PROLOG: Klausul Keabadian ~ Rahasia Sang Putri Daniswari

42 1 0
                                        

Jayakara tidak pernah benar-benar tidur; kota ini adalah mesin raksasa yang digerakkan oleh ambisi yang tak pernah puas dan angka-angka yang terus berputar tanpa henti di layar bursa saham. Di lantai 28 gedung Anggasta Design, suara rintik hujan yang menghantam kaca kedap suara terdengar seperti bisikan ribuan rahasia yang tak kunjung terucap, seolah-olah langit sedang meratapi setiap kebohongan yang lahir di bawahnya. Di dalam ruangan yang didominasi oleh garis-garis tegas arsitektur modern dan pencahayaan yang sengaja dibuat dingin serta steril, Julian Anggasta berdiri diam. Matanya yang cokelat gelap menatap tajam ke arah kelap-kelip lampu jalanan Sudiram yang merayap lambat karena kemacetan abadi. Baginya, setiap cahaya di bawah sana adalah peluang bisnis yang harus ditaklukkan, dan setiap bayangan adalah risiko yang harus dikalkulasi dengan presisi milimeter.

"Satu tahun, Julian. Hanya satu tahun untuk meyakinkan para tetua kolot di Yodyakarta bahwa kamu bukan sekadar pengusaha Jayakara yang haus kuasa," gumamnya pada diri sendiri, suaranya berat, bariton, dan sarat akan beban rencana besar yang sedang ia susun dengan teliti.

Ia menyadari bahwa kekuasaan finansial saja tidak akan cukup untuk menembus tembok tradisi di Tanah Jawana yang sakral. Ia membutuhkan sebuah kunci yang lebih dari sekadar uang. Ia membutuhkan sebuah citra—seorang wanita yang bisa menjadi tameng sekaligus jembatan diplomatik menuju dunia Daniswari yang tertutup. Di balik pintu jati ruangannya, di tengah tumpukan cetak biru yang berserakan dan aroma kopi yang sudah mendingin menjadi pahit, ia telah menemukan kandidat yang sempurna. Seorang asisten junior yang tampak begitu medioker, kusam, dan sengaja meniadakan eksistensinya, namun memiliki sorot mata yang selalu membuat Julian merasa ada sesuatu yang jauh lebih besar dan berbahaya tersembunyi di balik lensa kacamata bulat itu. Julian tidak hanya melihat seorang asisten; ia melihat sebuah teka-teki yang menantang naluri predatornya untuk dipecahkan.

Di sisi lain, di area kubikel yang mulai sepi dan temaram, Callasia sedang merapikan meja kerjanya dengan gerakan yang sangat mekanis, hampir tanpa jiwa. Jemarinya yang ramping tanpa sengaja menyentuh pinggiran meja jati, merasakan tekstur kayu yang seketika mengirimkan gelombang rindu sekaligus ketakutan akan rumah yang telah ia tinggalkan di lereng Merawi. Ia telah membayar harga yang sangat mahal untuk menghilang, untuk menjadi sosok yang "tak terlihat" di tengah jutaan orang asing di ibukota. Baginya, kemeja flanel longgar yang kusam ini adalah zirah pelindung dari mata-mata keluarganya, dan identitas palsunya adalah satu-satunya jalan menuju kebebasan dari belenggu tradisi yang mencekik. Ia mengira dirinya aman, terkubur di bawah tumpukan rutinitas yang membosankan dan laporan-laporan interior yang melelahkan.

Calla sering kali menatap pantulan dirinya di kaca jendela kantor saat malam tiba, bertanya-tanya sampai kapan ia bisa mempertahankan topeng ini. Apakah darah biru yang mengalir di nadinya bisa benar-benar luntur oleh polusi Jayakara? Ia membenci protokol, ia membenci perjodohan, dan ia membenci bagaimana namanya selalu dikaitkan dengan kekuasaan tanah. Di Jayakara, ia hanyalah "Calla", asisten yang rajin namun tak berarti, dan ia mencintai ketidakberartian itu. Namun, ia tidak menyadari bahwa di ruang paling tinggi di gedung ini, seorang pria sedang menatap profil datanya dengan ketertarikan yang jauh melampaui urusan profesional.

Takdir malam itu sedang menyiapkan sebuah jebakan yang akan merobek semua penyamaran yang ia bangun dengan susah payah selama setahun terakhir. Sebuah dokumen kontrak sedang menunggu di atas meja mahogani Julian, siap untuk memaksa dua jiwa yang terluka untuk bersatu dalam sebuah sandiwara yang penuh tipu daya. Mereka tidak menyadari bahwa di balik pasal-pasal yang kaku, denda pembatalan yang fantastis, dan angka satu miliar rupiah yang dijanjikan sebagai imbalan, terdapat sebuah api yang siap menghanguskan segala kebohongan dan ego yang mereka agungkan.

Keheningan malam itu tiba-tiba terkoyak oleh suara di interkom yang tajam, jernih, dan dingin—sebuah panggilan otoriter yang memutus arus napas Callasia dalam sekejap. Suara Julian yang menggema melalui perangkat logam itu bukan sekadar instruksi kerja lembur; itu adalah tanda mulainya sebuah penawaran gila yang akan mengubah "kontrak bisnis" menjadi "ikatan abadi" yang tak terelakkan. Panggilan itu adalah pemicu bagi sebuah perjalanan panjang yang akan memaksa benang-benang takdir mereka saling tarik-menarik, mengikat Julian dan Callasia dalam sebuah labirin emosi yang takkan pernah mereka duga sebelumnya.

Badai akan segera datang menembus kaca-kaca gedung pencakar langit itu, membawa mereka kembali ke Tanah Jawana yang penuh dengan dendam masa lalu. Dan di atas meja kerja yang dingin itulah, kisah mereka secara resmi dimulai dengan sebuah pilihan yang tidak menyisakan jalan untuk kembali. Sebuah kontrak telah ditawarkan, dan harga yang harus dibayar ternyata jauh lebih besar daripada sekadar uang—ia menuntut seluruh hati dan kejujuran mereka.

KLAUSUL HATI  ~Bukan Sekedar Kontrak~Stories to obsess over. Discover now