Tahun 2007. Udara siang ini terasa lengket, khas cuaca peralihan yang membuat gerah siapa saja yang tidak berada di bawah embusan langsung kipas angin. Di kelas XI IPA 1, suara baling-baling besi dari kipas angin yang menempel di langit-langit berderit monoton. Derit itu sesekali beradu dengan suara kapur yang bergesekan dengan papan tulis hijau di depan kelas, sebelum akhirnya guru Fisika kami pamit keluar lebih awal karena ada rapat mendadak.
Begitu punggung guru menghilang dari balik pintu, kelas yang tadinya hening langsung berubah menjadi pasar malam. Ada yang langsung mengeluarkan ponsel Sony Ericsson lipat untuk membalas SMS, ada yang asyik memutar kaset pita di Walkman yang disembunyikan di balik buku cetak tebal, dan ada juga sekelompok siswi yang berkerumun membaca edisi terbaru majalah remaja.
Di tengah hiruk-pikuk itu, aku sama sekali tidak tertarik untuk beranjak dari kursiku. Namaku Aksara Biru Langit. Kata ibu, nama itu diberikan karena aku lahir tepat di siang hari yang sangat cerah, tanpa awan mendung setitik pun. Mungkin karena sugesti nama itu juga, mataku tidak pernah bisa lepas dari pemandangan di balik jendela kaca ruang kelas kami.
Aku menopang dagu dengan tangan kiriku, sementara tangan kananku lincah menggerakkan pensil 2B di atas selembar kertas berukuran A5. Aku sedang menggambar langit di buku sketsaku. Guratan abu-abu dari karbon pensil perlahan membentuk gumpalan awan kumulus yang besar. Sisi samping kelingkingku sudah cemong oleh noda pensil, tapi aku tidak peduli. Ada kedamaian tersendiri setiap kali aku memindahkan hamparan luas di atas sana ke dalam buku sketsaku.
"Ru, elah, gambar awan mulu perasaan dari minggu lalu. Nggak bosen apa lo?"
Sebuah penghapus karet berbentuk kotak kecil mendarat tepat di tengah meja, membuyarkan fokusku. Aku mendongak dan mendapati Bimo, teman sebangkuku, sedang bersedekap menatapku dengan heran. Di sampingnya, ada Dika yang memutar bangku depannya menghadap ke arah meja kami.
Aku tertawa kecil, suara tawaku terdengar renyah dan ringan. Dengan cepat, aku memutar pensil di sela-sela jariku. "Nggak bakal bosen, Bim," jawabku dengan nada ceria. "Langit itu bentuknya beda-beda tiap menit. Kadang awannya kayak kapas yang ditarik-tarik, kadang kayak tumpukan es serut. Warnanya juga nggak pernah sama. Kalau nggak aku gambar sekarang, awan yang bentuknya persis kayak gini nggak bakal pernah ada lagi."
Bimo mendecak pelan, menggeleng-gelengkan kepalanya. "Iya, iya, si paling seniman. Tapi ya kali Ru, sesekali gambar cewek kek, atau motor sport. Gambar langit terus, pantesan hati lo adem ayem terus nggak pernah kelihatan marah."
"Emang kenapa kalau adem? Daripada kalian, ribut melulu dari tadi pagi," balasku polos, masih dengan senyum lembut yang tidak luntur dari wajahku. Aku kembali menunduk, melanjutkan arsiran tipis di bagian bawah awan untuk memberikan efek bayangan yang realistis.
Dika yang sedari tadi menyimak ikut terkekeh. "Biang ributnya kan si Bimo, Ru. Tadi pagi aja dia nyaris kena sita guru BK gara-gara ketahuan bawa kaset kompilasi lagu rock di dalam tasnya."
Aku ikut tertawa mendengar obrolan mereka. Berbincang dengan teman-temanku di kelas sambil tanganku sibuk menggambar adalah rutinitas yang paling kusukai. Meskipun anak-anak IPA 1 terkenal ambisius, geng kecilku ini lebih suka menjalani hari dengan santai. Aku suka mendengarkan cerita-cerita mereka. Kadang Dika bercerita tentang game di rental PlayStation 2 yang baru saja ia tamatkan, atau Bimo yang curhat tentang susahnya mendapatkan nomor SMS kakak kelas incarannya.
Sebagai remaja yang dikenal aktif dan ceria, aku tidak pernah keberatan menanggapi ocehan mereka. Bagiku, berteman itu sederhana. Selama kita bisa tertawa bersama, itu sudah lebih dari cukup. Aku tidak terlalu memikirkan hal-hal rumit seperti gengsi antar kelas, pertengkaran, apalagi sampai tawuran. Duniaku berputar di sekitar buku sketsa, warna-warni pensil, senyum teman-teman, dan udara tenang di kelas ini.
"Ngomong-ngomong, lo udah selesai belum ngerjain PR Matematika yang buat lusa, Ru?" tanya Dika tiba-tiba, matanya melirik ke arah tasku.
"Udah dong. Kenapa? Mau pinjam buat nyontek cara kerjanya, ya?" godaku sambil menyipitkan mata, tersenyum jahil ke arahnya.
Dika cengengesan. "Biasa, Ru. Penyelamat bangsa dan negara. Nanti gue traktir batagor deh di kantin."
"Boleh, tapi minumnya es teh manis juga, ya," kataku dengan mata berbinar, merasa menang. Aku memang sangat mudah dibujuk kalau urusannya sudah menyangkut jajanan kantin.
"Gampang! Apa sih yang nggak buat Biru Langit kesayangan kelas IPA 1," balas Bimo sambil tertawa, sengaja mengacak-acak rambutku sampai sedikit berantakan.
Aku hanya merengut manja sambil merapikan kembali poniku. Suasana kembali dipenuhi canda tawa. Kami menghabiskan sisa waktu jam kosong itu dengan obrolan-obrolan ringan yang mengalir begitu saja. Sesekali, aku menatap kembali ke luar jendela. Langit siang ini benar-benar biru terang. Sangat bersih. Aku berharap hari-hariku di SMA ini akan terus berjalan sedamai awan yang mengapung di luar sana.
Teng... Teng... Teng...
Suara bel istirahat berbunyi nyaring ke seluruh penjuru sekolah, mengalahkan suara derit kipas angin. Sorak-sorai anak-anak di kelasku langsung pecah. Jam istirahat adalah waktu yang paling ditunggu-tunggu setelah otak diperas habis-habisan oleh rumus eksak sejak pagi.
"Akhirnya!" Bimo langsung berdiri dan meregangkan otot-ototnya. "Kantin, kantin, kantin! Perut gue udah demo dari jam pelajaran Kimia tadi."
Dika ikut berdiri dan menepuk pundakku. "Ayo, Ru. Katanya mau batagor."
Aku tersenyum lebar. Dengan telaten, kumasukkan pensil dan penghapusku ke dalam tempat pensil kain. Kututup buku sketsaku dengan hati-hati-memastikan bubuk karbonnya tidak mengotori halaman lain-lalu memasukkannya ke dalam tas.
"Ayo!" kataku penuh semangat, berdiri dari kursiku.
Kami bertiga melangkah keluar dari kelas XI IPA 1, bergabung dengan arus siswa-siswi lain yang juga berhamburan menuju lorong utama. Suasana lorong langsung sesak dan bising. Orang-orang berlalu-lalang, berdesakan ingin cepat-cepat sampai ke kantin sebelum kehabisan tempat duduk. Aku berjalan dengan santai, mengobrol dengan Bimo yang sedang asyik menceritakan lelucon garingnya di sebelah kiriku.
YOU ARE READING
Biru Langit
General FictionTahun 2007 Dunia Aksara Biru Langit itu sangat sederhana. Sebagai anak IPA 1 yang ceria dan polos, kesehariannya berjalan sedamai awan-awan putih yang selalu ia gambar di buku sketsanya. Dunia Wahyu Gala Putra adalah kebalikannya. Sebagai dedengko...
