Cita-citaku sesederhana ingin dimarahi saat telat bangun subuh, diingatkan mengenakan jaket saat udara pagi terlalu menggigit, atau menikmati masakan Ibu sepulang sekolah. Hal-hal kecil yang tak pernah jadi milikku selama ini.
Sejak lahir, aku hanya...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Malam-malam tanpa tidur mulai menerpa keluarga ini, terlebih setiap kali selesai kontrol dengan Dokter Baarid. Kami menjadi semakin putus asa, semakin melankolis. Tak pernah sekalipun penjelasan Dokter Baarid berisi kabar kemajuan. Telingaku masih waspada, terpasang seperti radar yang memindai setiap suara dari kamar bawah.
Benar saja, tiba-tiba suara pecahan kaca terdengar nyaring dari lantai bawah. Disusul teriakan histeris.
Prang.
"Pergi! Pergi kamu!"
Denyut nadiku bekerja lebih cepat. Aku melompat dari kasur, berlari menuruni dua anak tangga sekaligus, membuka pintu kamar Hafidz, lalu langsung menuju kamar mandinya.
Pemandangan di sana membuat napasku tercekat. Cermin wastafel sudah retak, ada bekas hantaman botol sampo yang kini tergeletak di lantai. Hafidz meringkuk di sudut kamar mandi, memeluk lututnya, tubuhnya gemetar. Wajahnya basah oleh air mata dan keringat dingin.
"Fidz! Astagfirullah, kamu kenapa?" Aku menunduk, mencoba menyentuh bahunya. Ibu dan Papa datang menyusul beberapa saat kemudian.
Hafidz menepis tanganku. Dia menunjuk ke arah cermin yang retak itu dengan jari gemetar. Matanya terbelalak penuh ketakutan.
"Ada orang jahat di situ! Dia ngeliatin aku terus! Matanya melotot!" teriaknya panik.
Aku menoleh ke cermin yang hanya tinggal sisa separuh.
"Fidz... itu kan cermin. Itu kamu. Itu bayangan kamu sendiri," jelas Ibu lembut, berusaha menenangkannya.
"Itu bukan aku! Aku nggak kayak gitu, Ma! Usir dia, Pa! Tolong usir dia!"
Dadaku sesak bukan main. Agnosia visualnya sudah mencapai tahap ini. Dia tidak lagi mengenali wajahnya sendiri. Konsep "aku" di kepalanya sudah luntur. Dia melihat refleksi dirinya sebagai orang asing, seorang penyusup yang mengancam teritori keamanannya.
Ibu menarik tubuh Hafidz yang kaku ke dalam pelukannya. Dia meronta sebentar, memukul-mukul tubuh Ibu, sebelum akhirnya menyerah dan menangis meraung-raung di bahunya.
"Udah, udah... Orang jahatnya udah pergi. Cerminnya udah pecah," bisik Ibu, mengelus punggungnya yang basah kuyup.
"Semua orang di sini nemenin kamu. Ada Zahin di sini. Ada Papa juga di sini."
Malam itu, kami tidur berempat di kamar Hafidz. Ibu menemani Hafidz di tempat tidur. Papa dan aku merebahkan diri di karpet bawah. Aku tidak berani memejamkan mata, takut Hafidz tiba-tiba terbangun dan meninggalkan kamar tanpa diketahui.
Tiga hari kemudian, ketakutanku semakin menjadi-jadi.
Pukul dua pagi, aku terbangun karena mendengar suara pintu depan dibuka paksa. Suara kunci diputar berkali-kali dengan tidak sabar.