"Sebelas monster bertemu satu malaikat. Mereka tidak saling kenal, tapi darah mereka saling memanggil."
---
Ara Vania
"Ara! Cepat siapkan sarapan! Kau ini anak tidak tahu diuntung, sudah ditampung malah bermalas-malasan!"
Suara lengkingan itu memecah keheningan pagi. Ara, gadis dengan mata bulat bening, tersentak dari tidurnya di atas kasur tipis di sudut dapur. Ia segera bangkit, mengabaikan rasa nyeri di punggungnya.
"Iya, Bu... maaf, Ara segera buatkan," sahutnya lembut. Tidak ada amarah, hanya kepolosan yang tulus.
---
Perjalanan ke SMA Garuda
Ara turun dari angkot dengan perasaan campur aduk. Di depannya berdiri megah SMA Garuda. Namun, langkahnya terhenti saat melihat kerumunan di gerbang.
Sebelas motor besar hitam legam terparkir rapi. Sebelas laki-laki dengan jaket kulit bertuliskan 'Black Cobra' berdiri di sana. Mereka adalah Keluarga Adiwangsa, penguasa sekolah.
Siswa lain memilih berputar jauh. Tapi Ara yang polos justru berjalan lurus ke arah mereka.
"Permisi... Kakak yang ganteng, apa aku boleh lewat?" suara Ara terdengar kecil tapi berani.
Arkaan, sang sulung yang sedang menyalakan korek api, terhenti. Ia menatap gadis mungil di depannya. Seragam kebesaran, pita pink kusam, dan tas dengan gantungan kelinci.
"Lo siapa? Berani banget lewat jalur gue," tanyanya dingin.
Ara tidak mundur. Ia justru mendekat, merogoh saku seragamnya, dan mengeluarkan sebuah permen loli stroberi.
"Satu permen dari gadis mungil itu mengubah segalanya. Tiba-tiba dunia yang hitam putihku berwarna."
"Nama aku Ara, Kak. Aku murid baru. Ini permen untuk Kakak karena sudah jagain gerbang pagi-pagi. Pasti capek, ya?"
Ia meraih tangan besar Arkaan yang penuh tato, lalu meletakkan permen itu di sana.
"Jangan galak-galak, nanti cepat tua. Dah, Kakak Ganteng!"
Ara melambaikan tangan dengan riang dan berlari kecil masuk ke gedung sekolah, meninggalkan Arkaan dalam keheningan total.
---
Reaksi Arkaan
Arkaan mematung. Ia menatap permen di tangannya.
"Untuk pertama kalinya dalam 17 tahun, jantung sang ketua mafia itu berdenyut nyeri—bukan karena luka, tapi karena rasa hangat yang tiba-tiba menyerang dadanya."
"Siapa lo sebenarnya, bocil?" bisiknya, suaranya serak.
Di kejauhan, Bara dan Bimo, si kembar temperamental, saling pandang. Biasanya mereka akan langsung memaki orang asing yang berani menyentuh kakaknya. Tapi kali ini, mereka hanya diam.
"Bang... anak itu..." Bara terbata-bata.
Arkaan tidak menjawab. Ia memasukkan permen loli itu ke dalam saku jaket kulitnya dengan gerakan sangat hati-hati, seolah itu adalah benda rapuh.
"Gue nggak pernah takut pada siapa pun. Tapi gue takut kalau dia pergi lagi."
"Jangan ada yang sentuh dia," desisnya tajam. "Gue mau tahu semua tentang gadis itu. Sekarang."
---
Sementara di dalam kelas
Ara berjalan menyusuri koridor dengan langkah ringan. Ia tidak tahu bahwa setiap langkahnya sedang diawasi.
Ia sampai di depan Kelas 10-A. Begitu ia masuk, suasana kelas yang tadinya bising mendadak senyap.
"Jadi ini anak beasiswa itu? Penampilannya payah banget," bisik salah satu siswi dengan nada merendah.
YOU ARE READING
Bintang Yang Hilang
RomanceSatu tangisan untuk dunia, satu nyawa untuk keluarga Adiwangsa." Tujuh belas tahun lalu, keluarga Adiwangsa kehilangan cahaya mereka. Putri bungsu yang paling dinanti, Ara Vania Adiwangsa, lenyap tanpa jejak di malam kelahirannya. Meninggalkan luka...
