Part 1

226 14 0
                                        

Gadis kecil itu lagi-lagi menatap saudara kembar laki-lakinya penuh perhitungan

¡Ay! Esta imagen no sigue nuestras pautas de contenido. Para continuar la publicación, intente quitarla o subir otra.




Gadis kecil itu lagi-lagi menatap saudara kembar laki-lakinya penuh perhitungan. Tatapan yang tidak seharusnya dimiliki anak-anak.

"Aku yang sakit, kenapa kamu yang nangis?" Tanya gadis itu sembari menatap saudara kembarnya yang menangis gemetar melihat tubuhnya yang penuh lebam dan bekas darah mengering.

"H-harusnya kamu langsung bilang mama, biar preman-preman itu nggak mukul kamu setiap hari!" Sentak anak laki-laki itu dengan nada yang pedih.

Tidak ada jawaban.

Gadis kecil itu hanya menatap diam diiringi gema tangis pilu saudara laki-lakinya. Lama, sebelum anak laki-laki itu sesenggukkan mencoba meredakan tangisnya, mengira saudara perempuannya terdiam kesal.

"Menurut kamu... Mama orang yang gimana?"

Anak laki-laki itu tersentak bingung dengan pertanyaan yang tiba-tiba. "...Mama orang yang paling sayang sama kita." Jawabnya mengikuti perkataan yang selalu diucapkan Mama nya.

Lagi-lagi tidak ada jawaban. Anak laki-laki itu mendongak hanya untuk terkejut menerima tatapan dingin dari saudara kembarnya. Tatapan yang belum pernah ia terima dari siapapun membuatnya merasa terintimidasi. Ia hendak menarik tangannya namun genggaman saudara kembarnya menahannya erat.

"Caspian, kamu lebih suka Mama atau aku?"

"Seraphine... k-kenapa kamu nanya hal aneh, aku sayang kamu dan mama, aku—"

"Aku atau Mama?" Sela Seraphine cepat. Gadis kecil itu dapat melihat saudara kembarnya yang gelisah, tangan yang ia genggam berontak hendak melepaskan diri. Jelas dia tahu, bahkan tanpa Caspian sendiri sadari, seberapapun dia menyayangi Seraphine, Caspian akan selalu berpihak pada Mama.

Mata gadis itu berkilat dingin sebelum dengan sekejap dia menangis diam, tubuhnya gemetar dengan bibir digigit keras menahan isakan.

Caspian mengerjap bingung lalu panik, ini pertama kalinya dari selama yang dia ingat, Seraphine menangis, tidak bahkan saat Preman yang ada di rumahnya memukuli Seraphine, hatinya ikut pedih dan panik, tangan kecilnya gemetar menghapus bulir-bulir air mata yang mengalir deras di pipi Seraphine.

"J-jangan nangis, maaf, aku paling sayang kamu! jadi jangan nangis, Sera!"

Caspian kecil itu memeluk Seraphine erat, mencoba meyakinkan saudara kembarnya bahwa ucapan yang ia keluarkan adalah kebenaran, tangisan dan kalimat "Maaf" serta "Aku paling sayang kamu." tidak berhenti hingga suara denting penanda tengah malam berbunyi di distrik kumuh tempat mereka tinggal itu.

Seraphine akhirnya membalas pelukan Caspian, menarik lengan saudara kembar nya itu mengajaknya ke balkon, meskipun Caspian masih diliputi awan mendung, dia dengan patuh mengikuti Seraphine.

Penampilan Seraphine terlihat jelas, seperti bulan ingin memberi tahu Caspian seberapa menyedihkannya kembarannya itu. Bekas luka lebam, darah mengering di pelipis, baju yang robek-robek serta rambut yang tergunting acak. Caspian tertegun, dadanya terasa sesak, dia tidak tahu perasaan apa itu tapi bahkan dalam keadaan seperti ini, Seraphine tidak menangis karena sakit, tapi dia menangis karena tidak mendapatkan jawaban bahwa Caspian memilihnya.

Lock the TargetHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora