2. SOSOK YANG MENARIK

2 0 0
                                        

"Pokoknya aku nggak mau jemput azam lagi."

Ibu menatap putrinya itu dengan heran. Kenapa lagi dia? Pulang-pulang langsung pundung sendiri.

"Ada apa sih?" Ibu yang sedang asyik melipat baju di ruang tengah itu bertanya tanpa menoleh.

Alinea mendudukkan diri di samping ibunya sambil berdecak sebal. "Pokoknya aku nggak mau menginjakkan kaki di kampung itu lagi. Titik," putusnya tak ingin dibantah.

Ibu mencibir. "Halah." Bagi Ibu itu terdengar seperti omong kosong belaka.

"Ibu ihhh. Aku udah nggak punya mukaaaa." Tiba-tiba Alinea rewel sendiri. Ingatan bagaimana dirinya tersandung tadi benar-benar berhasil membuatnya rungsing sendiri.

Bisa-bisanya dia malah mengalami hal memalukan setelah dia dengan gaya sok-nya mengoreksi bagaimana cara laki-laki itu memanggil dirinya.

Kan kesannya kayak ... sukurin. Salah siapa sok banget jadi orang. Gitu nggak sih?

Argh. Pokoknya dia sudah tidak punya muka lagi.

"Kenapa lagi sih? Dari kemarin balik jemput azam kok ya adaa aja yang diributin? Kenapa, hm?" Kali ini Ibu betulan bertanya dan menatap anak bungsunya itu ingin tahu.

Biasanya putrinya ini adalah orang yang sangat santai dan bodo amat. Tidak se-overthingking ini.

Alinea menghela nafasnya panjang dan terasa begitu berat. "Aku malu nyeritainnya," gumamnya dengan bibir mengerucut.

"Lah? Gimana sih? Kalo kamu nggak cerita ya ibu jadi nggak tahu harus nanggepin kerewelanmu itu gimana," kata Ibu menggelengkan kepalanya.

Alinea merenung. Benar sih yang Ibunya katakan. Tapi, tetap saja malu sekali kalau harus menceritakan bagaimana dia memberikan klarifikasi mengenai hubungan dia dengan Azam kepada ustadznya keponakannya itu, lalu dia yang tersandung sandal tepat setelahnya.

Pasti nanti Ibu akan menertawakannya habis-habis.

"Nggak mau ah. Intinya, jangan suruh-suruh aku jemput azam lagi. Bilangin ke mbak." Setelah mengatakan itu, Alinea langsung beranjak menuju kamarnya, meninggalkan Ibu yang menggeleng heran melihat tingkahnya.

Alinea meraih hapenya yang dia tinggal tadi. Jujur, sampai sekarang dia masih malu kalau mengingat kejadian tadi.

Tapi, yang lebih membuatnya merasa terganggu adalah kenapa sekarang dia jadi kepikiran bagaimana image-nya di mata ustadz muda itu?

Jemarinya membua aplikasi sosial media yang begitu terkenal di berbagai kalangan. Dan hampir bisa dipastikan kalau semua orang memiliki akun di aplikasi itu. Tak terkecuali ustadz muda itu.

Alinea yakin sekali.

Jemarinya yang sudah hendak mengetikkan baris nama di kolom pencarian itu terhenti ketika teringat kalau dia kan tidak tahu siapa nama ustadz muda itu.

"Lah iya. Gimana sih?" Alinea merutuki dirinya sendiri.

"Kalau tanya ke ibu, nanti dikira gimana-gimana nggak, ya." Alinea mulai menimbang.

"Tanya siapa, ya."

Alinea mulai memikirkan siapa kiranya orang yang bisa dia tanyai soal itu.

"Tanya anisa tahu nggak, ya?" gumamnya teringat salah seorang temannya yang juga tinggal di kampung sebelah.

"Harusnya tahu nggak sih?"

Mencoba peruntungan, Alinea tak membuang waktu lama langsung mengetikkan sebaris kalimat pertanyaan untuk temannya itu lewat aplikasi tukar pesannya.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Aug 27 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

WAALAIKUMSALAM, ALINEAStories to obsess over. Discover now