We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

Prolog

4 1 0
                                        

Di sebuah desa di Jawa Barat, hiduplah seorang anak perempuan berusia tiga belas tahun bernama Arzum. Ia tinggal bersama ibu dan neneknya di sebuah rumah sederhana. Dengan tinggi sekitar 150 centimeter, kulit kuning langsat, rambut hitam legam yang panjang, serta sepasang gigi gingsul yang manis, Arzum sebenarnya tampak seperti gadis seusianya. Namun, ada satu hal yang membuatnya berbeda. Ia dikenal sebagai anak yang pendiam dan sulit bergaul. Bukan karena tidak ingin memiliki teman, melainkan setiap kali ia mencoba membuka diri, selalu saja ada jarak yang membuat orang lain enggan mendekat.

Hal itulah yang perlahan membentuk Arzum menjadi seorang gadis yang introvert. Ia lebih memilih diam, menundukkan kepala, dan menghindari perhatian orang lain. Bukan karena tidak ingin berteman, melainkan karena setiap kali mencoba mendekat, ia justru mendapat perlakuan yang menyakitkan.

Di sekolah, Arzum kerap menjadi sasaran perundungan. Penampilannya yang sederhana dan sikapnya yang pendiam membuat teman-temannya menganggapnya lemah. Ejekan demi ejekan terus menghampirinya. Tidak hanya itu, mereka juga sering mengolok-olok Arzum karena ia tumbuh tanpa sosok ayah. Kabar bahwa Arzum adalah anak yang lahir di luar pernikahan telah menyebar di sekolah maupun di lingkungan tempat tinggalnya. Sejak saat itu, cibiran dan tatapan sinis seolah menjadi bagian dari kehidupan yang harus ia hadapi setiap hari.

Arzum ingin sekali menceritakan kepada ibu dan neneknya bahwa ia selama ini menjadi korban perundungan di sekolah. Namun, setiap kali ingin mengungkapkannya, keberaniannya seakan menghilang. Kata-kata yang telah ia susun dalam benaknya selalu tertahan di ujung bibir.

Satu-satunya hal yang mampu ia sampaikan hanyalah keinginannya untuk pindah sekolah suatu hari nanti. Jauh di dalam lubuk hatinya, Arzum berharap bisa pergi ke tempat yang jauh, memulai kehidupan baru, dan meninggalkan semua kenangan pahit yang selama ini membebaninya.

Suatu sore sepulang sekolah, Arzum berjalan pulang seorang diri menyusuri jalan setapak yang membelah hamparan sawah. Langkahnya pelan, sementara pikirannya dipenuhi keinginan untuk pergi dari tempat yang selama ini hanya memberinya luka.

Angin berembus pelan, menerbangkan selembar brosur yang tersangkut di pagar bambu di pinggir jalan. Arzum menghentikan langkahnya dan mengambil kertas itu.

Di bagian depan tertera gambar sebuah pulau yang dikelilingi laut biru, dengan bangunan megah mirip seperti benteng bergaya kuno peninggalan belanda berdiri di sebuah pulau. Tepat di bawahnya tertulis,

"Akademi Anjani Nusantara. Membuka pendaftaran bagi calon siswa berbakat dari seluruh Indonesia."

Arzum mengernyit. Ia belum pernah mendengar nama sekolah itu.

Di balik brosur terdapat berbagai fasilitas yang terdengar terlalu indah untuk menjadi kenyataan: asrama gratis, biaya pendidikan penuh, perpustakaan terbesar, hingga kesempatan menjelajahi pulau-pulau yang belum pernah dipetakan.

Di bagian paling bawah, terdapat sebuah kalimat yang membuatnya berhenti bernapas sejenak.

"Tidak semua orang dapat menemukan brosur ini. Jika kau sedang membacanya, berarti kami telah menemukanmu."

Arzum menatap sekeliling. Jalan itu sepi. Tak ada siapa pun yang tampak kehilangan brosur tersebut.

Tanpa ia sadari, simbol berbentuk bulan sabit dengan kura-kura dan ikan pari yang tercetak di sudut brosur perlahan memancarkan cahaya redup.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, secercah harapan muncul di dalam hati Arzum. Mungkin... inilah jalan untuk meninggalkan kehidupan yang selama ini ingin ia tinggalkan.

Ia sama sekali tidak menyadari bahwa sekolah itu bukanlah sekolah biasa.

Akademi Anjani Nusantara hanya membuka pintunya bagi mereka yang memang dipilih.

ANJANI NUSANTARAStories to obsess over. Discover now