Di kediaman megah keluarga Phawira yang terletak di puncak perbukitan Jakarta yang eksklusif, pagi tidak pernah datang dengan kehangatan. Ia datang dengan bunyi denting perak yang beradu dengan porselen mahal, sebuah simfoni keteraturan yang dingin. Di balik dinding kaca setinggi langit-langit, matahari merayap masuk, menyinari debu-debu halus yang menari di udara seolah mereka adalah satu-satunya entitas yang bebas di sana.
Sakana Phawira, pemuda berusia delapan belas tahun itu, duduk di ujung meja makan yang panjangnya seolah mampu memisahkan dua benua. Kursinya ditarik sedikit lebih jauh, sebuah jarak yang tidak tertulis namun disepakati oleh semua orang di ruangan itu.
Saka adalah sebuah kontradiksi yang hidup. Ia memiliki rambut pirang pucat yang jatuh lembut menutupi keningnya, helai-helai halus yang menangkap cahaya matahari dan mengubahnya menjadi aura keemasan yang hampir suci, warisan genetik dari Joshua Petr Phawira, sang kepala keluarga. Kulitnya putih bersih, sehalus kelopak lili yang baru mekar, membungkus tubuh yang ramping dan ringkih. Jika ada seseorang yang melihatnya sekilas, mereka akan mengira Saka adalah mahakarya fashion terbaru dari label Phawira, sebuah personifikasi dari keindahan yang rapuh.
Namun, di meja itu, Saka hanyalah sebuah bayangan yang bernapas.
"Dad, koleksi Spring/Summer kita di Milan mendapat ulasan bintang lima dari Vogue," suara Aldara Zaef Phawira memecah kesunyian. Suaranya berat, penuh percaya diri, tipikal seorang penerus takhta. Di usia dua puluh empat tahun, Aldara atau yang biasa Saka panggil Kak Dara, adalah manifestasi dari kesempurnaan Phawira. Ia tajam, ia ambisius, dan ia memiliki garis rahang yang tegas tanpa cacat.
Joshua, sang ayah, mengangguk perlahan tanpa melepaskan pandangan dari tablet digitalnya. "Pastikan logistik untuk pengiriman kain sutra dari Lyon tidak terlambat lagi, Dara. Aku tidak ingin satu helai benang pun merusak reputasi kita."
"Tentu, Dad. Semuanya dalam kendali," jawab Dara singkat, lalu menyesap kopi hitamnya. Ia bahkan tidak melirik ke arah adiknya yang sedang berusaha memotong roti dengan gerakan sekecil mungkin agar tidak menimbulkan suara.
Viona Attala Phawira, sang ibu yang kecantikannya seolah dibekukan oleh waktu, duduk di sisi lain Joshua. Jemarinya yang ramping, dihiasi cincin berlian yang mampu menghidupi satu desa kecil selama setahun, bergerak anggun saat ia mengoleskan selai pada rotinya. Viona adalah kurator bagi citra keluarga ini. Baginya, kehidupan adalah sebuah panggung runway yang tidak boleh ada kesalahan di atasnya.
Dan Saka... Saka adalah kesalahan teknis dalam jahitan gaun yang paling indah.
Saka menunduk, manik matanya yang polos dan jernih menatap pantulan dirinya di atas piring kosong. Ia ingin menyapa. Ia ingin mengatakan sesuatu, sekadar menanyakan bagaimana tidur mereka semalam.
Namun, tenggorokannya terasa seolah tersumbat oleh debu. Ia tahu, di rumah ini, suaranya adalah frekuensi yang tidak ingin didengar.
Kondisi tubuhnya, sebuah variasi medis yang disebut Disorders of Sex Development, adalah rahasia yang dikubur lebih dalam dari fondasi rumah ini. Bagi Joshua yang memuja maskulinitas dan Viona yang memuja keanggunan wanita yang 'seharusnya', Saka adalah anomali. Ia memiliki kromosom XY, namun tubuhnya tumbuh dengan rahim dan tanpa testis yang fungsional. Ia adalah laki-laki yang membawa ruang kosong di dalam dirinya.
"Mom," bisik Saka sangat pelan, hampir tertelan bunyi denting sendok Viona.
Viona tidak menoleh. Ia hanya merapikan serbet di pangkuannya. "Saka, setelah sarapan, masuklah ke kamarmu. Ada tamu dari majalah bisnis yang akan datang memotret profil keluarga. Kau tahu prosedurnya, bukan?"
Dada Saka berdenyut. Sakitnya tidak tajam, melainkan tumpul dan menetap, seperti memar yang ditekan berulang kali. "Iya, Mom. Saka paham."
Prosedurnya selalu sama, Saka harus menghilang. Ia harus menjadi hantu di balik pintu kamar yang terkunci. Dalam foto keluarga Phawira yang tersebar di majalah-majalah kelas atas, hanya ada Joshua yang berwibawa, Viona yang mempesona, dan Aldara yang menjanjikan.
Mereka bertiga adalah segitiga emas yang sempurna. Saka adalah titik di luar garis yang harus dihapus agar estetikanya tidak berantakan.
"Jangan biarkan rambutmu berantakan seperti itu," tegur Joshua tiba-tiba, matanya akhirnya beralih dari tablet, namun bukan untuk memberikan kasih sayang, melainkan kritik. "Kau terlihat... terlalu lembut. Phawira tidak memelihara sesuatu yang lemah."
Saka refleks menyentuh rambut pirangnya yang halus. "Maaf, Dad."
Dara hanya mendengus kecil, sebuah suara yang sarat dengan cemoohan yang halus. Bagi Dara, Saka bukanlah seorang adik, melainkan beban reputasi. Saka bisa merasakan tatapan kakaknya yang seolah sedang menilai pakaian yang dikenakannya, sebuah sweter rajut berwarna krem yang menyembunyikan lekuk tubuhnya yang terlalu ramping.
Matahari kini sudah naik lebih tinggi, menyinari ruang makan itu dengan cahaya yang menyilaukan, namun bagi Saka, ruangan itu tetap terasa seperti gua es. Ia memperhatikan bagaimana ibunya tertawa kecil menanggapi lelucon cerdas Dara, dan bagaimana ayahnya memberikan tepukan bangga di bahu anak sulungnya.
Di sana, di antara aroma kopi mahal dan parfum desainer, Saka menyadari bahwa kehadirannya hanyalah sebuah kebisingan yang diredam. Ia adalah noda di atas kain sutra putih yang mahal. Ia mencintai mereka dengan cara yang menyedihkan, cara yang hanya diketahui oleh seseorang yang selalu kelaparan akan perhatian. Ia memuja ketegasan ayahnya, ia mengagumi kecantikan ibunya, dan ia selalu ingin menjadi sehebat Kak Dara.
Namun, bagi mereka, Saka hanyalah pengingat akan ketidaksempurnaan biologis yang merusak narasi keluarga ideal.
Saka bangkit dari kursinya dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah-olah jika ia bergerak terlalu cepat, ia akan pecah menjadi ribuan keping kaca.
"Saka permisi ke kamar, Dad, Mom, Kak Dara," ucapnya lembut.
Tidak ada jawaban. Joshua kembali ke dunianya yang penuh angka dan saham. Viona sedang sibuk memeriksa jadwal di ponselnya. Dan Dara... Dara hanya menatap lurus ke depan, mengabaikan eksistensi adiknya sepenuhnya.
Saka berjalan menaiki tangga marmer yang dingin. Setiap langkahnya terasa berat, seolah ia sedang menyeret beban yang tak terlihat. Sesampainya di depan pintu kamarnya yang terletak di ujung koridor paling sunyi, ia berhenti sejenak.
Ia mengelus daun pintu kayu ek yang tebal itu. Di dalam sana, ia akan menghabiskan waktu berjam-jam, ditemani oleh buku-buku dan imajinasinya sendiri, sementara di lantai bawah, keluarganya akan tersenyum di depan kamera, berpura-pura bahwa dunia mereka telah lengkap dan tanpa cela.
Saka masuk ke dalam kamarnya, menutup pintu dengan suara klik yang nyaris tak terdengar. Ia bersandar di balik pintu, memejamkan mata, dan membiarkan satu tetes air mata jatuh melewati pipinya yang halus. Di luar sana, angin berhembus pelan, menggoyangkan dahan-dahan pohon yang mulai meranggas, seolah memberi isyarat bahwa musim dingin yang sebenarnya, bukan hanya secara cuaca, tapi juga secara jiwa, akan segera menjemputnya.
Ia tidak tahu bahwa sebentar lagi, sebuah perjalanan ke tanah yang jauh akan mengubah takdirnya yang sunyi ini menjadi sesuatu yang jauh lebih gelap, sekaligus jauh lebih nyata.
---
YOU ARE READING
Faded Gold
General FictionDi balik kemilau industri fashion dunia, keluarga Phawira adalah definisi dari kesempurnaan yang mutlak. Namun, bagi mereka, Sakana Phawira adalah noda di atas kain sutra putih yang mahal. Terlahir dengan Swyer Syndrome, Saka adalah anomali, seorang...
