Seattle tidak pernah benar-benar tidur.
Kota ini hanya... melambat.
Seperti sesuatu yang terlalu lelah untuk berhenti, tapi juga terlalu rapuh untuk terus berlari.
Christina terbaring di sisi tempat tidur.
Sisi yang selalu ia pakai.
Sisi kanan---
tetap rapi, tak tersentuh.
Sudah berapa malam, dia tidak tahu lagi.
Hujan turun pelan di luar jendela, membentuk pola yang berulang, hampir menenangkan... kalau saja tidak terasa begitu sepi.
Tangannya bergerak, tanpa sadar, menyentuh bagian kosong di sampingnya.
Dingin.
Selalu dingin.
Dulu, ia suka menunggu.
Menunggu suara pintu terbuka.
Menunggu langkah kaki Matthew.
Menunggu pelukan hangat yang selalu datang--- meski terlambat.
Sekarang...
dia masih menunggu.
Tapi bukan hal yang sama.
Ponselnya menyala.
Layar kecil itu terasa terlalu terang di tengah kamar yang gelap.
Satu nama muncul.
Henry
Christina menatapnya lama.
Seolah kalau dia cukup lama tidak bergerak, semuanya akan kembali seperti semula.
Seolah dia masih punya pilihan untuk tetap menjadi dirinya yang dulu.
Pesan masuk.
kamu belum tidur kan?
Nafasnya tertahan sebentar.
Dia tahu dia tidak seharusnya membuka pesan itu.
Lebih lagi---
membalasnya.
Dia tahu.
Tahu ini salah.
Tahu ini bukan sekadar obrolan biasa.
Tahu ini akan membawa dia ke sesuatu yang... tidak bisa ia tarik kembali.
Jarinya menggantung di atas layar.
Diam.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga.
Pesan lain masuk.
Aku tau kamu lagi nunggu.
Christina menutup mata.
Kalimat itu sederhana.
Tapi terlalu tepat.
Karena memang itu yang sedang ia lakukan.
Menunggu.
Selalu menunggu.
Untuk seseorang yang tidak pernah benar-benar berhenti... tapi juga tidak pernah benar-benar tinggal.
Dadanya terasa sesak.
Bukan karena Matthew tidak mencintainya.
Dia tahu Matthew mencintainya.
Tapi cinta yang selalu datang terlambat...
lama-lama terasa seperti tidak datang sama sekali.
Ponselnya bergetar lagi.
Christina...
Hening.
Kamu nggak harus sendirian malam ini.
Dan entah kenapa---
kalimat itu terasa lebih jujur daripada semua janji yang pernah ia dengar.
Christina membuka mata.
Menatap kosong ke arah langit-langit.
Ini salah.
Dia tahu itu.
Tapi kesepian punya cara sendiri untuk mengubah benar dan salah... jadi sesuatu yang kabur.
Perlahan, dia duduk.
Selimutnya jatuh dari bahu, membiarkan dingin malam menyentuh kulitnya.
Kamar itu terlalu sunyi.
Terlalu luas.
Terlalu kosong untuk dua orang yang seharusnya tinggal di dalamnya.
Dia menatap layar ponselnya lagi.
Nama itu masih di sana.
Menunggu.
Tidak memaksa.
Tidak mendesak.
Tapi juga... tidak pergi.
Berbeda.
Sangat berbeda.
Dan mungkin---
itu yang membuatnya lebih berbahaya.
Christina menarik nafas dalam.
Satu kali.
Lalu keputusan kecil yang terasa jauh lebih besar dari yang seharusnya.
Jarinya bergerak.
Balasan singkat.
Hampir tidak berarti.
Tapi cukup untuk mengubah segalanya.
kamu di mana?
KAMU SEDANG MEMBACA
Almost Enough
RomansaDia menyelamatkan banyak nyawa. Tapi tidak pernah sadar... dia perlahan menghancurkan satu. Christina pikir cinta itu soal bertahan. Menunggu. Memahami. Tidak pergi. Sampai seseorang datang dan menunjukkan bagaimana rasanya dipilih--- setiap malam. ...
