BAB 1

233 22 0
                                        

𝙃𝘼𝙋𝙋𝙔 𝙍𝙀𝘼𝘿𝙄𝙉𝙂 🧚‍♀️
.
.
.

Hujan turun deras memukul atap gedung tua OZ Entertainment.

Air merembes lewat sela-sela jendela yang retak, sementara suara petir sesekali mengguncang dinding ruang rapat yang nyaris kosong. Lampu putih di langit-langit berkedip pelan, seolah ikut merasakan nasib perusahaan ini yang tinggal menunggu ajal.

Aris menatap tumpukan berkas di meja dengan mata yang terasa berat dan kering.

Utang bank.
Tagihan investor.
Surat pemutusan kontrak dari artis-artisnya.
Dan yang paling menyebalkan sekaligus menyakitkan-

surat pengunduran diri grup idol terakhir yang tersisa.

"Bangsat..."

Ia menjatuhkan wajahnya ke atas meja, membiarkan kertas-kertas itu berserakan.

Selesai sudah.

Tujuh tahun membangun OZ Entertainment dari nol, berjuang mati-matian dari bawah, dan semuanya hancur lebur hanya dalam hitungan bulan.

Artis utama pindah ke agensi besar dengan tawaran manis. Investor menarik dananya begitu saja. Saham anjlok tak berdasar. Bahkan para trainee muda pun kabur diam-diam begitu rumor kebangkrutan tersebar di internet.

Sekarang, gedung megah yang dulu penuh tawa dan musik ini tinggal bangkai kosong.

"Direktur Aris."

Suara lembut sekretarisnya memecah keheningan. Aris mengangkat kepala pelan, menatap wanita itu yang berdiri di ambang pintu dengan wajah pucat pasi.

"Pihak bank kembali menghubungi kita, Pak."

"Tolak." Aris menjawab singkat, suaranya serak.

"Mereka bilang... jika pembayaran tidak masuk sebelum akhir bulan, proses penyitaan aset akan langsung dimulai."

Aris tertawa kecil. Tawa yang kering dan pahit.

Lucu.

Padahal kopi sachet di dapur saja sudah habis sejak minggu lalu.

Aset apalagi yang mau disita? Perabotan bekas ini? Atau gedung reyot ini sendiri?

"Dan satu lagi, Pak..." lanjut wanita itu dengan hati-hati, nyaris berbisik. "Para staf mulai bertanya, apakah gaji bulan ini tetap akan dicairkan?"

Ruangan itu mendadak menjadi sunyi sepi. Hanya suara hujan yang terdengar makin kencang di luar.

Aris memejamkan mata rapat-rapat.

Bodoh. Ia bahkan tidak punya uang sisa untuk makan dirinya sendiri.

Jas yang dipakainya ini sudah bertahan tiga tahun lebih. Mobilnya hampir ditarik pihak leasing minggu lalu. Dan tadi pagi, pemilik apartemen mengancam akan mengganti kunci pintu jika ia telat bayar sewa lagi.

CEO paling menyedihkan sepanjang sejarah industri hiburan.

"Direktur?"

"Kau boleh keluar dulu."

Wanita itu ragu sejenak, sebelum akhirnya membungkuk kecil dan menutup pintu pelan-pelan.

Klik.

Kembali sendiri.

Aris menatap logo besar OZ Entertainment yang terpasang di dinding depan ruangan. Dulu ia sangat bangga bisa melihat nama itu terpampang megah. Sekarang, melihatnya saja rasanya sedang menatap batu nisan miliknya sendiri.

Tiba-tiba ponselnya bergetar pelan di atas meja.

Nomor tidak dikenal.

Aris mengangkatnya dengan malas, tanpa semangat sedikit pun.

"Kalau ini penagih utang atau bank, saya sarankan bawa senjata saja sekalian dan bunuh saya sekarang. Lebih cepat lebih baik."

Suara berat, tenang, dan sama sekali tidak ia kenal terdengar dari seberang.

"Aku punya cara buat menyelamatkan agensimu."

Aris langsung diam. Jantungnya berdetak aneh.

"Siapa ini?"

"Orang yang tahu persis kalau kau cuma punya waktu sisa tiga bulan sebelum resmi bangkrut"

Tatapan Aris langsung menajam. Rasa malasnya berubah jadi curiga.

"Kalau mau menakut-nakuti atau main-main, cari orang lain. Aku sedang tidak ada waktu."

"Aku tidak sedang bercanda, Aris."

Sunyi beberapa detik. Suara hujan terdengar makin jelas lewat sambungan telepon.

Lalu pria itu kembali bicara, perlahan dan berat.

"Kau butuh grup baru."

"Grup yang bisa meledak popularitasnya dalam semalam."

"Dan kebetulan sekali... aku punya kandidat yang pas buatmu."

Aris hampir saja mematikan sambungan itu. Sudah terlalu sering ia ditipu oleh calon investor bodong, produser gagal, atau orang-orang aneh yang menawarkan mimpi kosong.

"Dengar, aku sedang tidak mau main tebak-tebakan-"

"Mereka tampan."

"Berbahaya."

"Dan tidak punya pilihan selain bekerja di bawah perintahmu."

Kalimat terakhir itu membuat niat Aris untuk menutup telepon hilang begitu saja. Ada sesuatu di nada bicaranya yang terdengar begitu serius... dan mengerikan.

"Apa maksudmu?"

Namun panggilan itu lebih dulu terputus begitu saja.

━━━━━━━━━━


Malam itu, Aris sadar betul hidupnya resmi hancur, saat ia berdiri mematung di depan sebuah klub bawah tanah ilegal di pinggiran kota.

Lampu neon merah berkedip samar di atas pintu besi yang berkarat dan tertutup coretan. Musik berdentum keras dari dalam, menggetarkan tanah tempatnya berdiri.

Bau alkohol, asap rokok, dan sesuatu yang amis darah bercampur menjadi satu memenuhi udara.

"Aku benar-benar gila..." gumamnya pelan.

Ia mengecek ulang pesan anonim yang masuk tadi.

Datang sendiri. Kalau takut mati, lebih baik jangan masuk.

"Sialan... harusnya aku langsung pulang aja."

Namun entah kenapa, kakinya malah melangkah maju mendorong pintu berat itu.

Begitu pintu terbuka-

Suara teriakan dan sorakan keras langsung menghantam gendang telinganya.

Di depannya ada arena pertarungan liar. Ratusan orang bersorak liar, berdesak-desakan mengelilingi ring besi kotor di tengah ruangan. Darah sudah menempel kering maupun basah di lantai semen, uang taruhan beterbangan ke mana-mana.

Dan tepat di tengah ring itu-

Seorang pria sedang memukuli lawannya tanpa ekspresi sedikit pun.

BUK.

Satu pukulan keras tepat di wajah.

Lawan itu langsung roboh tak berdaya.

Tapi pria yang memukulnya tidak berhenti. Ia terus menghajar tubuh yang sudah tergeletak itu, bahkan saat bel tanda selesai sudah berbunyi panjang.

Sorakan penonton berubah jadi histeris.

"Hei! Berhenti! Dia sudah pingsan, gila ya?!"

"MATI AJA SANA!"

"HAHAHA BUNUH DIA!"

Aris membeku di tempat.

Perlahan, pria di atas ring itu mengangkat wajahnya ke arah pinggir lapangan.

Tatapannya tajam, dingin, dan asing.
Rahang dan pipinya penuh percikan darah.
Dan matanya... matanya benar-benar kosong.

Persis seperti binatang buas yang baru saja dilepas dari kandang.

Lalu-

Ia tersenyum kecil. Senyum yang sama sekali tidak sampai ke matanya.

Jantung Aris langsung turun ke kaki. Rasanya mau pingsan saat itu juga.

"Yang itu cocok banget jadi Center."

Aris menoleh kaget ke samping.

Seorang pria tua duduk santai di kursi belakangnya, sambil memegang sebatang rokok yang mengepul. Wajahnya keriput tapi matanya tajam meneliti setiap sudut ruangan.

"Ka-kau siapa?"

Pria itu terkekeh pelan.

"Orang yang meneleponmu tadi."

Ia menunjuk ke arah ring dengan ujung jarinya.

"Namanya Rex. Umur dua puluh dua. Dulu pembunuh bayaran kelas atas, sampai akhirnya dikhianati bosnya sendiri."

"...Apa?" Aris nyaris tersedak ludah sendiri.

"Yang duduk di pojok sana, rambut hitamnya acak-acakan? Mantan hacker internasional, dicari Interpol karena membobol sistem bank dunia. Yang rambut putih panjang itu? Anak ketua mafia kota sebelah, lari karena konflik internal. Yang bertato di leher? Mantan bandar senjata paling laku di pasar gelap."

Aris perlahan menoleh mengikuti arah tunjukannya.

Dan baru sekarang ia sadar...

Ada beberapa pria lain yang sejak tadi duduk diam di sudut ruangan, dan semuanya sedang menatap lurus ke arahnya.

Tatapan mereka bikin tengkuk Aris terasa dingin membeku.

Seolah-olah mereka sedang memperhatikan, memilih, dan menghitung bagian tubuh mana dari Aris yang paling mudah untuk dipatahkan.

"...Aku mau pulang."

Pria tua itu tertawa keras sampai terbatuk-batuk.

"Terlambat, Nak."

Ia melempar sebuah map tebal berwarna hitam ke atas meja di depan Aris. Sampulnya polos, hanya ada tulisan putih tegas di tengahnya.

NEO-X PROJECT

"Selamat bergabung di proyek idol paling berbahaya, paling berisiko, dan paling gila dalam sejarah industri hiburan."

.
.
.

To be continued...

CRIMINAL IDOLStories to obsess over. Discover now