Angin sore di Padang berhembus kencang, membawa aroma laut sekaligus hawa dingin yang membuat siapapun yang merasakannya merasa seperti diasingkan dari seluruh dunia. Di atas bukit berdiri sebuah bangunan sangat besar, putih bersih namun terasa kaku – seperti istana, tapi juga seperti penjara mewah. Itu adalah Villa Primadi Ducas: tempat tinggal Severus Cassian Ducas, sekaligus markas di mana dia menjalankan segala urusannya, mulai dari bisnis resmi hingga aktivitas gelap yang tak seorang pun polisi berani coba teliti.
Di dalam ruang kerja terbesar di lantai dua, pria itu duduk santai di kursi kulit mahalnya. Tubuhnya tinggi dengan bahu lebar dan punggung tegak; pakaiannya rapi sempurna, namun tatapan matanya sungguh dingin dan tajam – seperti mata binatang buas yang mengawasi mangsanya. Tangannya yang besar dan kekar memainkan cincin perak di jari manisnya, barang yang tak akan pernah dia lepaskan sesaat pun.
“Bos, laporan dari Jakarta sudah masuk. Semua urusan selesai, tidak ada yang mengetahuinya sama sekali.” Dani berdiri tegak di depan meja, suaranya datar namun penuh hormat. Dia telah mengikuti Severus sejak masa remaja, mengetahui semua rahasia dan setiap perbuatan tidak terpuji yang pernah dilakukan majikannya – dan tak pernah ragu sedikit pun untuk ikut melakukannya.
Severus hanya mengangguk perlahan, matanya masih menatap keluar jendela ke arah laut yang ombaknya bergulung kencang. “Ayahku? Dia menanyakan apa?” suaranya rendah dan berat; setiap kata keluar pelan namun membuat siapapun yang mendengarnya merasa dada tertekan.
“Pak Morgan hanya menanyakan kondisi Bapak dan kabar bisnis. Dia tidak menanyakan hal lain, namun saya tahu dia sedang mengawasi kita dari jauh. Beliau juga menyampaikan tentang perjodohan dengan Nona Silla; katanya sudah saatnya Bapak mengambil langkah yang tepat untuk nama keluarga.”
Seketika udara di dalam ruangan menjadi semakin berat. Sudut bibir Severus sedikit mengangkat – bukan senyum, melainkan ekspresi seperti orang yang akan menghabisi mangsanya. “Morgan… dia memang tak akan pernah berubah. Bagi dia, aku hanya aset. Anak sendiri saja dia rela jual, apalagi orang lain.” Dia mengingat semua peristiwa masa lalu: saat usianya baru delapan tahun, saat dia diculik, disiksa seperti hewan, dan dikurung selama tiga minggu penuh. Dia bahkan masih ingat bagaimana dia mendengar langsung melalui telepon bahwa ayah kandungnya tidak mau membayar tebusan lima puluh milyar hanya untuk menyelamatkannya. Dia ingat bagaimana dirinya dipukuli hingga dianggap mati, kemudian dibuang ke tengah hutan – dan hingga kini, setiap kali dia menutup mata, bayangan itu selalu datang menyiksa dirinya kembali.
“Mulai hari ini, aku tidak akan peduli lagi dengan apa yang dia katakan. Bisnisku akan tetap berjalan, dan hidupku tidak akan pernah lagi dikendalikan oleh orang tua yang hina itu.” Severus berdiri dengan langkah yang berat namun penuh kekuasaan. “Siapkan segala sesuatunya. Dan aku ingin tahu siapa saja yang berani melawan aku – hancurkan semuanya, agar mereka tahu siapa yang berkuasa di sini.”
“Siap, Bos.” Dani langsung mengangguk dan keluar dari ruangan, menyisakan Severus sendirian.
Sementara itu, ratusan kilometer jauhnya, seorang gadis muda sedang berjuang keras untuk bertahan hidup. Namanya Isya Paramita, berusia delapan belas tahun – cantik dengan kulit putih bersih dan mata bening seperti air mata, namun kehidupannya tidak seindah wajahnya. Orang tuanya telah meninggal ketika dia berusia lima belas tahun; dia tidak punya saudara, dan tidak memiliki siapapun selain dirinya sendiri. Rumah sederhana dan tabungan peninggalan orang tuanya telah dia jual sedikit demi sedikit untuk mencukupi kebutuhan hidup, namun akhirnya uang itu juga habis. Dia pernah sekolah hingga kelas sebelas SMA, namun harus keluar karena tunggakan uang sekolah – dan semenjak saat itu, dia harus bekerja keras.
Dari menjadi pembantu rumah tangga, penjaga warung, hingga akhirnya menemukan lowongan kerja sebagai pelayan di rumah orang kaya di Padang. Gajinya besar, tempat tinggal dan makan juga disediakan; dia mengira ini adalah kesempatan terbaik untuk bisa hidup layak lagi. Dia tidak tahu, tidak pernah bisa membayangkan, bahwa langkah kakinya yang dia kira akan membawanya ke jalan yang aman justru akan membawanya masuk ke dalam neraka yang tak akan pernah bisa dia tinggalkan.
Isya mengelus amplop surat perjanjian kerja di tangannya, menarik napas panjang. Semua akan baik-baik saja, Isya. Kamu hanya perlu bekerja, menerima gaji, lalu hidup dengan tenang. Tidak ada yang akan menyakitimu. Itu adalah kata-kata yang dia terus ucapkan dalam hati, meskipun naluri kecil di dalam dirinya telah berseru keras bahwa dia sedang memasuki tempat yang salah.
Namun dia tidak punya pilihan lain. Jika dia tidak menerima pekerjaan ini, dia tidak tahu lagi apa yang akan dia makan besok.
Mereka berdua – dua orang dengan kehidupan yang berbeda 180 derajat, dua orang yang dunia mereka seharusnya tak akan pernah saling menyentuh – namun nasib telah menentukan bahwa mereka harus bertemu. Dan pertemuan itu tidak hanya akan mengubah hidup mereka berdua, melainkan juga akan mengubah segalanya.
YOU ARE READING
Legamentum
FanfictionDisclaimer cerita ini hanya fiksi dan tidak untuk ditiru di kehidupan nyata. Harap bijak dalam membaca. "Nama kamu siapa?" Isya menelan ludah dengan susah payah, suaranya gemetar namun dia berusaha bersuara jelas. "Isya... Isya Paramita, Tuan." Sudu...
