1. Termodinamika Mie Cup

46 2 4
                                        

•••

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

•••

Mesin cuci di sudut lorong kosan Putri Cemara itu mengeluarkan bunyi berderit yang sangat menyayat hati, sebelum akhirnya ikut mati total dengan bunyi klitik yang menyedihkan.

Aruna Citra berjongkok di depannya, menatap sisa busa yang menggenang pasrah. Di dalam dompetnya, terselip sebuah kartu identitas dengan nama belakang yang bisa membeli satu blok bangunan kosan ini beserta seluruh mesin cucinya, Prawijaya. Namun malam ini, karena sebuah perjanjian konyol demi mempertahan kemerdekaan hidup dari sang ayah, Aruna resmi berpura-pura menjadi rakyat jelata.

Aruna keluar dari rumah, mendaftarkan diri di sebuah toserba dan memutuskan hidup mandiri serta jauh dari keluarga. Dengan janji dan kompensasi yang berlaku, tentu saja.

Dia harus bertahan tanpa uang ayahnya sama sekali, dalam kurun waktu satu tahun yang kini tersisa enam bulan. Dan jika menyerah, Aruna harus kembali dan bersedia menjalani semua aturan keluarga tanpa protes sedikit pun.

Ia kelaparan, jemurannya gagal, dan saldo uang bulanannya nyaris menyentuh angka kritis.

Meski terkadang, anehnya ia tersenyum.

Karena bagi Aruna, jadi miskin secara sukarela atau berpura-pura jauh lebih menenangkan daripada harus duduk di meja makan berlapis marmer, mendengar obrolan bisnis ayahnya yang teramat membosankan berjam-jam.

"Nggak apa-apa, kita harus tetap nikmati ini selama enam bulan ke depan," gumam Aruna, membulatkan tekad jika ia tidak menyesalkan keputusan konyol tadi seraya meninggalkan mesin cucinya yang butuh perbaikan lagi.

Perempuan 22 tahun itu menarik ritsleting jaket oversize-nya sampai ke leher, memasang headphone untuk meredam rintik hujan dan suara klakson dari jalanan, lalu melangkah keluar kosan. Sudah waktunya bekerja, menuju tempat yang menjadi suaka dan akan ia pikirkan soal si mesin cuci itu nanti saja.

***

Toserba 24 jam di ujung jalan raya perkotaan di sana berpendar seperti mercusuar di tengah gelapnya malam. Begitu Aruna mendorong pintu kaca-diikuti bunyi ting yang familiar di telinga-aroma kopi instan dan pembersih lantai rasa lemon langsung menyambutnya.

"Tumben telat tiga menit, Run. Kehujanan?"

Bintang Pratama, rekan kerja di shift malam, sedang bersandar pada gagang pel dengan gaya sok dramatis. Pemuda itu memakai seragam biru toserbanya dengan rapi, meski kantung matanya tidak bisa berbohong kalau ia habis begadang mengerjakan tugas kuliah.

Bintang ialah mahasiswa teknik mesin tingkat akhir yang memiliki kebiasaan memperbaiki apa saja. Dia salah satu orang yang tidak juga mengetahui identitas asli Aruna sebagai anak orang kaya, karena Aruna menyembunyikan identitas aslinya itu dari lingkungan baru ini.

"Mesin cuci kosan tewas," jawab Aruna santai sambil berjalan ke ruang ganti, mengganti jaketnya dengan rompi seragam toserba. "Ada sisa roti afkiran hari ini, Tang?"

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: 3 days ago ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Kasir Nomor Tiga Stories to obsess over. Discover now