Moonlit Dreams ; Bagian Kedua

114 39 17
                                        

HAPPY READING

Pagi ini suasana rumah telah sepi ketika Jemian bangun. Tidak seperti pagi-pagi sebelumnya ketika meja makan sudah dipenuhi oleh makanan dan si kembar yang sibuk mengerecoki Raden di dapur, atau Morvan yang kembali tergolek di meja makan dengan sarung yang membungkus setengah tubuhnya.

Hari ini jadwal kelas Raden dan Morvan berada di jam yang sama, Jemian yakin mereka memutuskan untuk berangkat bersama sekalian mengantar Ebra dan Diego ke sekolah. Karena Jemian kemarin mengatakan tidak memiliki kelas, itu sebabnya Raden tidak membangunkan nya dan hanya menyiapkan sarapan untuk Jemian.

Segelas air ia teguk demi membasahi tenggorokannya yang kering. Di hari libur seperti ini, Jemian tidak sempat hanya untuk melirik pada kamar mandi. Sungguh! Ia benar-benar malas dengan tempat itu. Oleh karena itu, Jemian lebih memilih menikmati sarapan paginya yang sedikit terlambat dan mungkin akan lanjut membersihkan halaman rumah.

Hari ini cuaca cukup baik, tidak ada hujan dan tidak ada mendung di langit. Jemian berharap cuaca akan tetap begitu setidaknya sampai siang nanti, sampai ia pergi untuk kembali bekerja.

Tatapan Jemian terhenti pada note yang tertempel di kulkas, dalam pikirannya ini pasti ulah Ebra atau Diego. Dan benar saja, ketika ia membaca note di sana, tertulis ucapan selamat pagi dan perintah agar tidak lupa sarapan, jangan lupa nama si penulis di bagian bawah.

Abang selamat pagiiiiii!! Jangan lupa sarapan yaaa, tunggu Ebra sama Diego pulang!!

—Ebra dan Diego

Kalau melihat hal seperti ini, kadang membuat beban di pundak Jemian seperti terkikis perlahan. Entah apa rencana Tuhan untuknya, tapi diberi adik-adik yang begitu menyayanginya tanpa memandang siapa dirinya diantara mereka berlima adalah salah satu anugerah yang paling Jemian syukuri.

Setelah membersihkan meja makan, Jemian lanjut membersihkan dapur, dan mungkin lanjut seisi rumah seperti pada rencana sebelumnya.

__________

"Loh, Jem? Tumben di rumah?"

Seorang ibu-ibu komplek dengan penampilan cetar membahana yang tidak sengaja lewat di depan halaman rumah menyapa. Gayanya nyentrik, make up nya tebalnya mungkin 5 senti—seperti kata Diego, dan tatapannya kayak ada sombong sombongnya gitu. Jemian jadi ingat kata Diego beberapa hari lalu, tentang tetangga beda RT mereka yang baru pulang haji tapi pake uang haram alias hasil pesugihan. Mana sombongnya minta ampun. Entah darimana adiknya itu tahu, tapi yang pasti semua yang diomongin sama Diego tidak bohong.

Jemian mengangguk sambil tersenyum, "iya Bu, lagi libur aja."

"Loh iya? Emang ada ya hari Rabu libur? Bukan tanggal merah lagi? Libur atau nganggur nih?"

Bu Eti namanya kalo Jemian tidak salah ingat. Dari cara Bu Eti menatapnya dan berbicara saja sudah sangat menggambarkan karakter dirinya. Tapi Jemian tak ambil pusing. Urusan dia di rumah lagi libur atau nganggur itu bukan urusan Bu Eti.

"Iya deh, nganggur." Jemian asal ceplos, tangannya masih sibuk mencabut rumput sesekali mentap-tap tanah di pinggiran bunga kertas yang ia tanam.

"Oh iya, Bu Eti dari mana? Cantik begitu kok keluar, cuacanya panas."

Di luar pemikiran Jemian, ia pikir Bu Eti akan tersinggung atau semacamnya. Bu Eti justru terlihat malu-malu sambil memutar-mutar payungnya, salting itu.

Moonlit DreamsWhere stories live. Discover now