Hujan turun perlahan di kota yang tidak pernah benar-benar tidur.
Bukan hujan deras yang mengganggu. Hanya rintik tipis yang menempel di kaca jendela, membentuk garis-garis kecil yang bergerak pelan, seperti sesuatu yang mencoba menghapus dunia di luar sana-tanpa benar-benar berhasil.
Di dalam sebuah ruangan yang nyaris tanpa cahaya, hanya ada satu sumber suara.
Sebuah lagu.
Diputar berulang-ulang.
Suara wanita itu lembut. Hangat. Terlalu indah untuk terdengar nyata. Setiap nada terdengar seperti bisikan yang sengaja ditinggalkan untuk seseorang-untuk didengar sendirian, di tengah malam seperti ini.
Jarum jam di dinding bergerak pelan.
Detiknya terdengar lebih keras dari seharusnya.
Tik.
Tik.
Tik.
Lagu itu berhenti.
Lalu diputar lagi.
Dan lagi.
Dan lagi.
Seolah-olah seseorang di ruangan itu belum siap membiarkannya berakhir.
Di atas meja, tergeletak beberapa lembar kertas. Bukan surat yang rapi. Lebih seperti potongan-potongan pikiran yang dipaksakan menjadi kalimat.
Ada yang ditulis dengan tinta yang hampir habis.
Ada yang dicoret.
Ada yang ditindih oleh tulisan baru, lebih dalam, lebih menekan-seakan setiap huruf menyimpan sesuatu yang tidak bisa diucapkan dengan suara.
Sebuah nama muncul berulang kali di antara kalimat-kalimat itu.
Hazel.
Hazel.
Hazel.
Di sampingnya, layar ponsel menyala redup.
Menampilkan sebuah video.
Seorang wanita berdiri di atas panggung, dibanjiri cahaya.
Ribuan orang bersorak memanggil namanya.
Senyumnya sempurna-terlalu sempurna.
Ia terlihat seperti seseorang yang memiliki segalanya.
Seseorang yang tidak seharusnya merasa takut.
Video itu dijeda tepat di detik di mana ia menutup mata, seolah tenggelam dalam lagu yang ia nyanyikan sendiri.
Seseorang di ruangan itu memperhatikan adegan itu lebih lama dari yang diperlukan.
Lalu... menggeser layar.
Ada banyak foto lain.
Sudut-sudut yang tidak seharusnya ada.
Hazel keluar dari hotel, wajahnya tertutup masker.
Hazel masuk ke mobil, menunduk, tergesa.
Hazel duduk sendirian di balik jendela kaca sebuah restoran, tidak menyentuh makanannya.
Gambar-gambar itu tidak diambil dari jauh.
Terlalu dekat.
Terlalu jelas.
Seolah-olah... diambil oleh seseorang yang berdiri hanya beberapa langkah darinya.
Lampu kecil di sudut ruangan berkedip pelan.
Untuk sesaat, semuanya terlihat diam.
Lalu tangan itu bergerak.
Mengambil salah satu lembar kertas.
Melipatnya perlahan.
Tidak terburu-buru.
Tidak ragu.
Seolah-olah keputusan itu sudah diambil sejak lama.
Di bagian bawah kertas, ada satu kalimat yang tidak dicoret.
Tulisannya lebih rapi dari yang lain.
Lebih tenang.
Lebih pasti.
You were never meant to belong to the world.
Sebuah amplop kosong ditarik mendekat.
Kertas itu dimasukkan ke dalamnya.
Ditekan.
Dirapikan.
Di luar, hujan mulai sedikit lebih deras.
Suara lagu itu kembali diputar.
Dan di layar ponsel-video itu bergerak lagi.
Hazel membuka matanya.
Sorotan lampu panggung jatuh tepat di wajahnya.
Cantik. Bersinar. Tidak tersentuh.
Untuk semua orang.
Kecuali satu.
Lampu di ruangan itu akhirnya padam.
Gelap.
Namun lagu itu... tetap berjalan.
YOU ARE READING
The Last Note
RomanceThe Spotlight Kills. Bagi dunia, Hazel Eloise Adams adalah cahaya. Suaranya adalah keajaiban, wajahnya adalah impian, dan hidupnya adalah kesempurnaan yang dipuja jutaan orang. Namun di balik riuh tepuk tangan, ada bisikan kematian yang mengikuti s...
