Hal Konyol di Hari Pertama

0 0 0
                                        

Alarm berbunyi lebih lama dari yang seharusnya.

Aku tahu itu sejak awal, tapi tetap tidak langsung mematikannya.

"Tring... tring... tring..."

Suara itu berulang, konsisten, seperti seseorang yang sengaja tidak mau menyerah. Mengisi kamar yang sebenarnya sudah cukup sunyi bahkan tanpa bantuan apa pun.

Aku membuka mata pelan.

Langit-langit kamar terlihat sama seperti kemarin. Cat putih yang mulai pudar di beberapa bagian. Retakan kecil yang tidak pernah benar-benar diperbaiki.

Tidak ada yang berubah.

Tanganku bergerak ke samping, meraba meja kecil di dekat kasur. Ujung jariku menyenggol buku catatan, lalu botol minum yang hampir jatuh, sebelum akhirnya menemukan ponselku.

Layar menyala.

06.47

Aku menatap angka itu beberapa detik lebih lama dari yang diperlukan.

Waktunya sudah lewat dari batas aman.

Aku mematikan alarm.

Sunyi kembali.

Dan entah kenapa, sunyi itu terasa lebih keras.

Aku tetap berbaring beberapa detik. Menatap ke atas tanpa benar-benar berpikir. Seperti memberi waktu untuk tubuhku menyusul kesadaran yang sudah lebih dulu bangun.

"Telat lagi."

Kalimat itu keluar pelan. Datar.

Tidak ada nada panik. Tidak ada rasa bersalah yang berlebihan.

Hanya pengakuan sederhana.

Aku duduk, mengusap wajah dengan kedua tangan, lalu berdiri dengan gerakan yang sedikit terlalu cepat. Dunia sempat terasa goyah sebentar, seperti belum sepenuhnya siap menerima kenyataan bahwa hari sudah dimulai.

Aku menarik napas dalam.

Lalu berjalan ke kamar mandi.

Air dingin menyentuh wajahku.

Refleks, aku memejamkan mata.

Rasanya tidak nyaman, tapi cukup untuk membuatku benar-benar sadar.

Aku menatap cermin.

Rambutku berantakan. Beberapa helai berdiri tanpa arah. Mataku terlihat sedikit sembap, seperti belum selesai beristirahat.

Ekspresiku... biasa saja.

Aku tidak terlihat seperti seseorang yang sedang memulai sesuatu.

Lebih seperti seseorang yang melanjutkan sesuatu yang belum selesai.

Aku mengeringkan wajah, lalu keluar tanpa banyak berpikir lagi.

-

Di ruang makan, semuanya sudah siap.

Seperti biasa.

Piring sudah tersusun rapi. Nasi masih mengepul pelan. Bau telur goreng dan sayur tumis bercampur di udara.

Aku duduk tanpa banyak suara. Kursi bergeser sedikit, cukup untuk terdengar, tapi tidak cukup keras untuk menarik perhatian.

Di depanku, makanan tersaji seperti rutinitas yang tidak pernah berubah.

"Bangun kesiangan lagi?"

Suara itu datang dari dapur. Tidak keras, tapi cukup jelas.

"Hmm."

Perempuan yang Tidak Pernah SelesaiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang