8. Unspoken Step

71 11 2
                                        

Suasana di dalam VIP private lounge Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta siang itu begitu tenang, kontras dengan hiruk-pikuk ribuan calon penumpang di luar sana. Di balik jendela kaca besar, mesin pesawat yang akan membawa Soraya Mahendra ke Paris sudah mulai bersiap.

"Waktu kamu hanya lima belas menit sebelum saya harus naik ke pesawat, Radevan," ujar Soraya tanpa basa-basi, jemarinya yang lentik menyesap espresso yang dipesannya sebelum memasuki lounge.

"Lima menit sudah cukup untuk menjelaskan mengapa tatanan panggung yang baru ini lebih menguntungkan untuk visualisasi gaun-gaun Anda, Bu Soraya," balas Radevan, tidak terpengaruh dengan tekanan yang diberikan.

Radevan menggeser map kulit berwarna hitam di atas meja marmer, tepat di samping cangkir porselen Soraya yang masih mengepulkan uap tipis. Gerakannya tenang, presisi, tanpa ada getaran sedikit pun, meski di luar sana suara mesin pesawat mulai menderu rendah di kejauhan.

​"Ini revisi terakhir untuk layout pencahayaan dan alur pelayanan di acara Anda nanti. Saya sudah menyesuaikan sensor lampunya. Ruangan akan gelap total, persis seperti keinginan Anda. Lampu hanya akan mengikuti pergerakan model, jadi fokus tamu tidak akan terbagi."

Perempuan 50 tahun itu tidak langsung menyentuh dokumen itu. Soraya justru menatap Radevan melalui kacamata hitam yang bertengger di kepala. Jemarinya yang mengenakan cincin berlian besar mengetuk meja pelan. "Dan soal aroma makanan? Saya tidak mau gaun-gaun cantik saya tercium seperti bau daging panggang, Radevan."

"Tentu, Bu." Radevan mengangguk cepat sembari sedikit mencondongkan tubuhnya untuk memberikan penekanan. "Hidangan hanya akan keluar saat jeda acara. Sistem ventilasi di ballroom sudah saya tingkatkan kapasitasnya dua kali lipat untuk memastikan udara kembali netral dalam waktu tiga menit. Anda punya standar estetika, dan saya pastikan tim saya bisa mengimbanginya secara profesional."

Mendengar itu, Soraya akhirnya menarik dokumen yang diberikan Radevan. Ia membolak-balik halamannya dengan gerakan yang efisien. Matanya memindai setiap detail dengan ketajaman yang hanya dimiliki orang berpengalaman. Radevan pun menunggu dalam diam. Baginya, menghadapi Soraya selalu terasa seperti sedang menjinakkan bom waktu. Satu kesalahan kecil saja, reputasi hotelnya di mata kaum elit bisa hancur.

Soraya Mahendra bukanlah sekadar sosialita yang hobi menghamburkan uang di butik-butik Eropa. Di balik gaya bicaranya yang tajam dan sikapnya yang sering dianggap congkak, ia adalah Penentu Standar Elit Jakarta. Soraya merupakan pemegang kendali Mahendra Foundation, salah satu yayasan amal terbesar Indonesia yang memiliki jaringan koneksi hingga ke kolektor seni di New York dan desainer ternama di Paris.

Radevan sendiri sangat menghormatinya karena Soraya adalah perwujudan dari standar yang ia agungkan, integritas di atas segalanya. Kendatipun sering menuntut hal-hal yang cukup membuat pening, Soraya tidak pernah bermain-main dengan kualitas. Baginya, satu persen ketidaksempurnaan adalah kegagalan total. Bagi Radevan, Soraya adalah sedikit dari sekian banyak orang di lingkaran sosialita yang benar-benar mengerti arti eksklusivitas yang sesungguhnya, bukan sekadar pamer kekayaan, melainkan sebuah dedikasi pada nilai estetika dan kemanusiaan.

"Oke, saya rasa ini masuk akal," gumam Soraya akhirnya. Ia meraih pena di samping map dan menandatangani berkas tersebut dengan mantap. "Saya pegang janji kamu, Radevan. Saya sudah membatalkan rencana di Singapura demi mengadakan acara ini di Basunjaya. Jangan sampai mengecewakan."

"Saya tidak punya kebiasaan mengecewakan klien saya, Bu," balas Radevan dengan nada percaya diri yang tenang.

Sambil mengangguk—mengakui kalimat sombong yang keluar dari bibir Radevan—Soraya menutup dokumen itu, lalu melirik jam tangan emasnya. Ia bangkit berdiri, secara otomatis asisten yang sedari tadi berdiri di sudut ruangan segera mendekat untuk mengambil tasnya. "Saya harus segera boarding."

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: May 11 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Urgently CoupleStories to obsess over. Discover now