01 Rumah

15 2 0
                                        

Senja bangun sebelum alarmnya berbunyi. Bukan karena dia rajin, tapi karena sudah terbiasa bangun lebih dulu dari semua orang di rumah itu.

Dapur masih sepi saat dia turun. Piring semalam belum dicuci, meja masih berantakan. Tanpa banyak pikir, Senja langsung merapikan satu per satu. Tangannya bergerak cepat, seperti rutinitas yang bahkan nggak perlu dipikirkan lagi.

"Senja."

Suara ibunya terdengar dari belakang.

"Iya, Ma."

"Kamu udah isi air panas belum? Adik kamu nanti mau mandi."

"Belum, Ma. Ini lagi—"

"Yaudah, cepetin. Jangan lama-lama."

"Iya."

Senja mengangguk pelan, walau ibunya bahkan nggak benar-benar melihatnya.

Langkah kaki lain terdengar dari tangga. Lebih ringan.

"Kak..."

Senja menoleh sedikit. Raka berdiri di sana dengan rambut berantakan dan mata setengah terbuka.

"Kak, aku bangun telat ya?" tanyanya pelan.

"Enggak. Masih sempat," jawab Senja singkat.

Raka berjalan mendekat. "Kak, nanti pulang bareng?"

Senja diam sebentar sebelum menjawab, "Liat nanti."

Padahal jawabannya hampir selalu tidak.

"Oh..." Raka mengangguk kecil, tapi tetap tersenyum.

"Raka, sini Mama siapin sarapan," panggil ibunya.

"Iya, Ma!"

Nada suaranya langsung berubah ceria. Dia duduk di meja makan, dekat ibunya.

Senja kembali menunduk, menuang air ke dalam termos. Dari belakang, dia bisa dengar suara ibunya yang jauh lebih lembut.

"Raka, makan yang banyak ya. Nanti Mama anter ke sekolah."

"Iya, Ma."

"Senja," panggil ibunya lagi, nadanya kembali datar, "kamu berangkat sendiri aja ya. Mama harus anter Raka."

"Iya, Ma."

Jawaban yang sama seperti hari-hari sebelumnya.

Sejak ayahnya pergi, semuanya berubah. Rumah ini masih sama, orang-orangnya masih sama, tapi rasanya berbeda. Dan entah sejak kapan, Senja merasa dia cuma numpang.

Bunyi klakson terdengar dari luar. Dua kali.

Senja langsung mengambil tasnya.

"Kak, hati-hati ya!" suara Raka terdengar dari belakang.

Senja berhenti sebentar, lalu menoleh sekilas. "Iya."

Cuma itu.

Lalu dia pergi.

Di depan pagar, Arsean sudah menunggu seperti biasa.

"Pagi."

"Pagi."

"Lo lama."

"Biasa."

Arsean memperhatikannya sebentar sebelum menghela napas kecil. "Naik."

Senja naik ke motor tanpa banyak bicara. Motor langsung melaju.

Beberapa menit pertama hening.

"Semalem lo tidur?" tanya Arsean.

"Tidur."

"Bohong."

Senja mendengus pelan. "Sok tau."

Two Names at SunsetWhere stories live. Discover now