We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

PROLOG: Catatan penulis

114 10 2
                                        

A LITTLE NOTE FROM ME 🖤

Hai semuanya!

Selamat datang di The Cage Had a Key.

Makasih banyak, ya, udah mampir dan mau ngeklik cerita ini. Jujur, aku deg-degan sekaligus excited banget pas mutusin buat rilis cerita ini ke publik. Proyek ini lumayan menguras energi karena genrenya yang agak berat, jadi dukungan dari kalian bakal berarti banget buat aku!

Sebelum kita lanjut, ada beberapa hal penting yang mau aku sampein dulu, nih:

⚠️ Strict WARNING (21+): Cerita ini khusus untuk pembaca dewasa, ya. Isinya bakal penuh sama konflik psikologis, manipulasi, intrik politik, dan beberapa adegan dewasa yang intens. Jadi, mohon bijak banget dalam membaca.

You’ve been warned, okay?

Jadwal Update: Rencananya cerita ini bakal update setiap hari. Biar kamu nggak ketinggalan pas aku pencet tombol publish, langsung masukin cerita ini ke Library atau Reading List kamu sekarang juga!

Yuk, Saling Sapa! Jangan ragu buat tinggalin jejak berupa vote dan komen di setiap bab, ya. Aku suka banget baca teori kalian di kolom komentar, hahaha. Tapi, tetep jaga kesopanan ya, gais.

Oh ya, segala bentuk plagiarisme atau jiplak-menjiplak sangat dilarang keras. Mari kita saling menghargai karya satu sama lain.

Buckle up, and enjoy the ride!

@ylhhha_421

•••

Roma, Italia.

02.15 AM.

Detak jarum jam dinding terdengar seperti hitungan mundur menuju kematian.

Anya Moretti bisa mendengar suara langkah sepatu bot yang berat bergema di koridor luar. Dinginnya lantai beton tempatnya bersimpuh tidak sebanding dengan rasa sedingin es yang kini mencengkeram dadanya.

Di atas meja kayu di depannya, sebuah laptop menyala, menampilkan grafik aliran dana 40 juta euro yang baru saja mengunci takdirnya.

Pintu besi di depannya terbuka dengan derit pelan yang menyayat keheningan.

Dari balik kegelapan, sesosok pria melangkah maju. Postur tubuhnya tegap, setelan jasnya terlalu rapi untuk seorang pria yang baru saja menculik seorang analis keuangan dari rumahnya. Sepasang mata abu-abu pria itu menatap Anya—bukan dengan amarah, melainkan dengan ketenangan yang jauh lebih mengerikan.

Dante Kessler.

Pria itu berhenti tepat dua langkah di depan Anya. Ia berlutut satu kaki, menyamakan tingginya dengan Anya yang gemetar. Jemari tangannya yang kokoh dan dingin menyentuh dagu Anya, memaksa gadis itu mendongak.

"Kamu sangat cerdas, Signorina. Sayangnya, kecerdasan tanpa kekuatan hanyalah sebuah kutukan," bisik Dante, suaranya berat dan begitu tenang, menggetarkan akal sehat Anya.

Dante mengusap pipi Anya yang pucat dengan ibu jarinya, sebuah gerakan yang tampak hampir seperti belaian lembut, namun terasa seperti jeratan tali tambang di leher.

"Aku tidak akan menyentuhmu dengan amarah, Signorina. Aku akan menyentuhmu dengan kelembutan yang perlahan-lahan akan menghancurkan kewarasanmu sendiri. Sampai kamu lupa bagaimana cara melawan."

Malam itu, di bawah tatapan dingin Dante, Anya sadar bahwa sangkar emasnya telah resmi dikunci. Dan kunci itu, berada di tangan pria di hadapannya.

•••

Jangan lupa follow dan berikan vote kalian.✨

~To be continued~

The Cage Had a Key Stories to obsess over. Discover now