"THE WORLD."
.
.
.
Bibirnya merintih, bergetar menahan perih. Air mata sudah tidak mampu lagi keluar, mata tak berdaya menatap sosok yang duduk diatas kursi kerajaan. Hatinya bertanya mengapa? Mengapa dia harus berakhir tragis? Bukankah dia juga melalukan hal yang sama? Mengapa sang raja tega melakukan hal itu padanya? Atau karena sang raja memiliki kekuasan? Sedangkan dirinya..., dia hanya sampah bodoh yang memberontak demi sesuatu yang tak berharga.
Dia akui dirinya bodoh.
Dia melakukan hal demi kata 'Cinta' yang sangat tabu di kalangan masyarakat. Di era itu tidak ada cinta, mereka terlalu logis untuk mengerti arti cinta sebenarnya.
Perlahan matanya menatap sosok tinggi yang berdiri di samping sang raja. Jika bukan sang asisten raja, mungkin dirinya tidak akan berakhir seperti ini. Dia tahu bahwa sang asisten lah yang menghasut sang raja. Permainan politik agar dia di turunkan secara tidak hormat.
Terik matahari membakar tubuh penuh luka, bekas memanjang karena cambukan yang dia terima tanpa henti, tubuhnya sudah tak berbentuk, darah merembas keluar, mengotori kulitnya.
Cetas!
Dia membuka mata, napasnya tak beraturan, keringat mengucur di pelipis. Agh! Sial! Dia memimpikan hal yang sama lagi.
Na menghela napas sambil memejamkan mata, berusaha mengusir ingatan kehidupan masa lalu. Ingatan yang ingin dia singkirkan, namun tetap saja membekas seperti kaset rusak yang terus berputar.
Ya. Benar. Na bisa mengingat semua kehidupan masa lalu. Seperti kutukan yang malah membawa keberuntungannya sendiri, dia tak perlu mencari tahu karma apa yang harus di selesaikan pada kehidupan ini.
Kehidupan lalunya sudah cukup sial. Dia mati di usia dua puluh satu tahun karena menyimpang dari yang seharusnya. Dia sang sekertaris negara, terlihat berwibawa namun berakhir tanpa hormat, mati di cambuk di depan ratusan pasang mata hanya karena ingin menikahi kekasih sesama jenisnya.
Na memang menyimpang, dan dia mengakui. Meski dia hanya berteman oleh lembaran kertas dan buku, namun laki-laki yang bahkan tak memiliki jabatan itu berhasil menarik perhatiannya. Membawa tahu bahwa dunia tidak hanya tentang kertas dan buku, banyak hal yang bisa dia nikmati di luar sana.
Kupu-kupu yang terbang bebas, angin bertiup lembut membuat Na sadar, betapa indahnya dunia yang dia abaikan. Lelaki itu membawa cerita baru, tidak pernah Na bayangkan hidupnya akan memiliki kisah romansa. Kisah tabu pada jaman itu.
Hingga kini Na masih mencari keberadaan lelaki itu, kisah mereka berakhir tragis dulu, dan Na ingin kisahnya di tulis kembali dengan orang yang sama. Dia menolak akhir yang menyedihkan, hidupnya harus berakhir sempurna dan bahagia.
Tok-tok! Tok-tok-tok-tok!
Ketukan tak sabaran membuat Na menarik napas kasar. Tak perlu bertanya siapa yang mengetuk, dari pola ketikannya saja Na sudah tahu siapa pelakunya.
"Ya! Sebentar!" teriak Na sambil turun dari ranjang.
Kakinya berjalan malas kearah pintu masuk, tangannya memutar knop sebelum menariknya. Memperlihatkan pemuda tinggi dengan kulit bersih, wajahnya tampan, hidung tinggi, rahang tegas, mata yang memikat. Semua orang akan menggilainya, terutama saat mendengar suaranya. Suara berat yang membuat siapapun lemah, namun suara yang sama membuat Na muak untuk sekedar mendengar tarikan napasnya.
"Oi! Lama sekali!" keluhnya sesaat setelah pintu itu di buka, dia melangkah masuk tak mempedulikan tatapan tajam sang teman.
Na menutup pintu, matanya masih menatap tak suka. Bukannya membenci, namun perasaan masa lalu masih membekas di dadanya. Pemuda yang dulu menghukumnya mati kini menjadi teman dekatnya, sungguh sial bukan? Dia mati-matian menghindari sang raja, namun takdir tetap mempertemukan mereka lagi.
YOU ARE READING
Karma
RomanceBagaimana jika seseorang memiliki ingatan kehidupan sebelumnya? Mengingat karma yang terus mengejarnya.
