1. Day One Hijrah

69 27 106
                                        

Desa Karang Damai, 20 April 2025

Deburan ombak melebur bersama tawa pengunjung pantai. Cerita-cerita mereka tak ada yang benar-benar dapat ditangkap jelas. Tidak sedikit dari mereka ada yang bermain di tepi pantai, berlarian sembari melukis sumringahnya senyuman.

Dari arah barat, matahari perlahan turun. Cahaya jingganya pecah di permukaan air, berkilau seperti serpihan emas yang bergerak mengikuti ombak. Semburat cahayanya menyoroti awan dan menciptakan siluet yang tak kalah memukau mata.

Rasanya dunia hanya milik sendiri ketika alam memberikan kedamaian di dalam hati. Mata pun enggan berpaling dari pemandangan yang Tuhan suguhkan di penghujung hari. Seberat-beratnya kehidupan yang dijalani, hanya melihat langit seperti ini pun seperti sudah di obati.

Beberapa pengunjung utamanya lelaki duduk di deretan batu besar di tepi pantai. Sekedar bersantai dan menghisap rokok sembari bercanda tawa. Di ujung bebatuan, seorang lelaki membiarkan dirinya diterpa angin dan suara ombak meredam lelah yang tak sempat ia ceritakan.

Napasnya menderu pelan. Udara sore itu tiba-tiba terasa menyengat di pangkal hidungnya. Ada rasa perih yang menjalar, seolah-olah ia baru saja menghirup bubuk merica, memaksa matanya terpejam dan mendongak agar pertahanannya tak runtuh ketika langit perlahan memerah.

Peci hitam yang ia pakai dilepas agar dapat mengacak-acak rambutnya yang sebenarnya untuk mengalihkan perasaannya. Akan tetapi, disela jarinya mengatur ulang tata rambut hitam legam itu, sesuatu datang menghampirinya.

"Ada apa, Mas? Kelihatannya pucat sekali." Suara itu mengalihkan atensinya. Rompi merah di tubuhnya dengan hijab hitam yang bergerak diterpa angin, membuat lelaki itu terdiam sepersekian detik, lalu melotot ketika sadar apa yang ia pandang.

"Astagfirullah." Lelaki itu Saka. Hendak mengelakkan pandangan, tetapi tumpuan tangannya licin dan terperosok ke celah bebatuan.

"Eh, Mas. Awas jatuh!" Perempuan itu berteriak tanpa sempat meraih tangan lelaki itu. Dalam hitungan detik, mereka berdua sudah menjadi pusat perhatian dan dikerubungi orang-orang sekitar.

Keramaian terbelah ketika beberapa orang berompi merah dengan lambang PMI datang membawa tandu. Empat orang tim berusaha menyelamatkan Saka dari posisi kaki yang berada di atas sedikit ngangkang, sedangkan badannya berada di antara bebatuan-sedikit terjepit.

​Di antara rasa nyeri yang berdenyut di pinggangnya, lelaki itu hanya bisa menatap langit, merasa konyol karena posisinya yang tidak estetik sama sekali. Ia mendengar petugas PMI menggumamkan istilah medis yang tidak ia pahami.

"Jangan banyak gerak dulu, Mas. Tenang." Suara lembut yang tadi menyapa, kini terdengar lebih tegas. Perempuan berhijab hitam itu berlutut di dekat celah batu, mengunci pandangan pada lelaki yang kini separuh tubuhnya ditelan bumi.

"Cek nadi di pergelangan kaki. Pastikan aliran darah tidak terhambat jepitan batu," perintah perempuan itu.

"Badannya terkunci di panggul. Kita harus angkat bebannya dari bawah dulu supaya tidak makin terperosok." Lapor salah satu petugas pria yang telah berupaya mencari celah untuk menyisipkan tangan.

Perempuan itu kembali menatap wajah pucat si lelaki. "Mas, jangan tegang. Kalau Mas tegang, ototnya makin keras dan makin susah ditarik. Lemaskan badannya, ya?" Alina berusaha menenangkan dalam batas jarak aman.

Malu banget, Ya Allah. Pingsan to much gak, ya.

Saka mengangguk pasrah, tangannya mencengkeram erat peci hitam yang sudah lecek di genggamannya.

"Satu ... dua ... tiga! Angkat!" teriak keempat petugas lelaki PMI itu.

Erangan tertahan lolos dari bibir Saka saat tim PMI menarik ketiaknya dan mendorong panggulnya dari sela batu secara bersamaan. Begitu tubuhnya berhasil diangkat dari celah, petugas tidak membiarkannya langsung duduk. Perempuan itu dengan sigap menahan tengkuk dan dahi Saka. "Tetap luruskan pandangan, Mas. Jangan menoleh dulu," instruksinya tegas.

Putih dan DurinyaStories to obsess over. Discover now