Suasana siang hari yang terik menyengat tidak membuat langkah kaki Sherly goyah sedikitpun. Gadis itu berjalan dengan sikap gagah lurus melewati lorong kantor yang penuh dengan kesibukan karyawan pada hari kerja seperti ini.
Udara dingin dari AC kantor sedikit mendinginkan tubuhnya yang mulai berkeringat, namun tatapannya tetap fokus pada satu titik-pintu ruang kerja Afan yang tertutup rapat dengan nama papan 'DIREKTUR UTAMA' yang terpampang jelas di depan pintu.
Di sekelilingnya, karyawan-karyawan yang lewat dengan cepat menundukkan kepala sopan menyapa, senyum mereka terlihat sedikit tertekan seolah tahu betapa pentingnya sosok yang sedang melintas di hadapan mereka.
Namun di balik kesopanan itu, Samar-samar Sherly dapat menangkap bisikan-bisikan yang terdengar jelas di antara suara klik keyboard dan desahan mesin fotokopi. Kata-kata seperti "ibu pengganti,", "sok berkuasa,", dan "cuma karena jadi istri bos aja belagu," terdengar jelas di telinganya, membuat alisnya sedikit mengerut dan moodnya yang tadinya baik langsung memburuk. Langkahnya terhenti sejenak ketika sebuah suara wanita yang jelas disengaja dinaikkan volume menyambar telinganya.
"Duh, lihat aja tuh... sok penting padahal hanya istri kedua. Kayaknya kalau tidak ada suaminya, apa sih yang bisa dia lakukan?" ujar wanita itu dengan nada menyindir yang cukup keras agar orang sekitar bisa mendengar. "Bikin malu aja deh, datang ke kantor terus sok atur-atur."
Sherly menghela napas perlahan, mencoba menenangkan diri. Ia tahu bahwa tidak semua karyawan suka dengan keberadaannya di kantor, namun wanita ini jelas terlalu berani untuk mengata-ngatainya di depan umum. Ketika bisikan itu tak kunjung berhenti malahan semakin mengganggu, akhirnya Sherly memutuskan untuk menghampirinya.
"Hei kamu!" panggil Sherly dengan suara yang kuat namun tetap terkendali, jari telunjuknya menunjuk tepat pada wanita yang tengah berdiri berkelompok dengan dua rekan kerjanya.
"Kamu pikir saya tidak mendengar kamu sibuk membicarakan saya dengan kata-kata yang tidak senonoh?! Urus saja pekerjaanmu yang jelas masih banyak menumpuk di situ! Jangan lupa, saya bisa melakukan apa saja yang diperlukan untuk memastikan kamu tidak lagi bekerja di kantor ini!" lanjutnya dengan nada angkuh yang tak tergoyahkan, dada sedikit membengkak menunjukkan rasa keberadaannya.
Bukannya menunduk atau merasa takut, wanita itu justru menoleh dengan ekspresi meremehkan lalu berjalan mendekati Sherly dengan langkah santai yang penuh tantangan. Rambut panjangnya dikocok sedikit, memberikan kesan bahwa dia tidak terpengaruh sama sekali. "Oh, ya? Memangnya anda ini siapa sih? Hanya seorang ibu pengganti saja sok belagu seperti orang penting," cibirnya dengan suara yang jelas terdengar oleh semua orang di sekitar lorong, membuat beberapa karyawan berhenti sejenak untuk menyaksikan apa yang akan terjadi.
Kata 'ibu pengganti' seperti cambuk yang menyambar langsung ke hati Sherly. Darahnya mendidih, wajahnya memerah karena rasa marah yang meluap. Ia mengerutkan dahi, lalu menatap wanita itu dengan senyum smirk yang penuh makna. "Kamu berani bermain-main dengan saya? Baiklah... mari kita tunjukkan siapa di sini yang benar-benar memiliki hak untuk bicara dan siapa yang hanya pandai mengata-ngatai orang dari belakang!" ujarnya dengan nada yang dingin namun penuh ancaman.
Belum sempat mereka melakukan sesuatu lebih jauh, suara berat dan penuh otoritas tiba-tiba terdengar dari belakang Sherly, membuat semua orang yang ada di lorong itu langsung menunduk dengan ekspresi takut. Langkah kaki yang kuat dan mantap menghampiri mereka, memberikan tekanan tersendiri di udara yang kini semakin tegang.
"Ada apa ini?"
Sherly menoleh dengan cepat, wajahnya yang tadinya penuh marah langsung berubah menjadi cemberut yang lucu. Di depannya berdiri Afan dengan jas hitamnya yang rapi, wajahnya serius dengan alis yang sedikit mengerut-tanda bahwa dia sedang tidak senang dengan apa yang terjadi di kantornya.
YOU ARE READING
Cinta Kedua (SherFan)
FanfictionSeorang gadis muda berparas cantik; Sherly, dipaksa menikah dengan seorang duda kaya raya; Afan, yang memiliki seorang anak laki-laki setelah kehilangan istrinya tercinta. Sanggupkah Sherly menjalani hidupnya sebagai ibu pengganti dan istri penggan...
