"Ini hasil dari perjalanan riset ke Prancis?" tanya Radevan sambil melangkah mendekati hidangan yang sudah disiapkan di atas meja.
Selain surprise visit dari Radevan saat morning briefing, food testing akan selalu menjadi mimpi buruk untuk Tim F&B. Dapur bukan lagi tempat untuk memasak saat hari itu tiba, melainkan ruang sidang. Setiap kali sendok Radevan menyentuh piring, para koki akan menahan napas.
Puluhan staf dapur berdiri mematung di posisi masing-masing. Chef eksekutif berdiri paling depan dengan tangan tertaut di belakang punggung, mencoba menyembunyikan keringat dingin di sela-sela jemarinya. Sementara di sudut ruangan, manajer tim F&B terus melirik jam tangannya, takut jika mereka akan menghadapi revisi masakan yang tak kunjung usai. Bagi mereka, satu kata "buang" dari Radevan berarti kerja keras tim selama berminggu-minggu dianggap sampah.
Di tengah ruangan, berdiri Radevan Basunjaya. Ia telah menanggalkan jas formalnya, menyisakan kemeja putih dengan lengan yang digulung rapi hingga siku, menonjolkan urat-urat tangannya yang tegang. Matanya yang tajam menatap sebuah piring porselen di depannya.
"Jelaskan pada saya ...." Suara rendah Radevan kembali bergema rendah. "Apa yang membuat menu ini layak masuk ke daftar Grand Dinners Basunjaya, Chef?"
Marco berdeham, mencoba mengumpulkan kepercayaan dirinya. "Menu ini adalah interpretasi ulang dari bouillabaisse tradisional yang saya temukan di restoran kecil saat mengunjungi Marseille. Saya terinspirasi dari bagaimana mereka mengekstraksi makanan laut tanpa kehilangan kesegarannya. Saya ingin membawa cita rasa Mediterania itu ke sini, tapi dengan sentuhan lokal agar lebih akrab di lidah mayoritas tamu kita."
"Hanya itu?" Radevan mengerutkan alis.
"Kaldunya saya rebus dengan api kecil hingga mengental, lalu saya campur dengan bahan racikan saya sendiri sehingga menciptakan rasa yang belum pernah ada di hotel mana pun di Jakarta. Ini adalah tentang kemewahan dalam kesederhanaan."
"Tapi kita semua juga pasti tahu bahwa tamu Basunjaya Hotel reservasi bukan membayar sebuah kesederhaan, mereka datang untuk pengalaman yang tidak bisa didapatkan di tempat lain. Jika rasanya seperti sup ikan biasa yang sedikit lebih kental, maka Anda baru saja menyia-nyiakan anggaran hotel untuk berjalan-jalan ke luar negeri."
Detik itu juga, menelan saliva rasanya sangat menyiksa bagi Marco. Dia tidak berani menatap lama-lama ke arah Radevan yang sudah menaikkan sebelah alisnya.
"Aromanya memang lumayan kuat, tapi saus pelengkapnya masih biasa saja."
"Saya ...." Marco mengusap tengkuknya, berusaha menghapus keringat dingin yang mulai membasahi kerah seragam putihnya. "Saya takut jika sausnya kuat juga, lidah tamu lokal tidak merasa cocok, Pak."
"Itulah kesalahan terbesar Anda, Chef," sahut Radevan dengan telak. "Jangan pernah merendahkan lidah tamu dengan menyajikan versi yang dilokalkan. Jika Anda ingin menyajikan marseille dengan cita rasa Mediterania, berikan rasa yang otentik. Jangan setengah-setengah."
"Maaf, Pak."
Hening sejenak. Seluruh staf dapur menahan napas, menunggu kalimat perintah untuk membuang masakan Marco yang bisa saja keluar dari mulut Radevan. Namun, sang General Manager justru kembali mengambil sendok, menyesap kaldunya sekali lagi, lalu mengangguk kecil—hampir tak terlihat.
"Potensinya ada. Rasa kaldunya cukup menjanjikan," ucap Radevan seketika. "Saya setuju menu ini masuk grand dinners. Tapi dengan beberapa syarat."
"Apa, Pak?" tanya Marco dengan mata yang kembali berbinar. Demi Tuhan, dia akan memenuhi semua syarat Radevan asalkan kerja keras dirinya dan seluruh tim tidak berakhir sia-sia. Terlebih, supaya Marco tidak hanya dianggap menyia-nyiakan anggaran dengan jalan-jalan ke luar negeri.
YOU ARE READING
Urgently Couple
RomanceWindy sadar bahwa hidup ini hanya panggung sandiwara yang bersifat sementara. Sayangnya, di hidup yang hanya sekali ini, dia tidak pernah mencicipi bagaimana rasanya menjadi 'tujuan'. Windy selalu menjadi persinggahan untuk semua orang, beberapa men...
