Lentera malam 🌙

7 3 0
                                        

🌙 Lentera Malam: Vol. 1 - Cahaya yang Tak Pernah Sampai
Pulau Nirwana.
Sebuah pulau kecil yang nyaris sempurna.
Tak ada kelaparan.
Tak ada kekurangan.
Orang-orang hidup damai, saling menyayangi, dan penuh rasa syukur.
Di Kota Harsa, bahkan ada kebiasaan unik-
setiap anak dianggap sebagai anugerah yang dititipkan oleh Tuhan.
Mereka dirawat dengan penuh kasih... dijaga sepenuh hati.
Namun...
tidak semua anak merasakan hal yang sama.
Di sebuah rumah kecil yang gelap dan penuh teriakan...
"Kau ini bodoh! Kenapa hal sekecil ini saja tidak bisa?!"
Seorang pria melempar gelas ke arah seorang anak kecil.
Gelas itu pecah di dekat kakinya.
Anak itu... Akaza.
Tubuh kecilnya gemetar. Air mata jatuh tanpa suara.
"Maaf... Ayah... aku... aku akan coba lagi..."
Namun jawabannya hanya tamparan keras.
PLAK!
Ibunya hanya berdiri di sudut ruangan...
dengan botol di tangan.
"Sudahlah... anak gagal memang seperti itu..." ucapnya dingin.
Malam itu, Akaza kecil menangis sendirian.
Tak ada pelukan.
Tak ada kata maaf.
Tak ada yang peduli.
15 tahun kemudian...
Akaza tumbuh menjadi remaja yang pendiam.
Di sekolah, ia lebih sering menunduk.
Bisikan orang-orang sudah jadi hal biasa.
"Itu si aneh..."
"Nggak pernah ngomong ya dia?"
Akaza hanya tersenyum kecil.
Senyum yang... terasa kosong.
Rumah?
Bukan tempat pulang.
Malam hari selalu sama.
"Kau pikir dengan diam kau jadi pintar?!" bentak ayahnya yang mabuk.
Akaza terjatuh ke lantai setelah didorong.
Ia tidak menangis lagi.
Hanya diam.
Seolah tubuhnya sudah lupa bagaimana cara merasakan sakit.
1 tahun kemudian...
Akaza lulus sekolah.
Ia bekerja di sebuah perusahaan: PT Nanami.
Namun dunia kerja... tidak jauh berbeda.
"Akaza! Kamu ini kerja atau melamun?!" bentak manajernya di depan semua orang.
"Maaf, Pak..." jawab Akaza pelan.
"Kamu itu harus bersosialisasi! Jangan jadi beban tim!"
Rekan-rekannya hanya berbisik.
"Aneh banget..."
"Nggak cocok kerja di sini..."
Akaza hanya tersenyum.
Senyum yang sama.
Senyum yang penuh tekanan.
Malam itu...
Langit gelap tanpa bintang.
Akaza berjalan pulang sambil mengingat kata-kata manajernya.
"Jangan jadi beban..."
Langkahnya pelan... seolah setiap kata masih menghantam kepalanya.
Sampai-
BRUK!
Seorang wanita menabraknya.
Mereka berdua terjatuh.
"Ah- maaf! Maaf banget!" ucap wanita itu panik.
Akaza segera bangkit dan mengulurkan tangan.
"Nggak apa-apa... kamu nggak kenapa-kenapa?"
Wanita itu menatapnya sejenak... lalu tersenyum.
Senyum yang... berbeda.
Hangat.
"Aku yang salah, aku lagi buru-buru..." katanya sambil merapikan rambutnya.
Akaza sedikit terdiam.
"...tidak apa."
"Namaku Hika." wanita itu berkata cepat.
"Aku perawat, lagi dikejar waktu."
Akaza mengangguk pelan.
"...Akaza."
Hika tersenyum lagi.
"Senang kenal kamu, Akaza. Hati-hati di jalan, ya!"
Lalu ia berlari pergi.
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama...
Akaza berdiri diam.
Tangannya masih terasa hangat...
bekas saat membantu Hika bangkit.
Ia menatap jalan kosong itu.
Dan tanpa sadar-
Ia tersenyum.
Senyum yang... benar-benar hangat.
Di pulau yang penuh cahaya...
akhirnya, secercah lentera kecil mulai menyala
di dalam hati seseorang yang hampir padam.

🌙 Lentera Malam: Vol. 1 - Luka di Balik Cahaya
Malam itu...
Tak ada suara pintu dibuka dengan hangat.
Tak ada sapaan.
Yang ada hanya-
"Kau pulang juga, sampah?!"
Sebuah botol melayang.
PRANG!
Botol itu menghantam kepala Akaza.
Tubuhnya oleng. Pandangannya berkunang-kunang.
"Hah... lihat itu... dia bahkan nggak bisa berdiri!" tawa ayahnya yang mabuk.
Ibunya ikut melempar sesuatu lagi.
"Dasar beban hidup!"
Akaza mencoba berdiri.
"A... aku... minta maaf..."
Namun kalimatnya terhenti.
Pukulan keras mengenai kepalanya.
BUGH!
Darah mulai mengalir dari pelipisnya.
Ia jatuh.
Dunia terasa berputar.
Namun-
Tak ada yang berhenti.
Tak ada yang peduli.
Di luar rumah...
Beberapa tetangga mulai berkerumun.
"Hei! Sudah cukup! Kalian mau membunuh anak itu?!" teriak salah satu dari mereka.
Namun ayah Akaza hanya tertawa sinis.
"Ini urusan keluarga kami! Jangan ikut campur!"
"Kalian sudah kelewatan!"
Seorang tetangga akhirnya masuk dengan paksa.
Matanya membelalak melihat kondisi Akaza.
"Ya Tuhan... darahnya banyak sekali..."
Tanpa pikir panjang, mereka segera mengangkat tubuh Akaza.
"Cepat! Kita bawa ke rumah sakit!"
Di rumah sakit...
Pintu UGD terbuka cepat.
"Pasien luka kepala! Pendarahan cukup parah!"
Perawat langsung mendorong brankar.
"Segera ke ruang tindakan!"
Seorang dokter datang tergesa.
"Tekanan darah?"
"Menurun, Dok!"
"Siapkan penanganan sekarang!"
Lampu ruangan menyala terang.
Suasana tegang.
Beberapa menit terasa seperti selamanya.
Setelah penanganan awal selesai...
Dokter menghela napas panjang.
"Untuk sementara stabil... tapi masih harus dipantau."
Perawat mengangguk.
"Baik, Dok."
Dokter pun keluar ruangan.
Perawat yang berjaga melihat jam.
"Shift-ku hampir selesai..."
Ia berjalan ke ruang perawat dan bertemu seseorang.
"Hika, bisa tolong gantikan aku di ruang 356?"
Hika mengangguk.
"Tentu."
Ruang 356...
Hika membuka pintu perlahan.
Namun langkahnya terhenti.
Matanya membesar.
"...eh?"
Ia menatap sosok di ranjang itu.
"Ini... cowok yang tadi..."
Akaza.
Wajahnya pucat. Kepalanya diperban.
Hika mendekat perlahan.
Ekspresinya berubah-dari kaget... menjadi khawatir.
"Apa yang terjadi sama kamu..." gumamnya pelan.
Ia mulai memeriksa.
Detak jantung.
Napas.
Kondisi luka.
"Detaknya normal..."
Ia menghela napas lega.
"Syukurlah..."
Hika merapikan selimutnya sedikit.
Lalu berkata pelan, seolah Akaza bisa mendengar-
"Kamu harus istirahat, ya..."
Ia berdiri sebentar, menatap wajah Akaza.
Ada sesuatu yang terasa... berat.
Namun ia akhirnya keluar ruangan.
Beberapa waktu kemudian...
Jari Akaza sedikit bergerak.
Kelopak matanya perlahan terbuka.
Pandangan buram.
Lampu putih.
Langit-langit asing.
"...di mana..." suaranya serak.
Ia menoleh pelan ke kanan... lalu ke kiri.
Ruangan putih.
Sunyi.
Akhirnya ia sadar.
"...rumah sakit..."
Beberapa detik hening.
Lalu-
Air mata mengalir.
Tanpa suara.
Tanpa tangisan keras.
Hanya... jatuh.
"Kenapa..." bisiknya lirih.
"Kenapa... aku lahir di keluarga itu..."
Tangannya mengepal lemah.
"Apa aku... benar-benar tidak dibutuhkan..."
Air mata terus mengalir.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama...
ia tidak menahan semuanya.
Ia menangis.
Sendirian.
Di ruangan yang sunyi.
Di luar ruangan 356...
Hika berhenti melangkah.
Entah kenapa... ia merasa sesuatu.
Ia menoleh ke arah pintu itu.
Diam.
Seolah ada suara yang tak terdengar...
tapi bisa dirasakan.
Di malam yang dingin itu...
sebuah hati yang rapuh mulai retak sepenuhnya.
Namun tanpa disadari-
seseorang telah mulai memperhatikannya.

LENTERA MALAMWhere stories live. Discover now