"
"Eh, Pak Oji? Ya ampun, bikin kaget saja."
"Haha, yang kaget itu seharusnya aku. Kenapa kamu bisa ada di Bandung?"
"Aku memang sering ke sini buat menjenguk tanteku. Ini kebetulan baru mau pulang habis belanja."
"Oh, begitu rupanya."

Kisah Dina Stories to obsess over. Discover now