Siang itu, matahari Jakarta sedang berada di puncak kegarangannya, seolah ingin memberikan pelukan perpisahan yang membekas bagi Kartika Alvani. Di dalam sebuah rumah minimalis di sudut kompleks yang tenang, debu-debu beterbangan tertimpa cahaya yang masuk dari celah jendela.
Kartika, dengan rambut biru elektriknya yang diikat asal-asalan, bergerak lincah. Tangannya yang mungil menggenggam kain pel, mengusap setiap inci lantai pualam yang telah menemaninya sejak kecil. Ini adalah hari terakhirnya. Rumah ini—satu-satunya peninggalan orang tuanya—harus ia lepaskan. Bukan karena ia tak sayang, tapi karena kenangan di setiap sudutnya terkadang terlalu berat untuk dipikul sendirian.
Setelah dua jam berkutat dengan cairan pembersih dan sapu, Kartika akhirnya melempar kain pel itu ke dalam ember. Ia menyeka keringat yang membanjiri dahi dan lehernya dengan punggung tangan. Napasnya teratur, namun ada sedikit rasa sesak yang bukan berasal dari kelelahan fisik.
“Akhirnya selesai juga,” gumamnya lirih.
Ia terduduk lemas di atas lantai yang kini mengkilap hingga bisa memantulkan bayangan wajahnya yang lelah. Ia memandangi ruang tamu yang kini kosong melompong. Sofa, televisi, dan meja makan sudah diangkut oleh pembeli furnitur kemarin. Yang tersisa hanyalah dinding putih yang bersih dan aroma karbol yang menyengat.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu kayu membuyarkan lamunannya. Kartika tersentak pelan, lalu berusaha mengumpulkan sisa tenaganya untuk berdiri.
“Sebentar…” serunya sembari merapikan kaosnya yang sedikit kusut.
Ia melangkah menuju pintu depan dan memutar kunci. Saat daun pintu terbuka, sosok wanita paruh baya dengan pakaian daster batik yang rapi berdiri di sana dengan senyum hangat. Itu adalah Tante Mara, tetangga sekaligus orang yang telah sepakat membeli rumah ini untuk anaknya.
“Tante Mara, saya senang Anda datang. Rumah ini sudah saya bersihkan sepenuhnya,” sapa Kartika sopan, mencoba menutupi rasa letihnya dengan senyuman tulus.
Tante Mara melangkah masuk, matanya mengedar ke sekeliling ruangan yang nampak sangat terawat. “Ya ampun, Nak Kartika. Kamu bersihkan ini semua sendiri? Ibu pikir kamu panggil jasa pembersih.”
Kartika tertawa kecil sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Iya, Tante. Nanti malam saya sudah harus berangkat ke bandara. Saya tidak sempat memanggil orang lain karena takut mengganggu jadwal mereka yang mendadak.”
Tante Mara menggeleng-gelengkan kepala, tampak prihatin sekaligus kagum. “Ya ampun, sebenarnya kamu panggil saja Tante atau siapapun di komplek ini. Jangan semuanya dikerjakan sendiri, kamu nanti capek, Nak. Perjalanan ke London itu jauh sekali, belasan jam di pesawat.”
“Tidak apa-apa, Tante. Lagipula, saya suka membersihkan rumah ini untuk terakhir kalinya. Ini cara saya berpamitan,” jawab Kartika dengan nada yang sedikit bergetar di akhir kalimat.
Melihat gurat kesedihan di mata biru gadis itu, Tante Mara mengusap bahu Kartika dengan lembut. “Kamu anak yang hebat dan mandiri. Orang tuamu pasti bangga melihatmu berani mengambil langkah sejauh ini. Oh ya, hati-hati di jalan ya. London itu kota besar, sangat berbeda dengan Jakarta. Kalau ada apa-apa, jangan sungkan lapor atau hubungi kenalan Tante yang di sana, ya?”
Kartika mengangguk mantap. “Terima kasih banyak, Tante. Terima kasih sudah menjaga saya selama ini.”
Sore harinya, langit Jakarta berubah warna menjadi jingga keunguan yang dramatis. Sebuah taksi kuning sudah terparkir di depan pagar. Sang supir, seorang pria paruh baya yang tampak ramah, sedang sibuk memasukkan dua koper besar milik Kartika ke dalam bagasi.
Kartika berdiri di tepi jalan, menyandang ransel hitamnya yang berisi dokumen penting dan sebuah laptop. Ia mengenakan jaket hoodie tipis, bersiap menghadapi suhu pendingin kabin pesawat yang biasanya menusuk tulang.
“Sudah semua, Neng?” tanya supir taksi itu.
“Sudah, Pak. Mari kita jalan,” jawab Kartika setelah memastikan pagar rumahnya sudah terkunci rapat untuk terakhir kalinya. Kunci itu akan ia titipkan pada Tante Mara di jalan keluar kompleks.
Perjalanan menuju Bandara Soekarno-Hatta memakan waktu yang cukup lama. Jakarta tetaplah Jakarta; kemacetan adalah tradisi yang tak pernah absen. Dari balik jendela taksi, Kartika memandangi gedung-gedung tinggi yang mulai menyalakan lampu-lampunya. Ia melihat kerumunan orang di halte bus, pedagang kaki lima di pinggir jalan, dan lautan kendaraan yang merayap perlahan.
Ia sengaja berangkat sore hari agar tidak terjebak macet total jam pulang kantor. Ia tak ingin mengambil risiko tertinggal penerbangan internasionalnya yang dijadwalkan berangkat pukul delapan malam.
Pukul tujuh malam tepat, Kartika sudah menyelesaikan proses check-in dan imigrasi. Ia kini berada di ruang tunggu keberangkatan internasional yang luas dan dingin. Gadis itu memilih kursi di pojok, agak jauh dari kerumunan orang yang sedang asyik berbincang atau menelepon.
Suasana bandara malam itu cukup sibuk. Di atas sana, sebuah televisi layar datar besar sedang menyiarkan berita internasional. Pembawa berita berbicara dengan nada serius, menampilkan cuplikan gambar jalanan London yang gelap dan dipenuhi garis polisi.
“Breaking News: Misteri kematian berantai kembali mengguncang pusat kota London. Korban ditemukan tewas dengan kondisi kekurangan darah yang drastis. Tim medis menemukan dua luka lubang kecil yang identik pada area leher semua korban. Kepolisian Metropolitan London menghimbau warga untuk tidak beraktivitas di luar rumah setelah tengah malam…”
Namun, Kartika sama sekali tidak mendengar atau melihat berita itu. Ia sedang tenggelam dalam dunianya sendiri. Gadis itu sedang asyik membaca sebuah novel roman fantasi yang ia beli di toko buku bandara tadi. Baginya, kisah tentang cinta beda dunia jauh lebih menarik daripada berita kriminal yang ia anggap sebagai “kasus pembunuhan biasa” di kota besar.
Sesekali ia melirik jam tangannya. Kurang satu jam lagi. Hatinya berdebar kencang antara rasa takut akan ketidaktahuan dan antusiasme untuk memulai lembaran baru sebagai seorang lulusan baru yang mencari peruntungan di tanah Britania.
Sekitar pukul 19.45, suara pengumuman dari pengeras suara menggema ke seluruh ruangan, memberitahukan bahwa pesawat dengan tujuan London sudah siap untuk dimasuki penumpang kelas ekonomi.
Kartika menutup bukunya dengan pelan. Ia menarik napas panjang, mengembuskannya perlahan untuk menenangkan debar jantungnya. Ia merapikan ranselnya, berdiri dengan penuh percaya diri, dan melangkah menuju gerbang keberangkatan.
Ia tidak tahu bahwa di ujung perjalanannya nanti, London yang ia dambakan bukan hanya sekadar kota untuk bekerja. Ia tidak tahu bahwa mitos yang diabaikan banyak orang sedang menunggunya di balik jendela kamarnya yang baru.
Langkah kaki mungilnya membawa Kartika masuk ke dalam garbarata, meninggalkan tanah kelahirannya menuju sebuah takdir yang telah tertulis dalam kegelapan. Pesawat itu pun lepas landas, membelah langit malam Jakarta menuju kabut London yang menyimpan rahasia berdarah.
YOU ARE READING
Jagged Juggular
VampirePindah ke London demi karier, Kartika Alvani justru terjebak dalam legenda gelap yang nyata. Di tengah kesendiriannya sebagai yatim piatu, ia menarik perhatian Arlan Nivans, vampir penggoda yang mencium aroma darah langka dalam diri Kartika. Saat Ka...
