Cita-citaku sesederhana ingin dimarahi saat telat bangun subuh, diingatkan mengenakan jaket saat udara pagi terlalu menggigit, atau menikmati masakan Ibu sepulang sekolah. Hal-hal kecil yang tak pernah jadi milikku selama ini.
Sejak lahir, aku hanya...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Ujian Nasional akhirnya usai. Segalanya terus berjalan begitu saja. Teman-temanku bersorak, mencoret-coret seragam dengan bolpoin dan spidol warna-warni, merayakan kebebasan dari belajar dan mengerjakan tugas. Sayangnya, aku merasa bersalah untuk ikut berbahagia saat hatiku sendiri masih penuh coretan.
Masa depan kami seharusnya baru dimulai, tetapi aku sama sekali tidak memikirkannya. Bagiku, semuanya bergantung pada keadaan Hafidz di ruang rawat inap. Lagi pula, aku tidak bisa ikut mencoret seragam, meminta pesan terakhir, atau tanda tangan dari teman satu angkatan, karena masih ada satu ujian lagi yang harus kulewati.
Hari ini adalah jadwal setoran hafalan terakhirku. Ini adalah syarat mutlak untuk mendapatkan ijazah program Tahfidz sekolah, sebuah target yang dulu mati-matian Hafidz kejar untuk melanjutkan pendidikannya.
Di atas karpet masjid, tepatnya di area shaf salat laki-laki, aku duduk bersila di hadapan Ustaz Utsman.
"Siap, Zahin?" tanya Ustaz Utsman lembut. Beliau tahu persis badai apa yang sedang berkecamuk di kepalaku. Aku mengangguk, menarik napas panjang.
"Hari ini juz 30 diselesaikan semua ya."
"Insyaallah, Ustaz. Saya mulai dari Surah Al-Fajr."
Mulutku mulai melafalkan ayat demi ayat. Di setiap jeda mengambil napas, pikiranku melayang ke Rumah Sakit. Suaraku mulai bergetar. Apalagi saat sampai pada ayat-ayat terakhir Surah Al-Fajr. Tenggorokanku tercekat.
"Ya ayyatuhan-nafsul muthmainnah..."
Wahai jiwa yang tenang...
Mataku terasa berair saat melafalkan ayat tersebut. Aku ingat cita-cita Hafidz. Menjadi mutqin 30 juz bukanlah tujuan terbesar yang ingin ia capai.
Cita-cita terbesarnya adalah mampu melafalkan Al-Qur'an dan memahami maknanya tanpa melihat terjemahan, serta membuat Ibu dan Papa bangga di dunia hingga kehidupan setelahnya.
Penghafal Al-Qur'an mana yang tidak ingin menghadiahkan mahkota kemuliaan bagi orang tuanya? Hadis yang begitu masyhur itu rasanya diketahui oleh setiap penghafal Al-Qur'an.
Sekarang, dia malah terbaring di sana. Bahkan untuk menelan ludah pun kesulitan.
Meski suaraku terputus-putus, Ustaz Utsman tidak menegurku. Beliau diam, membiarkan aku menyelesaikan sisa hafalan semampuku.
"Irji'i ila rabbiki radhiyatan mardhiyyah..."
Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha lagi diridhai-Nya...
Aku terisak ketika teringat maknanya. Bacaanku masih kuusahakan untuk tartil, meski bercampur dengan isak tangis yang tak bisa aku kontrol.
"Fadkhuli fi 'ibadi, wadkhuli jannati..."
Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.
Ustaz Utsman mengusap-usap pundakku. Tiba-tiba, ponsel di saku celanaku bergetar. Sekali. Dua kali. Perasaanku tidak enak.