kamu???

0 0 0
                                        

Mentari pagi begitu indah, silaunya sampai menembus kaca ruangan dimana Aci terbaring.

"Bangun-bangun, udah siang tuan putri. Jain sengaja menarik selimut Aci.

"Emmm Jian, ganggu aja sih. Selimut nya di tarik lagi oleh Aci. Sepertinya dia masih mengantuk.
Bibi mana?

"Barusan pulang, mau siapin kerperluan di rumah, bentar lagi dokter kesini mau cek dan infusan nya mau di lepas.

"Gue gak mau pulang. Soalnya, kalau di sini kak Awang perhatian banget, dia jadi ngesampingkan urusan kantor nya demi gue.

"Dihhh ini bukan kak Aci yang aku kenal. Bucin banget.

"Ih gak papa kali bucin sama tunangan sendiri. Ya kan. Sirik aja sih. Nanti juga kalau kamu tunangan sama dokter RAma bakalan bucin kek gini.

"Tunggu-tunggu apa gak salah denger nih! Siapa tadi dokter Rama?

"Iya, dia itu baik tahu penyabar pula, mau ya aku comblangin.

"Nggak mau. kenal juga enggak.

"Ya makanya kenalan dong,. Lagian kamu gak kerja?

"Masuk siang gue. Tadi bi Dayu juga minta tolong suruh jagain kak Aci yang lagi falling in love.

"Apaan sih,... Aci membantingkan bantalnya pada Jian. Untung saja Jian menangkapnya dengan sigap. Disertai dengan canda tawa mereka.

Suster pun datang bersama dokter Rama, suster memberikan laporan medis, dan infusan Aci di lepas.

"Yuk, siap-siap aku anter pulang sekarang. Ajak Rama.

"Bentar, kok pak dokter yang antar pulang sih? Special banget apa kak Aci sampe dianterin pak dokter?

Aci dan Rama pun tersenyum,

"Rama itu sepupu aku Jian,. Makanya aku mau jodohin kamu sama dia.

"Jodohin? Tanya dokter Rama.

"Itu mah kak Aci aja yang rese, uhhh.

Jian menenteng tas Aci, sedangkan Aci di papah oleh Rama. Takutnya badannya masih lemas.

Rama dan Aci jalan terlebih dahulu menuju pintu, diikuti oleh Jian. Namun, ketika Jian hendak melangkah, mengantar Aci pulang, dia menemukan sesuatu yang tergeletak di lantai.

"Ini punya siapa?? Tanya Jian keheranan. Tanpa berpikir panjang Jian memungutnya.

Ternyata KTP atas nama De an Di Wang ka ra!? Ucapannya begitu terbata-bata.

Aci segera merebut nya, dan minyimpannya.

"Jadi ini tuh punya nya kak Awang,

"Jadi bener kak Awang itu kak Dean?

"Iya, kenapa sih Jian? Aci sedikit heran.

"Nggak kenapa-kenapa cuman heran aja namanya beda sama di KTP.

"Emmm loe nya aja yang nggak ngeuh, jadi kak Awang itu nama aslinya ya "Dean Diwangkara" cuman panggilan sayang aku Awang gituh Jian.

"Ohhhh, disertai anggukan kecilnya.

Hatinya terasa sakit. Perih, seperti terluka tapi takberdarah. Pikirannya berkecamuk seperti dihantam angin puting beliung. Entah apa yang harus dia lakukan sekarang. Bahagia atas pertemuannya dengan Dean atau hancur hatinya melihat Dean bertunangan dengan wanita lain.

"Udah ayok buruan, jadi nganterin aku pulang gak sih?

"Iya kak, jawab Jian.

Di dalam mobil Jian hanya terdiam, rasanya tuhan tidak adil dengan semua pertemuan ini.

"Andai saja aku tahu skenario Tuhan, pasti aku tahu peran apa yang harus aku mainkan. Ocehnya dalam hati.

"Udah sampe, loe anterin aja Jian ke tempat kerjanya. Gue bisa sendiri kok gue udah sembuh. Oceh Aci.

"Beneran kak? Memastikan takutnya Aci masih lemas.

"Iya dong beneran. Dengan senyum gembira nya. Makasih ya buat kalian.

"Yaudah kita pamit ya, inget jangan coba-coba lagi diet ekstrem. Hari pernikahan kan sudah dekat, jadi harus jaga kondisi tubuh. Makan teratur, tidur yang cukup olahraga jangan lupa biar sehat. Rama menasehatinya.

"Iya pak dokter. Siap laksanakan. Jawab Aci.

Jian dan Rama pamit, dan menuju ke tempat kerja Jian.

"Loe gak mau pindah ke depan gituh? Gue kayak pak supir tahu.

"Semua orang juga tahu loe pak dokter.

"Ya itu kan kalau di rumah sakit. Makanya pindah ke depan takutnya di kira supir kamu lagi.

Jian tidak mau menuruti Rama. Dia hanya menatap jendela mobil, raganya masih disana namun pikirannya melayang entah kemana.

"Loe lagi sedih apa?

"Gak usah banyak tanya. Kalau lagi nyetir fokus aja ke jalan.

"Perasaan tadi baik-baik aja. Apa gue punya salah sama loe? Gue minta maaf.

"Maaf buat apa? Ya mungkin gue ada salah di masa lalu.

"Stop disini aja. Turunin gue disini.

"Loh Jian tapi tempat kerja loe masih jauh. Terus langit udah mendung, nanti kalau ujan gimana?

Jian tidak peduli dengan ocehan Rama. Dia tetap turun dari mobil dan segera berjalan cepat.

Karena Rama ada visit pasien, jadi Rama pun buru-buru balik ke rumah sakit.

Dia duduk di bangku taman seorang diri. Hanya ditemani sebuah lamunan.

"Harus nya gue dengerin apa kata sakti. Harusnya gue move on dari dulu. Harusnya gue gak keras kepala nungguin orang yang gak jelas. Teriaknya.

Hujan rintik turun menemani kegelisannya.

Tuhan haruskah hati ini patah lagi??? Matanya menatap langit dan hujan yang turun perlahan.

"Jian, ngapain disini? Jangan main hujan nanti sakit. Ia melepas jasnya, lalu meletakkannya di atas kepala Jian agar gadis itu tidak kehujanan.

Jian pun menoleh, "kamu?"



*****

Hayohh coba tebak. Menurut kalian, siapa yang Jian panggil "kamu"????

Komentar disini ya, jangan lupa tinggalkan jejak. Makasih.

Emotional Bond Where stories live. Discover now