Panca Praba Nugroho

3 1 0
                                        

"Selamat kembali ke Bumi Pertiwi, Mouse."

Mouse memainkan ujung pistolnya dengan lihai ke sebuah sajian buah semangka di depannya, seolah keberadaan buah itu sendiri menyinggung lelaki berusia 25 tahun tersebut.

"Katakan target, dan tujuannya." Mouse berkata remeh seolah ini hanya misi-misi remeh yang sering ia bereskan.

Komandan badan intelejen yang menaungi Mouse tersenyum licik kemudian menyalakan proyektor dimana sebuah nama politisi terkenal tertera di papan putih. Background, nama anggota keluarga, total kekayaan serta berbagai bisnis baik legal dan ilegal pria itu tertera jelas di sana.

"Saya tidak akan memberimu batas waktu. Yang saya inginkan kau membekuk satu keluarga itu tanpa ampun, tanpa tersisa seorangpun." Jelas Budi lugas.

"Kerugian yang ditanggung negara karena bisnis pencucian uang mereka mencapai 600 Triliun."

Mouse bersiul mendengar nominal uang yang gila itu, bahkan seperti mimpi. Dompet mana yang mampu menampung semua uang uang itu? Butuh berapa kartu kredit?

"Pernah dengar istilah The Duryodhana Capital City?" Tanya Budi ( Owl ) menatap Mouse dengan eskpresi serius.

Mouse terkekeh geli. "Siapa? Tukang urut?" Tanya Mouse meremehkan

Gambar yang ditampilkan proyektor kini berganti, menampilkan nama-nama dengan marga yang sama membuat Mouse memicingkan matanya. Pria dengan tinggi tubuh 190 cm itu meluruskan kakinya di bawah meja dengan santai melihat informasi-informasi nama itu dengan seksama.

"Yang pertama, dan target utama kita-"

"Raden Tirta Wicaksono?" Gumam Mouse mencicipi nama asing itu di lidahnya. Terasa begitu pahit.

Owl menganguk. "Pendiri Wicaksono Grup, perusahaan yang bergerak di bidang ekspor impor bahan bakar minyak dan tembakau."

"Tak hanya itu, korupsi bahan bakar bensin, praktik perdagangan manusia, transaksi ilegal senjata di seluruh pulau, bisa di bilang dia dalang utama negri ini berkecimpung di dunia malam." Tambah Owl.

Kemudian profil berganti dengan wajah pria yang lebih agak muda dari yang pertama.

"Berikutnya ada Raden Bagus Wicaksono, Putra sulung Tirta Wicaksono. Terduga anggota kartel narkoba Italia yang membantu mereka menyelundupkan berton-ton Pil ke negri ini." Ujar Owl kemudian kembali menggeser ke profile wajah selanjutnya, kini agak tua mungkin seumuran Tirta.

"Agung Wicaksono, Adik dari Tirta Wicaksono yang kini menjabat sebagai gubenur Ibu Kota-"

Perkataan Owl kembali terputus oleh tawa Mouse yang mengejek. "Dinasti? Mereka benar-benar menata bisnis mereka dengan baik ya?" Gumam Mouse meraih sebuah belati dari saku celananya.

Owl mengangguk kemudian tangannya kembali berkutik di laptop membuat gambar yang ditampilkan proyektor kembali berganti dengan profile seorang wanita berumur kisaran paruh baya yang masih awet muda. Ratih Wicaksono.

"Tidak ada yang perlu kau khawatirkan olehnya, dia hanya ibu-ibu sosialita yang sering memerkan harta ke media sosial." Ujar Owl kembali menggeser ke Putri kedua The Wicaksono Family.

"Nimas Abigail Wicaksono, saat ini umurnya sama denganmu. Dia bekerja menjadi salah satu mentri luar negri untuk Saudi Arabia."

"Pantas saja bisnis minyak Ayahnya sangat lancar.." gumam Mouse.

Owl mengangguk. "Kita perlu sedikit berhati-hati dengannya."

Kemudian layar kembali berganti menampilkan remaja perempuan dengan rambut blondenya. Fitur wajahnya tampak tenang, tipikal gadis yang tidak akan neko-neko.

"Ini putri bungsu mereka, Nimas Ciara Wicaksono." Owl menatap Mouse sepenuhnya. Sedangkan Mouse?

Dia memainkan belati di dalam tangannya menatap wajah remaja perempuan itu dengan malas. Tanpa niat, tapi setiap misi yang diberikan untuk Mouse selalu berbuah manis. Mulai dari penyergapan penculikan anggota PBB di Irak, mengamanan pemimpin kartel narkoba di Mexico, dan misi meloloskan anggota Intelijen yang di tahan di sebuah penjara paling berbahaya di dunia.

"Tugasmu kali ini, memyusup masuk dengan cara menyamar menjadi siswa sekolah di sekolah elit dimana Ciara Wicaksono bersekolah. Cari semua informasi Tirta Wicaksono di sana karena yayasan sekolah itu juga milik keluarga Wicaksono." Ujar Owl melemparkan berbagai data data baru yang akan di gunakan Mouse.

Panca Praba Nugroho

Mouse menatap berbagai data baru yang akan digunakannya selama misi ini berjalan. Menyamar sebagai pria lugu di sebuah sekolah menengah tinggi dimana semua anak-anak konglomerat berkumpul, Lumayan menantang.

"Tergantung caramu mencari informasinya dengan cara apa. Mau kau merayu putri bungsu mereka atau kau yang mencari data-data wicaksono di sekolah itu kami tidak masalah dengan semua metodemu. Yang kami inginkan hanya seperti biasa. Hasil dari misi ini." Ujar Owl.

"Hanya menghancurkan keluarga ini kan?" Tanya Mouse ( Panca ) melemparkan belati yang sedari tadi bermain dengan lihai di telapak tangannyan ke papan putih yang masih menampilkan wajah Ciara Wicaksono dari cahaya proyektor. Belati itu menamcap sempurna di wajah lugu gadis itu.

Owl mengangguk. "Jika kau mati, Lily yang akan mengambil alih tugasmu."

Panca mendengus dan tertawa geli. "Langkahi dulu mayatku."

Setelahnya, pria muda itu menghilang bak di telan bumi.

...


Bunyi langkah kaki tenang menggema di sebuah lorong kosong putih namun megah. Sebuah flatshoes dari sebuah brand ternama menginjak lantai-lantai marmer itu dengan percaya diri. Sebuah jari lentik terulur di pinggiran pagar koridor yang gadis itu lewati. Bau rokok yang menyengat saat gadis itu masuk ke ruang kepala sekolah tercium sangat jelas tidak seharusnya berada di ruangan itu. Dimana tempat itu jelas bukan wewenang gadis remaja sepertinya.

Dengan santai, gadis berambut blonde berseragam sekolah khas itu duduk dengan santai di kursi dari balik meja kerja kepala sekolah tersebut. Rokok menyala panas di antara jari manis dan jari tengahnya.

"N-Nona...Ada yang bisa saya bantu?"

Gadis berambut blonde itu menghidup rokoknya dalam-dalam sebelum mengembuskannya ke udara, tepat di depan kepala sekolah yang berdiri tegak di depannya.

"Bu Susi, kapan anak baru itu akan masuk ke sekolah kita?" Mata coklat dengan bulu mata lentik itu menatap Susi dengan kalem.

"B-Besok, Nona...M-Murid baru itu akan masuk m-mulai besok."

Sebuah seringai muncul dari bibir pink gadis itu. "Menarik bukan?"

Susi yang mendengar nada ketertarikan dari gadis muda yang tengah duduk di kursi kerjanya itu segera merinding.

"Persiapkan diri anda, Bu. Saya punya pertunjukan baru.."

...

Undercover High SchoolStories to obsess over. Discover now