1

48 16 2
                                        

Malam itu aku sedang mengemudi sendirian. Jalanan kota masih ramai oleh lampu kendaraan dan papan reklame yang menyala terang.

Musik NDX AKA mengalun dari speaker mobilku, tapi pikiranku justru sibuk memikirkan warna rambut apa yang bakal kupilih.

Aku hendak ke salon untuk mewarnai rambutku. Alasannya simpel, cuma biar cakep aja. Nggak ada konsep comeback, nggak ada pemotretan khusus, nggak ada tuntutan stylist. Murni kemauanku sendiri.

Apalagi aku adalah Aria, 20 tahun, bekerja di sebuah agensi sebagai member dari grup idol yang cukup terkenal, LITZ. Di grup itu aku bagian vokal utama. Banyak orang mengenalku karena suara tinggi dan stabilku di atas panggung.

Mungkin justru itu yang bikin aku ingin berubah sedikit. Selama ini aku selalu tampil sesuai arahan manajemen. Rambut hitam panjang, bergelombang, elegan. Image yang katanya cocok untuk seorang vokal utama. Anggun, dewasa, kalem. Padahal aslinya? Aku cuma cewek 20 tahun.

Setiap lampu merah yang kulewati memberi waktu tambahan untuk berpikir. Apa ini keputusan impulsif? Bisa jadi. Tapi rasanya menyenangkan melakukan sesuatu tanpa rapat, tanpa izin panjang, tanpa diskusi brand image.

Sampai akhirnya mobilku berhenti di depan sebuah salon kecantikan yang lampunya masih terang.

Begitu masuk, aroma hair spray dan sampo langsung menyambutku. Suara pengering rambut berdengung lembut di sudut ruangan.

"Aria?" panggil seseorang.

Itu Thea, temanku. Kami satu kampus, satu jurusan juga. Bedanya, dia lebih dulu terjun ke dunia kerja dan sekarang bekerja di salon ini.

"Mau potong rambut?" dia mendekat.

"Aku mau cat rambut," jawabku.

"Tumben. Duduk sini dulu." Dia langsung menyeringai.

Aku duduk di kursi depan cermin besar. Lampu-lampu kecil di sekelilingnya. Thea menyampirkan kain pelindung ke pundakku.

"Mau warna apa?" tanyanya sambil menyisir rambutku perlahan.

"Maybe pirang."

"Pirang?" Tangannya langsung berhenti.

"Yes, why? Cakep kan?"

"Aria, kamu vokal utama LITZ. Rambut kamu hitam panjang itu udah jadi ciri khas kamu. Kalau pirang, nanti kesannya terlalu drastis." Thea menatapku lewat pantulan cermin.

"Aku cuma pengin cakep aja."

"Cakep boleh, tapi jangan yang bikin cowok ilfeel. Aku rekomendasiin coklat. Dark brown atau chestnut."

Aku terdiam. Ada benarnya juga. Pirang memang kelihatan menarik, tapi mungkin terlalu ekstrem untukku saat ini.

"Coklat aja deh," akhirnya aku menyerah.

"Nah gitu. Percaya sama aku."

Aku menyandarkan punggungku, membiarkannya mulai mencampur pewarna. Bau kimia mulai tercium. Kupejamkan mata sejenak saat kuas pertama menyentuh rambutku.

"Udah lima tahun kamu jadi idol… kamu nggak pengen punya pacar gitu?" tanya Thea.

Aku membuka mata menatapnya lewat cermin. "Tiba-tiba banget nanyanya."

"Di sosmed tuh banyak idol-idol yang punya pacar. Ada yang go public, ada juga yang diem-diem. Kamu nggak kepikiran?"

Pacar ya.

Terakhir kali aku pacaran… enam tahun lalu. Waktu itu aku masih SMA. Masih pakai seragam putih abu-abu. Masih bisa pulang sekolah bareng.

Sejak debut, hidupku berubah total. Latihan, jadwal, kuliah yang harus diselipin di sela kesibukan. Waktu rasanya selalu kurang.

Lit ZWhere stories live. Discover now