Ziella Casnova, adalah wanita manis yang periang dan pecinta alam. Ia adalah gadis yang baru saja pindah ke suatu tempat di mana itu adalah desa terpencil yang terkenal dengan nama desa Valais tepatnya di pegunungan Alpen karena kebanyakan di huni oleh para peternak atau pengembala domba begitu juga para perajut pakaian berbahan wol.
Pada kala itu, tepatnya di negara Swiss setelah terjadi peperangan internal pada tahun 1847 yang sudah resmi berakhir. Beberapa korban jiwa, salah satunya adalah ayah dari Ziella Casnova. Mereka pindah ke desa itu karena sudah tidak bisa hidup damai di perkotaan dengan keterbatasan ekonomi, tanpa adanya sosok suami dan juga peran ayah bagi Ziella. Mereka ikut dengan seorang kakak dari ibunda Ziella yaitu paman nya yang bersuka relawan memberi nya tempat tinggal, Paman nya bernama Sam dan ia adalah seorang perjaka tua yang memilih hidup sendiri dan tidak menikah.
"Bunda, Iel mau main ke ladang dulu ya!" teriak nya berpamitan kepada sang bunda sebelum berjelajah atau berpetualang untuk pertama kalinya di lingkungan barunya.
"Hati-hati! Banyak jurang di sana, jangan main di tepi!" peringatan sang bunda ntah didengarkan nya atau tidak, Ziella pergi berlari sambil menghadap ke belakang melambaikan tangannya dengan senyum manis nya. Sang bunda hanya bisa membalasnya dengan gelengan kepala dan senyuman di wajah nya.
Ziella pun memulai petualangan nya dengan menyapa para pengembala domba, sikap nya yang ramah membuat para penduduk mudah untuk menerimanya. Ia sesekali bermain bersama domba, berlari-larian dan juga memetik bunga di sekitar. Satu persatu bunga ia masukkan ke dalam keranjang yang ia bawa di lengan nya. Warna yang bercampur tidak hanya dengan satu warna, membuat sekumpulan bunga terlihat semakin cantik jika dipadukan.
Saat itu ia terlalu fokus mengambil bunga tanpa sadar sudah berada di dekat tepi jurang atau tebing. Pikirannya langsung tertuju kepada pesan sang bunda yang memperingatinya. Ia hendak kembali karena tidak ingin mengkhawatirkan sang bunda. Namun, pandangannya tertuju kepada seseorang yang berada tepat di tepi jurang berbaring di sana dengan santai nya menatap langit-langit.
"Itu siapa?" gumam nya sendiri penasaran dengan seseorang yang nekat berada di tempat berbahaya.
Ia pun menghampiri nya dengan rasa penasaran, ia mengintip dari atas dan menyapa nya ramah.
"Hai," sapanya yang membuat lelaki itu terkejut akan kehadiran seseorang yang tiba tiba muncul di atas nya dan sontak laki-laki itu terbangun.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya nya.
"Harusnya aku yang mulai bertanya terlebih dahulu, kau siapa?" tanya nya balik sedikit ketus karena merasa asing dengan orang yang di hadapan nya.
"Aku Ziella dan kamu bisa memanggil ku Iel, aku penduduk baru di tempat ini dan baru hari ini pindah. Lalu, apa yang kamu lakukan di sini? Kamu tidak takut mati?" tanya nya dengan polos dan wajah yang tersenyum ramah kepada lelaki di depan nya tanpa rasa takut apapun kepada orang asing yang padahal baru saja ia temui.
"Oh penduduk baru, aku Zeke. Hanya bersantai di tempat favorit ku dan memandangi langit," jawabnya santai.
Zeke pun berdiri tepat di hadapan tubuh kecil Ziella, dengan perbedaan tinggi yang cukup jauh. Tinggi Zeke yaitu 172cm jika dibandingkan dengan tinggi badan Ziella yang hanya 150cm itu sangat jauh. Ziella hanya menatap kaki nya dan melirik keranjang bunga di tangan nya sendiri, memiliki inisiatif ia mengambil sebatang bunga yang ia petik dan memberikannya kepada Zeke tanpa alasan apapun membuat pria yang berdiri di depan nya kebingungan dengan apa yang dilakukan Ziella.
"Untukmu, kamu terlihat seperti sedang sedih." Ia mengambil salah satu tangan Zeke dan meletakkan bunga di atas telapak tangan nya, senyuman manis nya tidak pernah luput dari paras nya.
"Iel!" Dari kejauhan terdengar suara wanita paruh baya yang memanggil namanya. Ia menoleh karena mendengar nama nya dipanggil, ia pun melirik ke arah Zeke secara singkat sebelum berpamitan padanya.
"Sampai jumpa, Zeke." Ia berlari sambil melambaikan tangan kepada seseorang yang baru saja ia ajak mengobrol.
Ziella dengan raut tanpa rasa bersalah hanya memainkan ujung rambutnya dengan jari sambil tersenyum lebar ketika berada dihadapan sang ibunda.
"Bunda," panggil nya sambil cengengesan.
"Kenapa main ke sana? Tadi sudah bunda peringati jangan pergi main di tepi jurang," omelan dari sang bunda yang khawatir kepada sang buah hati kecil nya.
Pria yang baru saja mendapatkan bunga dari seorang wanita memandangi bunga yang berada di genggaman nya dan mengingat ucapan yang dilontarkan padanya tadi saat memberikan bunga itu, dari kejauhan sosok wanita cantik yang tertawa bersama sang ibunda berhasil membuat Zeke memiliki rasa penasaran kepada wanita yang baru saja berada di dekatnya, sesungguhnya Zeke tidak menyukai bunga dan ketika ia mendapatkan nya dari wanita lain di desa nya ia selalu menolak atau membuang bunga pemberian dari mereka.
"Iel ya ..." gumam nya kembali menatap bunga yang ada di genggaman nya. Ia pun melangkah pergi dari tempat nya berada tanpa melepaskan bunga dari genggaman nya dan memilih pulang ke rumah nya. Ia tinggal hanya bersama kakak perempuan nya yang masih memiliki status wanita perawan. Saat sampai di rumah nya, Zeke mendekati kakak nya.
"Kak, punya vas bunga?"
Sang kakak menoleh mendengar pertanyaan dari sang adik. Penasaran dengan apa yang diminta sang adik, ia melirik ke tangan kanan nya melihat sebatang bunga di genggaman nya yang baginya bukan hal biasa.
"Seorang wanita memberikan mu bunga lagi? Aneh sekali, biasanya kau langsung membuangnya," ujar sang kakak berasumsi dengan apa yang ia lihat dari kebiasaan sebelumnya.
"Bukan, Zeke dapat dari seseorang," jawabnya sambil tersenyum melihat bunga nya.
"Kekasih kamu?" pertanyaan itu membuat Zeke terkejut.
"Bukan! Jadi ada vas bunga tidak?" tanya nya lagi sekalian mengalihkan topik.
Sang kakak tertawa untuk pertama kali nya ia melihat adik lelaki kesayangan nya itu tersenyum karena mendapatkan bunga dari seseorang. Ia pun bangkit dan meletakkan rajutan nya lalu pergi ke gudang untuk mencari vas bunga sesuai permintaan sang adik. Ia kembali membawa nya digendongannya, vas kecil yang cantik sesuai dengan warna bunga yang ia dapatkan yaitu warna putih.
Zeke pun langsung mengambil vas dari sang kakak dan berlari ke depan rumah sambil berteriak berterima kasih kepada sang kakak. Wanita yang berdiri memandangi nya berlari hanya tersenyum seolah berkata akhirnya melihat adik kembali tersenyum setelah sekian lama tidak ingin membuat senyuman yang sering di wajah nya.
Di sisi lain, Ziella juga menyusun bunga yang baru saja ia petik di ladang tadi ke sebuah vas bunga yang cukup besar. Wanita yang bercita-cita ingin membuka toko bunga di usia tua karena ia sangat menyukai bunga, salah satunya yaitu bunga Edelweis yang terkenal dengan julukan bunga abadi. Dan ia juga memiliki harapan yaitu selalu ingin memiliki hubungan abadi dari segala sisi seperti makna bunga Edelweis. Karena ada ketakutan yang tidak ingin ia rasakan lagi dari kehilangan sosok tersayangnya.
•••
Thank you for reading!
I hope you guys like the storyline.
There will be many surprises in the next story!
Happy reading^^
ESTÁS LEYENDO
Edelweiss of Aeternitas
FantasíaPernahkah kalian mendengar tentang bunga abadi? Bunga abadi yang tumbuh di pegunungan atau lembah rumput yang salah satunya berada di Swiss. Tempat di mana Ziella Casnova tinggal. Tempat ia mendapatkan petualangan yang tidak akan ia lupakan sepanjan...
