Halo guys!!
Author balik lagi!
Kali ini Author nggk mau janji janji soal CRAZY UPPPPP. Dan Up nya pun kalau ada waktu luang.
Bodoh banget kan? Udah tahu sebok, sok sokan nulis.
Hehe😁
Sory ges, tangan Author gatal amat pengen nulis.
Buat readers yang malas nungguin, boleh masukin ke reading list kok, tapi jangan di lupain ya🥹
Okedeh, sekian.
Happy Reading 💫💋
▪︎•°°•▪︎
"Nona Sabel, setelah pemeriksaan mendalam pada ibu Anda, kami menemukan adanya penyumbatan pada aliran darah kehidupan di jantungnya-atau yang biasa kami sebut sebagai Kematian Senyap. Ini terjadi karena adanya penumpukan sisa racun makanan yang menyumbat pembuluh utama. Kondisi ini membuat jantung kekurangan pasokan darah dan udara, yang sewaktu-waktu dapat memicu serangan fatal yang membawa kematian mendadak."
Tabib tua itu mengelus janggutnya dengan raut wajah berat.
"Tindakan bedah dalam kondisi ini bersifat mutlak sebagai satu-satunya penyelamat nyawa, dan itu membutuhkan biaya yang sangat besar, Anda harus membayar sebesar lima ratus koin emas. Jika saja sejak awal Beliau dibawa ke menara pengobatan ini, mungkin penyumbatannya bisa diatasi dengan ramuan penawar. Namun melihat seberapa parah keadaan ibu Anda, diperkirakan penyakit ini sudah menggerogotinya selama tiga tahun terakhir."
Sabeline Awren yang mendengar penjelasan tabib itu seolah mati rasa. Ibunya, yang setiap harinya tetap tersenyum dan bekerja keras bersamanya sebagai pelayan di kediaman Grand Duke, ternyata menyembunyikan rasa sakit yang luar biasa selama ini agar tidak membebani dirinya.
'Bedah Jantung? Dari mana aku bisa mengumpulkan koin emas sebanyak itu dalam waktu singkat? Uang yang sebelumnya kukumpulkan dari upah paruh waktuku di kediaman Duke tentu tidak akan pernah cukup. Tapi ini demi Ibu... aku cuma punya Ibu di dunia ini. Aku harus mendatangi bibi' batin Sabel putus asa.
"Baik, Tabib. Saya usahakan untuk secepatnya mendapatkan biaya bedah ini. Namun saya mohon, tolong tetap jaga nyawa ibu saya," pinta Sabel dengan suara bergetar.
"Selamat atau tidaknya itu adalah kehendak Dewa, kami hanya bisa mengusahakan yang terbaik lewat ilmu tabib. Saya harap Anda segera mendapatkan biayanya, supaya tindakan bedah bisa dilakukan secepatnya sebelum terlambat."
"Baik, terima kasih, Tabib."
"Ya, kalau begitu saya permisi." Tabib tua itu pergi meninggalkan Sabel yang terpaku di depan ruang perawatan ibunya.
Sabel menghela napas panjang, menahan air mata yang mendesak keluar. Dia melangkah masuk ke dalam ruangan yang temaram. Di atas ranjang, terlihat ibunya terbaring tidak sadarkan diri.
"Bu, Sabel tinggal sebentar, ya. Sabel akan usahakan apa pun itu, supaya Ibu bisa bangun dan sehat lagi." Setelah membisikkan kalimat itu, Sabel mengeratkan jubah lusuhnya dan bergegas pergi meninggalkan menara tabib.
Sabeline Awren adalah seorang pelayan muda di kediaman seorang Duke. Dia hanya hidup berdua dengan ibunya. Ayahnya telah lama meninggal akibat kecelakaan kereta kuda saat dalam perjalanan menjemput tabib ketika ibunya hendak melahirkan Sabel dulu.
Mereka bukan dari kalangan atas, hidup berkecukupan dari upah sebagai pelayan di kediaman duke Cinder.
▪︎•°°•▪︎
