Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Ada satu lukisan yang tidak pernah berhasil diselesaikan oleh Hwang Hyunjin.
Kanvas itu tersandar di sudut studionya selama berbulan-bulan.
Setengah jadi.
Dipenuhi sapuan warna keemasan.
Siluet seorang lelaki dengan rambut pirang yang diterpa cahaya sore.
Wajahnya belum sempurna.
Matanya belum selesai digambar.
Namun siapa pun yang melihatnya tahu.
Pelukisnya sedang jatuh cinta.
"Hyunjin."
"Hm?"
"Kamu ngelukis aku lagi?"
Felix berdiri di ambang pintu studio tari sambil memegang dua gelas es kopi. Sinar matahari sore masuk melalui jendela besar, membuat rambut pirangnya tampak seperti diselimuti cahaya.
Hyunjin buru-buru menutup buku sketsanya.
"Nggak."
Felix menatapnya datar.
"Kamu sadar nggak sih kalau kemampuan bohongmu itu payah banget?"
"Aku cuma latihan anatomi."
"Anatomi pakai tahi lalat yang posisinya persis sama?"
"..."
Felix tertawa kecil.
"Lucu."
Hyunjin mendecak pelan, tapi ujung bibirnya ikut terangkat.
"Diam. Duduk sana."
"Kenapa?"
"Mau gambar kamu."
"Kamu nggak capek?"
"Nggak."
"Kamu udah gambar aku hampir setiap minggu."
Hyunjin berhenti sejenak sebelum menjawab,
"Takut lupa."
Felix tidak bertanya lagi.
Karena mereka berdua tahu...
Hyunjin bukan tipe orang yang mudah mengucapkan perasaan.
Jadi ia menuangkannya lewat sketsa.
Lewat cat minyak.
Lewat detail kecil yang tak pernah disadari orang lain.
Mereka tidak pernah benar-benar menyatakan sejak kapan hubungan itu berubah.
Mungkin saat Felix tertidur di ruang studio, lalu Hyunjin diam-diam menyelimuti bahunya.
Atau saat Felix selalu menyisihkan kursi kosong di sampingnya.