bab 1

6 0 0
                                        

Dariku Osaka.

Osaka jepang hari ini telah memauki musim semi, cuaca yang pas untuk berjalan kaki menikmati jalanan yang memang tertata rapih memukau mata, selalu tertarik dengan hal-hal kecil yang membuat penasaran. Seperti sebuah toko kue yang baru aku tahu tiga bulan terkahir.

Bukan tentang gaya arsitekturnya yang terlihat indah, bukan pula dengan aroma roti yang sudah ku cium dari luar toko, tapi satu hal yang membuatku tertarik sehingga setiap hari minggu ku sempatkan untuk hanya sekedar singgah menikmati sepotong kue coklat dan segelas kopi latte.

Namun bagaimana mereka melayani pelanggan dengan sangat ramah dan penuh energi sepanjang hari, mungkin terdengar aneh dan lumrah sebagaimana pelayanan di toko kue manapun di seluruh dunia, tetapi bagiku yang sudah lama merantau ke negara asing dan jauh dari kehangatan keluarga, toko kue ini adalah salah satu tempat yang menurutku memiliki obat atas segala rasa sepi yang hampir membunuh hati.

Sejak satu tahun yang lalu semenjak tingginya tekanan pekerjaan membuat waktuku untuk mengingatkan jika akulah juga manusia dan butuh untuk beraktivitas normal, bersosialisasi, dan melakukan perjalanan agar memberikan kode pada tubuh untuk beristirahat, dan tempat ini adalah yang memberikan obat dari segala kerinduan tentang tanah air, tentang rumah, dan keluarga yang jauh di sana.

Sembilan minggu sudah ku kunjungi toko kue dengan waktu yang sama dan pesanan yang sama, seperti rumah yang terlalu akrab di sebut pembeli dan lebih pantas di sebut pelanggan, namun minggu ini aku tidak sempat berkunjung.

Duh hari yang lalu aku jatuh sakit, demam dan sedikit flu dan batuk, cuaca musim semi yang biasanya menjadi favorit kini enggan untuk aku rasakan.

Dingin menggigil dengan tubuh terbungkus lapisan selimut, mata merah karena uap panas dari suhu badan yang tinggi.

Lima tahun di jepang tidak membuatku terbiasa dengan rasa sepi yang benar-benar menyiksa, terbujur meringkuk di ranjang dengan harapan agar segera pulang ke tanah air memeluk ibu di rumah.

Mataku terpejam walaupun sedikit perih, kepalaku seakan akan meledak karena denyutan yang menyakitkan.

Dan satu minggu berlalu kondisiku tak jauh lebih baik dari sebelumnya dan beberapa hari masih sempatkan untuk bekerja berharap akan segera sembuh dengan sendirinya namun hari ini yabg awalnya berniat untuk kembali ke toko roti segera ku urungkan dan lebih berjalan ke rumah sakit, badanku menggigil karena hanya baju tipis yabg kukenakan.

Berjalan melewati toko roti yang kini ramai pengunjung, langkahku pelan berharap minggu depan akan segera datang dan aku kembali mengunjungi toko roti kesayanganku.

Wangi roti panggang membuat perutku merasa lapar setelah satu minggu tak bernafsu makan namun urusan ke rumah sakit harus segera aku tangani.

Dari dalam toko keluar pegawai yang biasanya menyapaku ketika aku baru masuk ke dalam toko, mata kami bertatapan sedikit senyuman aku sunggingkan sebelum pegawai itu pergi tanpa membalas senyumku.

"Apakah mereka marah karena aku tidak datang ke toko mereka selama dua kali?." Kepalaku tertunduk lesu, wajahku sedikit pucat dengan suhu badan yang tinggi, menghela nafas sebelum aku berniat berjalan kembali.

Namun sebuah suara berat namun terdengar lembut memanggil nama panggilan yang biasa ku pesan di toko roti.

"Haru~san."

Dariku OsakaWhere stories live. Discover now