We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

Part 1: Yang Terusir

21 1 3
                                        

Suara tangis bayi menggema di ruang bersalin klinik Dokter Tri. Suaranya begitu mengganggu, membuatnya risih dan benci.

"Aisha, susui dulu anakmu. Dia haus itu."

Aisha tidak menggubris ucapan bidan itu. Ia membalikkan badannya menghadap tembok putih di sampingnya.

"Aisha."

Suara lain terdengar. Lebih pelan dan lembut. Suara yang selama berbulan-bulan ini menjadi
penyelamatnya.

Aisha membalikkan badannya menghadap si pengunjung baru.

"Bu Dokter," panggilnya pelan.

Dilihatnya wanita itu menggendong bayi mungil dalam dekapannya. Bayi yang beberapa jam lalu lahir dengan tangisan keras di klinik kecil ini, di kota yang bukan kampung halamannya, tanpa satu pun anggota keluarga yang menemani.

"Lihat bayimu, Ais. Ganteng sekali. Matanya indah sekali."

Bu Dokter mengulurkan bayi itu mendekat, tapi Aisha menggeleng keras. Ia beringsut menjauh.

"Buang anak itu, Bu. Saya nggak mau lihat dia. Saya benci dia!"

"Aisha..."

Bu Dokter menyerahkan bayi dalam dekapannya ke bidan, lalu duduk di tepi ranjang. Tangannya menggenggam lembut tangan Aisha yang gemetar.

"Apa kamu nggak ingat gimana perjuanganmu? Perjuangan kamu dan anakmu." Bu Dokter menatap lembut mata Aisha. "Kalian sudah melalui masa-masa sulit bersama. Jangan biarkan anakmu berjuang sendiri sekarang."

Aisha kembali menggeleng. "Dia bukan anak saya, Bu. Dia anak laki-laki bejat itu."

"Dia anakmu, Aisha. Dia tumbuh di rahimmu. Memakan sari pati tubuhmu. Dia bukan anak siapapun. Dia anakmu. Hanya anakmu."

Ucapan tegas Bu Dokter membuat Aisha mengangkat kepalanya. Ia menatap mata Bu Dokter, lalu bayi berselimut kain jarik dalam gendongan bidan.

"Lihatlah. Sentuh dia. Sekali saja. Dan kamu akan tahu, dia anakmu."

Bayi itu kembali disodorkan padanya. Dengan gemetar, Aisha mengangkat tangannya. Menyentuh kain jarik yang menutupi tubuh mungil itu. Lalu perlahan, menyentuh kulitnya yang hangat dan lembut.

Tanpa sadar, air mata menetes membasahi pipinya.

Ia ingin menjauh, ingin membenci bayi itu seperti yang selama ini ia rasakan.

Namun saat menyentuh kulit hangatnya, dadanya terasa sesak.

Bayi itu nyata. Dia hidup.

Bukan lagi janin yang tumbuh di dalam rahimnya. Bukan pula sekedar bukti dari malam kelam yang menghancurkan hidupnya.

Dan Aisha tidak lagi bisa berpura-pura bahwa bayi itu tidak ada.

Meski demikian, satu hal tetap tidak berubah.

Mata biru itu bukan miliknya.

===============

Delapan bulan lalu

"Siapa nama laki-laki itu?"

Aisha menatap ayahnya. Suara pria paruh baya yang selama dua puluh tahun menjadi pelindung dan panutannya itu terdengar pelan dan datar. Namun raut wajahnya menyimpan luka yang tak bisa disembunyikan.

"Bilang saja, Neng. Nggak perlu takut. Nanti saya dan Pak Ustad yang akan menemui laki-laki itu."

Aisha memalingkan wajah, menatap pria paruh baya berambut mulai menipis yang duduk di samping ayahnya. Pak Hamid, kepala desa yang hampir setiap hari datang ke rumah sejak kabar kehamilannya tersebar.

Suci Yang TernodaStories to obsess over. Discover now