We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

Prolog

2.1K 263 54
                                        

14 tahun lalu ...

"Eli, ini putri baru Om Arnold dan Tante Lucy. Ayo, sapa dia."

Sepasang mata bulat perempuan dengan garis wajah lembut menyambut penglihatan Elijah Wirakusuma. Perempuan itu tampil sederhana dengan smock dress berwarna beige dan bando dengan bandul transparan kupu-kupu di ujungnya. Rambut hitam legam serupa pekat malam tergerai hingga ke lengan, dan bibir tipisnya memiliki rona serupa buah kesemek. Elijah menjadi pihak pertama yang mengulurkan tangan, lantas disambut dengan kelembutan yang terasa begitu rapuh. Hangat.

"Elijah."

"Lanafaye."

"Lanafaye Pangestu," Arnold Pangestu memberi penekanan, meletakkan kedua tangannya di atas bahu si perempuan.

Seltzer adalah tempat yang kerap Elijah kunjungi bersama kedua orang tuanya, juga sang adik—Ezekiel—bahkan di hari biasa. Kilau kristal Bohemia dari chandelier di atas memantulkan cahaya ke permukaan marmer putih keabuan, lantas merdu biola dan cello dari kuartet gesek di sudut ruangan, dentingan gelas berisi champagne brut, semua merupakan pengalaman biasa yang tidak lagi memberikan kesan tertentu. Hanya saja, melihat bagaimana mata Lanafaye berbinar saat memandang ke sekeliling turut membuatnya penasaran. Di mana mata Lana berlabuh lebih lama, ia akan mengikuti. Fountain berbahan perunggu kehijauan di tengah—berdetail sulur acanthus yang melingkar naik, dua figur nymph dengan rambut terurai menggenggam cangkir dari mana air mengalir—sepertinya menjadi hal yang paling meninggalkan impresi untuk bocah berumur 14 tahun itu.​​​​​​​​​​​​​​​​

Dinilai dari gelagat, Lana tidak mengenalnya.

Atau pura-pura tidak mengenal?

Guna membuktikan teorinya, Elijah—malam ini hanya mengenakan kaus putih polos dibalut crewneck cashmere Kiton berwarna camel—menyenggol gelas berisikan jus jeruk kala mata para orang dewasa, juga Ezekiel—yang sedang sibuk mengunyah steik dengan semangat membara—tidak melihat. Cairan itu mengalir cepat dan meninggalkan noda di pakaian Lana. Pekikan Hera, ibu Elijah, terdengar.

"Eli!"

"Maaf. Aku nggak sengaja," ujar Elijah ringan, memberi sorot penuh rasa bersalah kepada Lana di seberang. "Biar aku antar ke toilet."

"Sort it out," kata Sulistio Wirakusuma—ayah Elijah—sembari mengusap pinggir bibir dengan serbet.

Elijah mengangguk, bangkit dan menciptakan suara derit dari kursi yang terdorong. Ia mengulurkan tangan, secara naluri, untuk membantu Lana berdiri. Perempuan itu menatapnya lama dengan sorot datar yang tak mengindikasikan emosi apa pun sebelum meraih ke depan, ikut berdiri.

Mereka berjalan beriringan menuju kamar mandi di sudut lain.

"Aku tunggu di sini," kata Elijah.

Lana hanya mengangguk sebelum menghilang. Sekitar 15 menit kemudian, perempuan itu keluar—gaunnya tentu saja basah setelah dicuci dengan air. Noda yang tadi nampak jelas sudah luntur, tetapi masih meninggalkan jejak. Elijah membuang napas sebelum melepas crewneck-nya dan maju untuk mengikat bagian lengannya di pinggang Lana, menutupi titik yang kotor dan berantakan—menyisakan kaus putih polos saja.​​​​​​​​​​​​​​​​

"Sekali lagi, aku minta maaf," ia berujar, memperhatikan lentik bulu mata Lana dari atas.

"It's okay," balas Lana pelan. Ia mendongak mendadak, membuat Elijah mampu menangkap setiap lekukan wajahnya dengan lebih jelas. "Aku sempat kira Ko Elijah sengaja lakuin itu."

"Hm?" Elijah bergumam, tertarik sekali. Ia tidak menduga datangnya tuduhan yang dikatakan tanpa sedikit pun gugup itu. "Untuk apa?"

"Aku dengar, Ko Elijah cukup dekat dengan Callista Pangestu."

The Butterfly ChaseStories to obsess over. Discover now