PROLOG

418 110 22
                                        

"Aku pernah menyukaimu selama lima tahun tanpa berkomunikasi sama sekali."

"Sejak kita kecil hingga beranjak dewasa." Tambah gadis itu tersenyum sembari meremat jemarinya di belakang punggung. "Kita pernah mengikuti pelajaran etiket yang sama selama setahun saat kecil lalu setelah kau lulus aku hidup dengan membayangkanmu hingga aku beranjak remaja."

"Aku menyukaimu."

Sepasang alis pria dihadapannya menukik tajam, dia yang duduk dibalik mejanya nampak terganggu dengan pernyataan lancang itu tapi tak langsung mengusir gadis yang berdiri lima langkah darinya.

Raut wajah gadis itu asing, dia tidak bisa mengingatnya dengan jelas tapi saat menyebutkan pelajaran etiket seketika ia langsung tahu siapa itu.

"Kau..." Bibirnya terbuka, ragu untuk berbicara. "Menyukaiku?"

Gadis itu--Rua--menganggukkan kepalanya. "Iya, aku menyukaimu sampai empat tahun berikutnya."

"Bagaimana?" tanya pria itu skeptis.

"Bagaimana kau bisa menyukaiku sementara aku biasa saja?"

"Karena..." Rua memikirkan jawaban terbaiknya. "Menyukai seseorang tidak butuh alasan. Seharusnya kau memujiku karena bisa menyukaimu tanpa melihat atau berbicara denganmu."

"Aku mana tahu." Sahutnya enteng kemudian lanjut membolak-balik kertas dihadapannya.

"Apa hanya itu reaksimu?" kening Rua mengerut saat sebal memandang pria dihadapannya benar-benar biasa saja.

"Kau mau apa?" Dengan nada agak jengkel, Tirian Cashmire bertanya. "Kuajak kau menghabiskan malam denganku?"

"Menghabiskan malam denganmu?"

"Ya. Menemaniku semalaman."

"Kau mau?" Tanyanya dengan senyum licik, tahu kalau jawaban gadis itu pasti tidak tetapi yang terjadi justru sebaliknya.

"Kapan?" Jawab Rua. "Kapan itu?"

"Kau menganggapnya serius?"

"Beritahu aku kapan itu?" Tuntut Rua.

Tirian mendesahkan nafas, tak kuasa menahan rasa tak nyaman saat gadis itu malah menyanggupinya. "Memangnya kau yakin? Kau tidak takut akan resiko yang bisa saja terjadi jika berada di satu ruangan dengan pria dewasa?"

"Memangnya apa?" Rua bertanya dengan nada polos, tapi ekspresi dan senyumnya berkebalikan. "Apa yang bisa terjadi? Berbincang seru sampai pagi?"

"Apa saja." Jawab Tirian sembari menandatangani beberapa lembar kertas dan menggulungnya sebelum dimasukkan ke pelindung surat berbentuk bulat panjang.

"Apapun bisa terjadi diantara pria dewasa dan seorang gadis." Ucapnya mengulangi.

"Kapan itu? Malam ini?" Cecar Rua meminta kepastian. "Kau... pasti sering melakukannya bukan?"

"Melakukan apa?"

"Apa saja yang bisa terjadi itu."

"Mengapa penting?"

Rua menggeleng. "Apa setiap gadis yang bilang suka padamu langsung kau ajak bermalam?"

"Tidak juga." Sahut Tirian sejenak berhenti memeriksa tumpukan kertasnya. "Tidak ada yang menyukaiku." Jawabnya tegas.

"Jangan berbohong." Rua melangkah maju menempatkan dirinya berjarak selangkah saja dari meja kerja Tirian kemudian mencondongkan tubuhnya sembari berpangku dagu. "Kau sangat tampan. Pasti bukan hanya aku yang menyukaimu."

"Mungkin iya." Tirian menjawab tanpa melihat, tatapnya penuh akan aksara-aksara Kekaisaran diatas kerja yang dibacanya dengan sangat cepat.

"Tapi yang datang dan menerobos kediamanku entah bagaimana caranya lalu berdiri dihadapanku saat ini hanya satu orang."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 10 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

BELOVEDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang