Angin sore berhembus pelan, udara hangat menyelimuti, tapi kediaman Shindo tetap terasa dingin-sebuah kontras yang sudah menjadi rutinitas. Tawa dan teriakan tuannya hanya gema kosong, dan semua pelayan tahu itu. itu kegilaan, kekosongan.
Tadashi Kikuchi, orang yang paling dekat dengan tuannya itu, atau lebih tepatnya jarak fisik mereka, tapi entah sejak kapan jarak di antara mereka terasa semakin melebar walaupun tadashi selalu beberapa langkah dibelakang Ainosuke shindo.
Tadashi juga merasa bersalah, karna telah mengajarkan skateboard kepada Ainosuke Shindo, tuannya, atau bisa dibilang Adam, sang matador cinta di S, ia menciptakan Adam secara tidak sengaja.
Tadashi berjalan ke ruangan tuannya itu, ia siap mengahadapi kegilaan tuannya itu, entah kegilaan apalagi yang akan tuannya buat hari ini.
Pintu itu terbuka, Tadashi masuk sambil menatap pria berambut biru dan berpakaian rapi itu, dengan senyum yang selalu lekat diwajahnya.
Ainosuke: "Nee Tadashii sudah datang ternyataa~"
Kata Ainosuke sambil memainkan pulpen ditangannya, menatap Tadashi tatapan yang sama seperti biasanya, Tadashi terdiam, jantungnya berdetak lebih cepat, namun cepat-cepat ia sadarkan dirinya dan menjawab tuanya itu
Tadashi: "Ainosuke-sama... Sepertinya anda memiliki jadwal rapat beberapa jam lagi..."
Ainosuke: "Mmm... Ya ya tadashi memang selalu begitu, hanya memperdulikan jadwal meeting, tidak pernah benar-benar memperhatikan tuannya yaa~"
Tadashi: "... Ainosuke-sama... Maafkan aku... Meeting anda memang penting..."
Ainosuke: "Meeting, meeting meeting... Membosankan tau? Hei... Sebelum bahas meeting... Jawab pertanyaan ku ini... Jangan bohong padaku"
Tadashi: "... Baik... Apapun pertanyaan anda akan saya jawab"
Ainosuke: "Tadashi... aku ingin bertanya... Aku penasaran kenapa kau tetap disini... Padahal... Kau bisa pergi kan?"
Tadashi terdiam, tubuhnya terasa tegang, ia sudah menyiapkan ribuan kemungkinan hal yang akan tuannya itu lakukan... Namun ini tidak pernah ia duga, ia hampir kehabisan jawaban, hal yang langka untuk seorang Tadashi
Ainosuke: "Kenapa kau diam saja... Tadashi jawab aku..."
Tadashi: "..."
Ainosuke: "Tadashi..."
Tadashi: "Saya adalah anjing anda selamanya, saya adalah asisten anda... Ainosuke-sama"
Ainosuke: "Jawaban yang sangat tadashi... Anjing, asisten, hal hal yang beriringan dengan kewajiban ya? Kau bisa pergi jika hanya itu alasannya tadashi... Jawab aku dengan jujur... Kenapa kau tetap disini?"
Tadashi: "... Tetap itu jawaban saya, Ainosuke-sama..."
Ainosuke: "Kita bersama terlalu lama Tadashi, aku tau ketika kau berbohong padaku, Tadashi... Jawab aku"
Tadashi membuka mulutnya, lalu menutup nya lagi, terus begitu, Ainosuke mendekatkan wajahnya ke arah Tadashi, tadashi mengalihkan pandangannya. Namun Ainosuke memegang dagunya dan memaksa tadashi menatapnya
Ainosuke: "Tadashi... Kau punya alasan lain selain kewajiban kan..."
Itu bukan pertanyaan, itu pernyataan, suara itu terdengar penuh harap. Sudah berusaha ditekan tapi masih tetap terlihat
Tadashi: "..."
Tadashi: "Ainosuke-sama ini... Tidak profesional... Saya... Hanya..."
Tadashi menunduk, tidak bisa berkata apapun lagi, tidak mungkin ia berkata ia menyukai tuanya itu kan? Tidak mungkin ia mengatakan ia masih mencari sosok anak kecil yang tertawa ketika ia ajari skateboard kan? Tidak mungkin ia mengatakan ia merindukan sosok anak kecil itu kan? Tidak... Tentu saja tidak mungkin
Tadashi merasakan sepasang tangan besar merayap ketubuhnya,agak ragu, jarang untuk seorang seperti Ainosuke shindo, Ainosuke membawa pria didepan nya kedalam sebuah pelukan, hal yang tidak pernah keduanya duga akan terjadi, Ainosuke sendiri terkejut dengan hal yang ia lakukan tapi ia tidak melepaskan pelukan itu, malah mengeratkan nya
Tadashi merasakan aroma parfum ainosuke yang ia hafal dari luar kepala terasa sangat dekat sekarang, jantungnya berdebar tak terkendali, satu detik terasa seperti beberapa jam, dentuman jam dinding terasa lebih keras, mengisi keheningan didalam ruangan itu
Ainosuke: "Hei... Aku lelah tau... Lelah menjadi ekspektasi orang-orang... Lelah menjadi seseorang yang harus sempurna... Tadashi... Kau satu-satunya orang yang hanya menatapku seolah aku anak yang kesepian Tadashi..."
Waktu terasa terputar kembali mengingatkan tadashi pada awal pertemuan mereka, kepada hari dimana pertama kali tadashi bertemu Ainosuke yang sedang diam-diam menangis setelah dimarahi, tadashi mengajak anak itu untuk bermain skateboard, mengajarinya, anak yang dulu tertawa ketika jatuh, lalu... Ketika tuannya itu remaja, skateboard itu dibakar oleh ayah Ainosuke, Tadashi hanya diam, dengan statement bahwa pelayan tidak punya pendapat, diam melihat orang yang sangat ia sayangi hancur perlahan, ia tau Ainosuke hancur saat itu, sangat hancur, namun ia hanya bisa diam
Waktu kembali, Tadashi terdiam tak tahu harus berkata apa lalu perlahan membalas pelukan itu, ragu-ragu ia menaruh tangannya ke pundak pria di depan nya itu, menepuk-nepuk pundaknya
Tadashi: "Ainosuke-sama... Sudah sudah... Aku disini..."
Ainosuke: "Tadashi... Aku... Aku..."
Tadashi: "Iya Ainosuke-sama?..."
Ainosuke: "Apa alasan mu masih disini... Aku tidak mau alasan tentang kewajiban..."
Tadashi: "Hah... Ainosuke-sama... Aku... Aku... Karna rasa bersalah... Saya merindukan anak kecil yang dulu tertawa saat jatuh dari skateboard... Anak kecil dengan mata pink yang bersinar... Menatap saya dengan keceriaan..."
Tetap saja tidak ia katakan soal mencintai Ainosuke Shindo... Namun setidaknya yang ia ucapkan bukan kebohongan kan?
Ainosuke mengeratkan pelukannya itu, air matanya mengalir tanpa sadar, lalu perlahan mengangkat wajahnya, menatap pria yang kini menatapnya dengan tatapan teduh, ainosuke mencium Tadashi, ia tidak tau lagi apa yang harus dia lakukan, tapi akhirnya dia mencium Tadashi
Ainosuke: "Tadashi... Aku..."
Tadashi: "iya... Ainosuke-sama?..."
Ainosuke mengeratkan lagi pelukan itu lalu berkata...
Ainosuke: "Aku mencintaimu... Tadashi aku mencintaimu..."
Tadashi: "..."
To be continued
Wokwokwok gimana reader? Lumayan ga?
YOU ARE READING
The Distance of Three Steps - Ainosuke & Tadashi
Fanfictionart from Pinterest hehehe Semua orang mengenal Ainosuke Shindo sebagai sosok yang gila, arogan, dan tak tersentuh. Namun bagi Tadashi Kikuchi, di balik senyum itu masih ada seorang anak kecil yang pernah tertawa saat belajar bermain skateboard. Keti...
