Aku pikir rumah itu tempat… sampai aku kehilangan seseorang yang membuatku ingin pulang.
-M-
Pagi itu, udara di Desa Sumberjo masih dingin. Sisa-sisa hujan semalam masih terasa-bau tanah basah menyatu dengan wangi kopi dari cerobong dapur warga. Burung-burung berkicau menyambut datangnya matahari, sementara lampu pijar di beberapa rumah perlahan padam satu per satu.
Hamparan sawah menghijau di kiri-kanan jalan. Pepohonan rindang berdiri di sepanjang pematang. Di tengah desa yang asri itu, seorang perempuan muda berdiri di halaman rumahnya. Ia mengenakan kemeja biru toska yang rapi, rok hitam, hijab putih, kaus kaki cokelat, dan sepatu flat shoes. Wajahnya berseri meskipun terlihat sedikit gugup.
"Bu, doakan Putri lolos interview hari ini," ucapnya sambil menatap ibunya yang sudah renta.
Tangan keriput itu membelai lembut kepala anaknya. Sentuhan penuh kasih sayang itu membuat gugup di dada Putri sedikit mereda.
"Pasti, Nak. Tak doakan yang terbaik. Tapi apa pun hasilnya, kamu tetap bersyukur" kata ibunya sambil tersenyum.
Putri mengerling ke seluruh penjuru rumah. "Bapak ke mana, Buk?"
"Bapakmu sudah ke sawah tadi pagi sama adikmu. Kamu nggak usah ke sana dulu, nanti Ibuk yang bilang kalau kamu sudah berangkat."
"Baik, Buk. Titip salam ke Bapak. Putri berangkat dulu. Assalamualaikum."
Putri mencium tangan ibunya, lalu melangkah keluar. Motornya sudah menunggu di halaman.
"Waalaikumsalam..."
Putri Handayani. Itulah nama lengkapnya. Ia adalah sarjana pertama di desanya. Selepas wisuda, seluruh tetangga menyambutnya dengan sorak sorai.
"Wah, sudah sarjana ya, Putri! Selamat! Semoga nanti bisa memajukan desa ini. Kamu kan orang pertama yang bergelar sarjana di sini," kata salah satu tetangga saat itu.
Namun Putri bukan hanya lulusan sarjana. Ia juga lulusan pesantren terkenal di desa seberang. Tak heran jika rumahnya kerap didatangi anak-anak yang ingin belajar mengaji. Ia juga sering diminta mengajari membaca dan menulis. Putri memang sosok multitalenta-lulusan terbaik di kampusnya, sekaligus guru mengaji yang sabar.
Kini, di pagi itu, ia melaju menembus jalan berbatu dan licin menuju kota seberang. Bermodal semangat dan secarik doa dari ibunya, ia bertekad mengubah nasib.
Di kota, suasana berbeda. Cahaya lampu meja masih menyala di ruang kerja yang mewah. Dokumen-dokumen bertumpuk rapi, berisi laporan bisnis antar kota hingga mancanegara. Rumah megah berwarna putih itu berdiri kokoh di sudut kota, dikelilingi taman indah. Di sudut halaman, hamparan bunga anggrek putih menawan. Air mancur di depan rumah menyemburkan air bening, berhias batu putih berkilau. Dua mobil mewah terparkir rapi di garasi.
Di ruang kerjanya, seorang lelaki tinggi dengan setelan polo putih dan celana panjang hitam sedang duduk. Sepatu olahraga mahal berwarna putih bersih, jam tangan mewah melingkar di pergelangan kirinya. Matanya memerah menahan emosi saat membaca ponsel.
Di layar, sebuah berita daring menyebar dengan judul provokatif. Isu pembatalan pembangunan proyek jalan desa yang dikaitkan dengan namanya. Isu itu bisa merusak reputasi dan mengancam keuntungan bisnisnya jika semakin melebar.
"Jangan sampai berita ini tersebar lebih luas. Apa-apaan berita penipuan ini?" ucapnya tegas.
"Baik, Pak," jawab asisten di depannya.
Attariz Kamalika Hibban, atau biasa dipanggil Malik bukanlah orang sembarangan di kota ini. Namanya dikenal sebagai pengusaha sukses yang disegani. Dari kopi dan vanili terbaik di desa seberang, ia membangun kerajaan bisnis hingga ke mancanegara.
Namun kesuksesannya tidak datang instan. Malik lahir dari keluarga sederhana. Ibunya seorang guru honorer, ayahnya hanya pedagang es kelapa muda. Bersama keluarga, ia merintis usaha kecil seperti catering rumahan hingga akhirnya menemukan peluang emas dari biji kopi dan vanili. Kini, semua jerih payah itu membuahkan hasil.
________
Hai, Readers… 🤍
Maaf ya kalau ceritanya masih banyak kekurangan dan mungkin terasa kurang jelas di beberapa bagian. Aku masih belajar, jadi aku sangat terbuka untuk kritik dan saran dari kalian.
Dukungan kalian berarti banget buat aku supaya bisa terus berkembang dan memperbaiki cerita ini ke depannya. Terima kasih sudah mau membaca 🤍
YOU ARE READING
Kamu Tempatku Kembali
Teen FictionPutri harus belajar bertahan di dunia yang tidak pernah ia kenal.Karena pada akhirnya...ketika segalanya terasa hilang,hanya satu hal yang tersisa jika bukan kamu,maka tidak ada lagi yang bisa disebut rumah.Putri percaya, hidupnya akan tetap sederha...
