Hemos actualizado nuestras Pautas de Contenido.
Consulta las pautas más recientes para seguir compartiendo historias de forma segura.

prolog

14 1 3
                                        

Labirin Sunyi Luisa

Aku, Luisa Aurellia Narendra, tidak pernah benar-benar ingat kapan semuanya mulai terasa berbeda. Seolah-olah sejak awal, rumah ini memang tidak pernah benar-benar tenang. Selalu ada sesuatu di udara yang membuat terasa berat dan menekan, seperti menunggu pecah kapan saja.

Yang paling kuingat adalah suara.

Kadang pelan, seperti bisikan yang dipaksakan tetap terkendali. Kadang keras, cukup untuk membuatku berhenti melakukan apa pun dan hanya diam di tempat. Setiap kali itu terjadi, tubuhku selalu bereaksi lebih dulu daripada pikiranku. Menegang, menunggu, dan berharap semuanya cepat selesai.

Dan di antara semua itu, aku selalu menunggu satu hal.

Pintu kamarku terbuka.

Alexandre Narendra akan berdiri di sana. Kakakku itu tidak banyak bicara, hanya menatapku sejenak lalu tersenyum lembut sebelum akhirnya berkata, “Sini.” Suaranya tenang, seolah tidak ada apa-apa yang terjadi di luar sana. Seolah semuanya baik-baik saja.

Aku tidak pernah bertanya. Tidak pernah menolak. Aku hanya berdiri dan berjalan ke arah Alex, seolah itu sudah menjadi sesuatu yang biasa.

Di dalam kamar, dia akan menutup pintu. Kadang pelan, kadang sedikit lebih cepat, tergantung seberapa keras suara di luar. Lalu dia akan duduk di sampingku, menyodorkan ponselnya, dan memintaku untuk menonton apa saja. Tidak penting apa yang diputar, yang penting aku tidak lagi mendengarkan.

Dan anehnya, itu selalu berhasil.

Dunia terasa lebih kecil. Lebih sempit. Hanya ada aku, Alex, dan layar kecil di tanganku. Suara di luar tidak benar-benar hilang, tapi cukup jauh untuk bisa diabaikan. Selama dia ada di sisiku, aku merasa aman.

Namun, semakin lama, ada satu hal yang mulai muncul di pikiranku. Sesuatu yang awalnya kecil, tapi tidak pernah benar-benar pergi.

Kalau aku tidak mendengar semuanya, berarti Alex yang mendengar, kan?

Aku pernah hampir menanyakannya. Kata-kata itu sudah di ujung lidahku, siap keluar kapan saja. Tapi setiap kali aku menoleh dan melihatnya, cara dia duduk di sana, tetap tenang, tetap seperti biasa, aku selalu mengurungkan niatku.

Mungkin dia tidak apa-apa. Atau mungkin, aku hanya ingin percaya kalau Alexandre tidak apa-apa.

Aku tidak pernah benar-benar mencari jawabannya. Sampai akhirnya, aku sadar sesuatu yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Bahwa orang yang selalu ada tidak selamanya akan tetap tinggal.

Dan sejak itu, tidak ada lagi yang membuka pintu.
Tidak ada lagi Alex yang menutup semua suara untukku. Tidak ada lagi yang berkata, “Fokus ke sini aja,” seolah dunia di luar tidak penting. Sekarang, tidak ada yang mengalihkan perhatianku.

Aku mendengar semuanya. Dengan jelas.

Dan untuk pertama kalinya, aku, Luisa, benar-benar sendirian.

Labirin Sunyi LuisaHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora